Bagaimana Kalau Aku Tidak Baik Baik Saja

Bagaimana Kalau Aku Tidak Baik Baik Saja
Cerita 14


__ADS_3

Jujur aku cemburu pada Rara, Bang, begitu setianya abang berambut gobel karena dia, padahal dia mungkin tak peduli lagi sama abang, buktnya dia tak pernah pulang, apakah abang yakin si Rara itu kenal lagi sama abang, aku yakin dia sudah lupa, di Jawa banyak cowok, dia putri dokter, pasti berpendidikan juga," kataku lagi seraya melihat suami, ternyata aku bicara sendiri. Pria jadul itu sudah tertidur. Sebel! Pikiran jahat tiba-tiba muncul di kepalaku, akan kepotong rambut gobel itu, aku cemburu, ternyata dia berambut seperti itu karena permintaan cewek, dua puluh tahun dia setia berambut seperti itu. "


" Wah, kesetiaan yang luar biasa. Aku berdiri dengan perlahan, kuambil gunting dan .... Sreekkk ...! Rambut gobel itu kepotong habis, Bang Parlin tidak terbangun sampai rambut bagian belakangnya habis. Aku pun tertidur. "Dekkk ...!" terdengar suara keras suami ketika subuh tiba. Saat itu dia masih di kamar mandi. Aku tahu apa yang akan terjadi, takut juga aku mendengar suara suami memanggil, akhirnya aku pura-pura tidur. "Dek, rambutku hilang," kata suami seraya mengguncang bahuku. Aku tetap diam. "Dek, rambutku, Dek." Ya, Allah, sesayang itukah dia pada rambutnya, atau sayang pada orang yang menyuruhnya berambut begitu?


" Isteri akan emoai jika suami masih ada dengan masa lalunya,benarkan Berlian?" ujar Casey.


" Jelaslah kesal,mau gimana lagi, kita usah menikah, masih juga dia tepati janjinya.Hati kita gak bisa memungkiri rasa cemburu,dan perih disini, " ujar Berlian menunjuk dadanya.


Suamiku Jadul


Bagian 13


"Dek, rambutku hilang, Dek," kata suami lagi, dia tampak panik. Badannya masih bersabun ketika membangunkan aku.


"Mungkin digigit tikus, Bang," kataku sekenanya.


"Mana mungkin, Dek."


"Mungkin si Rara sudah ikhlas, Bang," kataku lagi.


"Ini sudah dua puluh tahun, Dek, selalu kujaga tetap seperti ini," kata suami seraya memegang belakang kepalanya.


"Baik, Bang, aku ngaku aja, aku yang gunting, cemburu aku, Bang, ternyata Abang berambut seperti itu karena orang, cewek pula," kataku akhirnya.


"Adek kok gitu, sih, egois kamu, Dek." kata suami seraya kembali ke kamar mandi.


Wah, dia marah, baru kali ini kulihat suamiku marah. Secinta itukah dia sama Rara? Kudatangi Bang Parlin ke kamar mandi, dia masih menatap wajahnya di cermin.


"Maafkan Adek, Bang, Abang sih buat adek cemburu saja," kataku seraya memeluknya dari belakang.


"Perlu dua tahun biar tumbuh lagi ini," kata suami.


"Apa sih istimewanya rambut begitu? seandainya dikumpulkan orang satu dunia ini hanya Abang yang berambut begitu?" aku jadi kesal juga, kulepaskan pelukanku.


"Aku orang yang setia, Dek, orang yang tepati janji, aku janji pada seseorang akan memanjangkan rambut belakang sampai kami bertemu lagi, ini soal janji, Dek, janji itu harus ditepati, bukan soal cinta," kata Bang Parlin.


"Abang lebay jadi orang,"


"Lebay itu apa, Dek?"


"Gak tau," kataku seraya balik badan meninggalkan kamar mandi. Aku justru makin penasaran dengan sosok Rara ini, sampai suami setia menunggu begitu lama. Adakah pria begini, setia berambut kuno demi janjinya? Ah, suamiku memang langka, segala yang ada pada dirinya langka.

