Bagaimana Kalau Aku Tidak Baik Baik Saja

Bagaimana Kalau Aku Tidak Baik Baik Saja
Cerita 11


__ADS_3

Apa sih susahnya bilang sawit Abang luas, sapi Abang banyak?" kataku seraya mengemudi.


"Abang kesal, Dek, belum tiga hari mereka sudah bicara warisan," kata suami.


"Iya, gak gitu juga kali, masa Abang bilang Abang ngepet?"


"Abang itu sesuai anggapan orang, bila dianggap orang Abang miskin, ya, miskin, dianggap orang kaya, ya, kaya."


"Abang aneh,"


"Ha, itu satu lagi, bila dianggap adek Abang aneh, ya, Aneh," kata suami.


Aku makin gemas saja.


Sampai di rumah aku masih terus mengomel, akan tetapi suami malah ngajak bercanda.

__ADS_1


"Jaga lilin ya, Dek, Abang pergi dulu cari uang," kata suami, kubalas dengan lemparan bantal.


"Jangan sampai lilinnya mati, ya, Dek," katanya lagi seraya menghidupkan lilin. Ini suami ternyata bisa juga bercanda, tuduhan orang pun dia buat sebagai candaan.


Tok ... tok ...


Terdengar suara ketukan di pintu diiringi suara salam dari seseorang. Segera kubuka pintu ternyata abang Ipar-suami dari kakakku yang datang. Saat itu suami masih memegang lilin candaannya.


"Ada apa, Bang, silakan masuk," kataku kemudian.


"Parlin, tolong dulu aku, aku sudah lelah dikejar utang terus, ajari dulu aku ngepet," katanya setelah duduk.


"Kakakmu banyak utang, Nia, di mana-mana utangnya berserak, makan pun jadinya tak enak, tidur tak bisa nyenyak, aku sudah putus asa," kata Abang iparku ini lagi.


Kulirik suami dia justru memegang mulutnya menahan tawa.

__ADS_1


Kulirik Bang Parlin, dia terlihat masih berusaha menahan tawa. Tak disangka suamiku yang pendiam ini bisa juga bercanda, candaannya juga tidak tanggung-tanggung, Ngepet. Apa yang akan kukatakan lagi? Abang ipar ini sepertinya serius, kasihan juga Abang iparku, kakakku memang terkenal tukang ngutang, bahkan sama almarhum ayah kami pun sudah sering utang. Semua demi gaya hidup. Mereka mencicil rumah di kawasan tergolong elit, akhirnya mereka jadi terlilit utang. Suaminya bekerja sebagai security, sedangkan kakakku dulunya guru honorer, akan tetapi sekarang tak mau mengajar lagi karena tak kunjung naik jadi ASN. "Aku sudah putus asa, Parlin, tak tahu mau bagaimana lagi, sekiranya dapat pun warisan itu masih kurang untuk bayar utang. Mulai dari koperasi, sampai pinjol," kata Abang iparku lagi. Terus kutatap Bang Parlin, menunggu apa yang akan dia katakan, dia justru menatap aku balik, kuangkat kedua bahu dan membuka kedua tangan tanda terserah. Apakah Bang Parlin akan jujur? Atau dia teruskan candaannya? "Sebenarnya bukan ngepet, Bang, tapi pedet," kata suami. "Pedet? maksudnya anak sapi gitu?" "Iya, Bang, sapi pedet bisa menghasilkan uang yang banyak," jawab suami.


Sementara aku terus menyimak pembicaraan mereka, baru ini kutahu pedet itu anak sapi. "Bagaimana caranya?" tanya Abang ipar. "Iya, mudah saja, pelihara sapi pedet sepuluh, dalam setahun utang kalian bisa lunas," kata suami. "Kok bisa gitu?" "Iya, bisalah, modal pedet hanya sekitar lima juta satu ekor, Abang besarkan selama setahun lebih, sudah bisa dijual enam belas juta. Untung sebelas juta satu sapi, kali sepuluh sudah seratus sepuluh juta, utangnya gak sampe segitu kan?" kata suami. Abang iparku menganggukkan kepala, dalam hati aku memuji suamiku ini. Ternyata bisa juga dia cari solusi. Ngepet dia pelesetkan jadi pedet.


"Tapi aku kerja, Parlin, lagian mana ada modal," kata Abang iparku lagi. "Bukan maksud menghina ya, Bang, tapi kerja satpam itu susah meningkatnya, sepuluh tahun Abang kerja paling jadi kepala satpam, tetap makan gaji, kalau pedet dalam sepuluh tahun Abang sudah bisa menggaji orang, terus sesuaikan pendapatan dengan keinginan serta kebutuhan, misalnya gaji hanya empat juta, ngicil rumah dua juta setengah, itu sama dengan mengikatkan tali ke leher kita," kata suami lagi. Aku kembali manggut-manggut, tak kusangka pria jadul ini bisa bicara seperti ini.


"Orang desa yang biasa bergelut dengan rumput tiba-tiba jadi penasehat. "Tapi sudah terlanjur dikredit, tujuh tahun lagi lunas," kata Abang ipar.


"Jual saja, uangnya bayar utang semua, sisanya untuk pedet, soal lahannya aku bisa cari," kata suami. "Dalam tujuh tahun Abang bisa beli rumah lebih dari itu, tak pusing mikirin utang," sambung suami lagi. "Terima kasih, Parlin, sungguh pembicaraan ini membuka mataku, jujur, aku sudah tersiksa kerja satpam ini, mikirin utang yang menggunung," kata Abang ipar seraya menyalami suamiku.


🥰🥰🥰🥰🥰🥰


Jangan lupa


Like

__ADS_1


Vote


Koment


__ADS_2