Bagaimana Kalau Aku Tidak Baik Baik Saja

Bagaimana Kalau Aku Tidak Baik Baik Saja
Cerita 7


__ADS_3

" Cerita lagi la Nia," ujar Casey.


" Teman sekolahmu tega kali ya."


" Ah,kalian kalau liat suami jadulkupun,kalian akan ejek aku."


" Ehhh,jangan judge dulu dong, ada tampang kami ngehina gitu Berlian , gak kan.Asal tahu aja ,kami juga orang kampung," ujar Dina.


" Kadang orang orang disini semua sok sokan orang kota,gak gahunya asal tembung, malu dikatain orang desa,padahal benar kan,orang deaa mana ada utang kartu kredit, kekeluargaannya lebih kental,kalau perta ,bagus kali ,akrab. masak sama sama, orang kota siapa lu siapa gue,benar kan", ujar Maya.


" Kadang liat orang kota, padahal rumah kredit, apa apa kredit,bertetangga sok kali, "ujar Casey.


" Gara gara parkir ,bisa bacok bacokan, gara gara parkir bisa adu mulut, nyari makan susah , berantemnya hebat, " ujar Hanum.


" Lanjut la wak, cerita mu tuhhh, nyaman kali awak sama suami rambo mu, nanti bawa la suami limited edition mu itu".


" Ahhh, banyak di kota pelakor,ku endapkan suami di rumah, biar cabut rumput aja kerjanya," ujar Berlian ngakak tertawa.


" Cerita wak ,cepetannnn", ujar Casey.


" Baiklah, aku bercerita," ujar Berlian .


" Dalam hati aku bersorak, mulut nyinyir saudara akan kubungkam, rumah besar akan kubeli, mobil pun akan kubeli. Akan tetapi bila kulakukan itu apa bedanya aku dengan mereka? mereka rela terjebak riba demi terlihat wah. "


" Lagi-lagi aku teringat perkataan suami, beli yang dibutuhkan saja, bukan yang diinginkan. Kami baru berdua, anak pun belum ada, rumah besar rasanya belum butuh, rumah yang kami tempati saja kamarnya sudah dua. Terus mobil? Apakah memang aku butuh? Bawa mobil saja aku tak pandai, entah dengan suami. "


"Udah, Bang, gak usah lagi, yang kita butuhkan hanya tempat berteduh, rumah ini sudah cukup," kataku pada suami.


"Benar, Dek? Abang gak terima bila adek dihina," kata suami lagi.


"Benar, Bang, gak usah," kataku kemudian.


Ada notifikasi dari WA lagi, kakak iparku kembali kirim pesan.


(Pilih-pilih tebu, akhirnya terpilih yang busuk)

__ADS_1


Ini untukku lagi, dia pasti sindir aku yang menurut mereka terlalu pemilih dalam hal jodoh, akhirnya dapat orang kampung. Coba ku abaikan saja.


"Jangan melayang karena dipuji-puji, Dek, jangan pula tumbang bila dihina," itu prinsip yang pernah dikatakan seseorang padaku. kata suami.


"Oh, iya, ya, Bang," kataku seraya mengetik di WAG keluarga.


(Tak akan tumbang karena hinaan, tak akan terbang karena pujian) tulisku kemudian.


(Hebat, itu baru kakakku) Balas adik perempuanku.


"Oh, ya, Bang, siapa yang bilang begitu sama Abang?" tanyaku kemudian.


"Seseorang, Dek, seseorang dari masa lalu."


"Wah, siapa dia?" entah kenapa aku cemburu suami bilang seseorang dari masa lalu.


"Udahlah, Dek, kubilang pun tak kenalnya adek itu," suami seperti mengalihkan pembicaraan.


Hari H pesta si Rapi tiba, aku ragu hendak pergi, akan kumpul nanti semua satu geng, kami ada sepuluh berteman mulai SMA, si Rapi inilah yang terakhir menikah.


"Gak, Bang, malas,"


"Gak baik gitu, Dek, diundang orang kita harus pergi,"


"Malas, Bang, temanku gak ada yang waras, nanti Abang diledek, aku gak bisa terima bila Abang yang dihina," kataku membalikkan ucapannya.


"Udah, aku mau dipermak, asal jangan rambut ini," kata suami.


"Benar, Bang?"


"Iya, benar,"


"Oke Abangku sayang, kita ke mall dulu ya, beli baju untuk Abang," kataku seraya memeluknya dari belakang.


Akhirnya kami ke mall, seperti biasa bila naik motor, aku yang bawa, kata suami dia gugup jalan di tempat ramai, ditambah dia gak punya SIM.

__ADS_1


"Dunia terbalik ya, istri yang pegang kemudi," celutuk tetangga sebelah rumah ketika kami hendak pergi.


Hanya kutanggapi dengan senyuman.


Ketika kami tiba di mall, yang terjadi justru sebaliknya, tadinya kami kemari mau beli baju untuk suami, akan tetapi akulah akhirnya yang beli baju dan sepatu. Ternyata untuk pakaian suami sangat pemilih, tak ada yang cocok katanya. Hingga akhirnya kami sampai di sebuah gerai pakaian.


"Itu baru cocok," kata suami seraya menunjuk pakaian cowboy.


Akhirnya kami beli celana jeans dan kameja kotak-kotak serta topi Cowboy untuk suami. Niat hati ingin mengubah kejadulan suami, yang terjadi malah makin jadul.


Akan tetapi ketika dia memakai pakaian itu, aku terpana melihatnya, dia tampak gagah dengan pakaian cowboy, yang jadi masalah kini rambut gobelnya. Aku menawarkan diri menyisir rambut gobel tersebut, ketika kuikat ke belakang, dia justru makin kelihatan gagah.


Akhirnya kami berangkat menuju pesta, pakaian kami terlihat kontras, aku memakai gamis, dia memakai pakaian cowboy


Begitu kami sampai di pesta tersebut, dugaanku tepat, semua teman sudah kumpul di sana dengan pasangan masing-masing.


"Lama hilang kau, Niyet, begitu muncul sudah bawa cowboy," celutuk temanku seraya memyalami kami.


"Kau merantau ke Amerika ya?" goda temanku yang lain.


Ketika waktu makan tiba, kulihat suami diam seraya melihat nasi di piringnya.


"Kok gak makan, Bang?" Tanyaku.


"Mana cuci tangannya?"


Duh, dasar suami jadul, pesta begini dia minta cuci tangan.


🥰🥰🥰🥰🥰


Jangan Lupa


Like


Vote

__ADS_1


Koment


__ADS_2