
" Yang perhitungan itu kalian, masa belum tiga hari sudah bicara warisan, sama tempat tidur pun kalian hitung, padahal sudah kami tambah harganya kemarin," kata suami.
Para saudaraku terdiam semua.
"Ingat pesan Ayah sebelum pergi hari itu, beliau bilang kita harus rukun, jangan saling iri," kata Bang Parlin lagi.
"Kita kan rukun, yang iri juga siapa? Orang kampung seperti kau mau diiriin?" kata kakak ipar.
"Udah, terserah kalian," kata Bang Parlin seraya pergi menjauhkan diri.
Ada apa dengan suamiku ini? Apakah karena rambutnya? aku lalu mendekati suami.
"Ada apa sih, Bang? gak biasanya sensi gini?"
"Maaf, Dek, entah kenapa pikiran Abang jadi begini, geram lihat mereka,"
"Biasanya kan Abang sabar,"
"Gak tau juga, Dek," jawab suami seraya memegang belakang kepalanya.
Duh, apakah karena rambut yang kupotong itu? sebentar sebentar dia memegang kepalanya bagian belakang. Dia seperti kehilangan, seperti bukan dirinya sendiri. Begitu berpengaruhkah rambut gobel itu.
Saudaraku akhirnya melelang semua barang di rumah itu, semua kosong, bahkan kompor gas pun ikut dijual, luar biasa, aku malu pada diri sendiri, malu punya saudara seperti mereka.
__ADS_1
Seminggu kemudian Ayah mertua datang, aku cukup terkejut juga, beliau datang bersama saudaranya yang Bang Parlin panggil "Bou" itu.
"Terima kasih, Maen, hebat kau, si Parlin akhirnya mau potong kuncir kuda itu," kata Ayah mertua begitu melihat rambut Bang Parlin.
"Hehe," aku hanya terseyum simpul, Ayah mertua malah memujiku, padahal butuh drama panjang rambutnya itu akhirnya terpotong.
"Kami datang mau antar hasil panen sawit, sekalian mau raun-raun," kata Ayah mertua lagi.
Ayah mertua lalu mengeluarkan uang tunai yang sangat banyak, tempatnya justru di tas kresek hitam. Aku terpana melihat uang yang banyak itu.
"Ini, Maen, setelah dipotong upah pekerja dan pupuk semua, ini hasilnya," kata Ayah mertua lagi.
"Kok samaku, Pak," kataku seraya melihat Bang Parlin dan Bou-nya.
"Dalam rumah tangga itu, istri menteri keuangannya, bendaharanya, sekaligus banknya," kata Ayah mertua.
"Udah, simpan, Dek," perintah suami. Dengan tangan masih gemetar, kuangkat tas kresek hitam berisi uang tersebut, kusimpan di bawah tempat tidur.
"Ini uang kontrakan rumah," kata Bou itu lagi, seraya memberikan uang.
Lah, aku bendahara, aku menteri keuangan.
Semua tertawa mendengar cerita Berlian.
__ADS_1
" Kau ada ada saja.Namun begitulah setiap daerah punya adat dan kebiasaan. Biar orang kampung, tetapi ahlak seseorang di tentukan pribadinya.Benar kan," ujar Hanum.
" Salut aku sama kamu Berlian, kamu sudah ke ikut sama bang Parlin solmed mu, pakai pakaian senam biasa aja ,naik kereta biasa aja,gak tahunya juragan."
" Eh kalian ber 4 ,jangan cerita sama siapa siapa. Kalian aku percayai sebagai teman yang gak mandang rumah aku gimana, aku hanya gak mau berbohong sama kalian, kalau aku bayarin kalian makan, kalian ketakutan aku traktir slow aja lah yah. di kasi suami jadulku uang buat aku jajan dan traktir temanku".
" Pengertian banget ya bang Parlin sama kamu Ber , banyak suami perhitungan kali sama isteri, pelitnya ampjn ampun."
" Eh suami pelit, apalagi sama isteri dan orangtuanya , rejekinya seret, " ujar Berlian.
" Eh kalian tahu Ita dia kalau temenan sama kita mau tahu kali rumah kita dimana ,mau liat gimana kekayaan kita , kepo kali, dia pakai segala cara nanya dan datang kerumah.Teman sama orang gitu aku tak sudi, berarti baeknya kalau dia liat kita berduit ,bukan mau ceritain orang. liat aku , jengkal kali si Ita itu loh," ujar Berlian.
" Don’t judge a book by its cover, istilah yang bermakna jangan menilai sesuatu hanya dari cover / bagian luarnya ," ujar Casey.
" Bertemanlah dengan teman ,tanpa embel embel mau liat mau dekat karena dia kaya atau apapun.Berteman biasa aja, lebih iklas ,lebih tulus ," ujar Maya.
" Dari dulu memang si Ita gitu amat, " ujar Casey.
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Jangan Lupa
Like
__ADS_1
Vote
Koment