__ADS_1


Sampai siang harinya, Bang Parlin masih juga memegang belakang kepalanya, aku jadi merasa bersalah juga. Aku akan minta maaf untuk yang kedua kalinya.


"Bang!"


"Abang minta maaf ya, Dek," kata suami sebelum sempat aku minta maaf.


"Iya, Bang, adek juga minta maaf, ada kok obat penumbuh rambut biar cepat tumbuh," kataku kemudian.


"Udah, Dek, gak usah, biarlah, si Nunung juga udah dijual, kok, semua tak harus sama,"


"Si Nunung, apa hubungannya dengan si Nunung?" Tanyaku heran.


"Nunung itu sapinya si Rara, Dek, dia suruh Abang jaga."


"Oh ..."


"Dulu dia titipkan tiga hal, satu sapi, satu kucing, satu lagi ya, rambut ini, kucing sudah lama mati, Nunung terpaksa dijual karena sudah tua, rambut pun sudah dimakan cemburu," kata suami.


"Hahaha ... " tawaku lepas juga mendengar Bang Parlin bilang dimakan cemburu.


"Udah, Bang, aku bantu cari Rara," kataku akhirnya.


"Bagaimana caranya?"


Lalu kuambil foto kami berdua, sengaja kubuat terlihat mesra. Kuposting di Facebook dengan caption:


(Bagi yang kenal Rara, tolong sampaikan, ini Bang Parlindungan mau tepati janji)


Kubagikan ke beberapa grup Facebook, berharap dibaca si Rara ini, kasihan suami terus-terusan merasa berhutang.


Rumah orang tua yang sudah kami beli harus ditempati, tak mungkin dibiarkan kosong begitu. Kami sepakat pindah saja. Ketika sedang mengangkat barang tetangga datang.


"Mau pindah, Mbak Nia?" tanya tetangga ini.


"Iya, Bu,"


"Memang kontraknya sudah habis? kalian kan baru empat bulan di sini?" kata tetangga kepo ini lagi.


"Mau pindah ke rumah orang tua aja, Bu," jawabku lagi.


"Oh, iya, ya, orang tuanya baru meninggal ya,"

__ADS_1


"Iya, Bu, mari, Bu," pamitku kemudian.


Setelah semua kami angkat dan ketika kami menyusun barang, adik laki-lakiku yang paling bungsu datang.


"Kak, isi rumah ini juga harus dibagi?" katanya setelah basa-basi sedikit.


"Isinya?"


"Iya, kak, tempat tidur dua, sofa ini asli Jepara ini, vespa ayah lagi," kata adikku.


"Bagaimana membaginya, kita enam orang?" tanyaku lagi.


"Ya, belilah, Kak, uangnya kita bagi," kata adikku lagi.


"Iya nanti kita bicarakan, besok kita kumpul di sini," kataku akhirnya.


"Kasih saja mereka bagi semua, Dek, kita beli yang baru,' kata suami setelah adikku pergi.


Sebenarnya aku malu dengan sifat saudaraku ini, bahkan sofa pun minta dibagi, padahal rumah ini sudah kami hargai lebih, kami tambah dua puluh juta. Akan tetapi dari pada membuat pertengkaran kuiyakan saja permintaan mereka.


Besok harinya kami berkumpul lagi, kakak yang nomor dua tidak bisa hadir karena sudah pindah ke desa. Seperti biasa abangku yang tertua duluan yang bicara.


"Permintaan si Bungsu kita harus bagi isi rumah ini, jadi mari kita hitung bersama, baru dibeli Nia," kata Abangku.


"Boleh bicara?" suami yang angkat tangan.


"Boleh silakan,"


"Silakan kalian ambil saja semua, kosongkan dari sini, kami tak mau bayar," kata suami.


"Kok gitu, sombong sekali kau, Parlin," kata kakak ipar.


Aku juga heran, kenapa tiba-tiba suami perhitungan begini, bagaimana mereka bisa angkat semua, tentu butuh waktu menjualnya.


"Iya, perhitungan sekali kau?" sambung abangku.


🥰🥰🥰🥰🥰🥰


Jangan Lupa


Like

__ADS_1


Vote


Koment


__ADS_2