Bagaimana Kalau Aku Tidak Baik Baik Saja

Bagaimana Kalau Aku Tidak Baik Baik Saja
cerita 10


__ADS_3

"APA YANG KITA CARI DARI HIDUP INI"


*Kita hidup di gunung merindukan pantai..


*Kita hidup di pantai merindukan gunung..


*Kalau kemarau kita tanya kapan hujan?


*Dimusim hujan kita tanya kapan kemarau?


*Diam di rumah, ingin pergi..


*Setelah pergi.. ingin pulang kerumah


*Waktu tenang.. cari keramaian


*Waktu ramai... cari ketenangan


*Ketika masih bujang mengeluh pengen nikah.


*Sudah berkeluarga mengeluh belum punya anak.


*Setelah punya anak, punya anak beratnya biaya hidup dan pendidikan.


Ternyata SESUATU itu tampak indah karena belum kita miliki.


Kapankah kebahagiaan didapatkan kalau kita hanya selalu memikirkan apa yang belum ada, tapi mengabaikan apa yang sudah kita miliki..


Jadilah pribadi yang selalu BERSYUKUR..


Dengan rahmat yang sudah kita miliki..


Bersyukurlah atas nafas yang sedang kita miliki..


Bersyukurlah atas keluarga yang masih kita miliki..


Bersyukurlah atas pekerjaan yang kita miliki..


Bersyukurlah dan selalu bersyukur di dalam segala hal.


" Baiklah, aku akan lanjut cerita panjang ku ,ucap Berlian tertawa terkekeh".


" Ini fiksi atau lenyataan sih, yang benar aja Ber", ujar Casey menaikturunkan alisnya.


" Aku bercerita ,yah kisah akulah, tapi ada kutambai dikit ,biar seru,kalian penasaran juga, "ujar Berlian ngakak.


" Nampak kali kamu penulis novel Berlian, seru kali ceritamu," ujar Maya.


" Kenapa pilihan sulit begini datang padaku? Aku tak ingin kehilangan suami juga tak ingin kehilangan saudara. Ini hanya salah paham. Akan tetapi para saudaraku sepertinya sudah emosi. Bang Parlin pun untuk pertama kali kulihat dia emosi. "

__ADS_1


"Ayo, Dek!" kata suami lagi, tangannya masih terulur.


"Maafkan aku, Kak, Bang, adikku semua, aku pergi," kataku akhirnya. Kuraih tangan Bang Parlin, kami pun pergi.


"Aku merasa bersalah, Dek, ayo kita kembali, biar kujelaskan semua," kata suami ketika kami sudah di atas motor.


"Percuma Bang, mereka memang benci Abang," kataku kemudian.


"Kok benci Abang, emang Abang salah apa?"


"Pas kita dijodohkan pun abang dan kakakku gak setuju."


"Biar Abang minta maaf sama mereka, Dek,"


"Lo, Abang kan gak salah?"


"Minta maaf demi keutuhan keluarga, Dek,"


"Udah, gak usah, Bang, nanti mereka makin melanjuk, Adek juga gak tega kalau Abang terus dihina," kataku kemudian.


Kami pun pulang ...


Kami tetap datang tahlilan, aku antar suami malam hari, biarpun tak mereka tegur, kami tetap datang. Hingga malam kedua, adikku yang paling bungsu bicara pada kami.


"Kata Abang habis tahlilan nanti jangan langsung pulang dulu, kita musyawarah," kata adikku tersebut.


Aku dan suami menurut saja, setelah semua orang pulang, kami pun berkumpul di ruang tengah.


"Urusan dana kalian lah dulu yang lumayan itu," langsung disambut kakakku yang nomor dua.


"Kamipun lagi susah, tambah lagi ini bulan tua," kata adikku.


Aku dan suami tetap diam, ingin rasanya aku membantu, tapi takut mereka tuduh pula uang ngepet.


"Jadi bagaimana? kita tiadakan saja?" kata Abang tertua.


"Emangnya uang kemalangan tidak ada?" aku akhirnya bicara juga.


"Ada, tapi kan sudah habis untuk biaya ini dan itu," jawab adikku.


"Berapa yang dibutuhkan?" tanya suami.


"Kan udah dibilang, sekitar dua juta," jawab kakakku.


"Kami talangi semua, ambil duitnya, Dek, uangmu bikin, nanti uangku dikira pula hasil ngepet," kata suami.


Semua terdiam, aku keluar untuk mengambil uang ke ATM, kali ini aku pakai ATM-ku, karena uangku juga masih ada, ditambah lagi kalau uang sapi itu sudah masuk.


Aku terkejut melihat saldo ATM-ku, kukira uang sapi itu hanya sekitar dua puluh juta, ternyata saldoku sudah tujuh puluh juta, seumur hidup belum pernah aku punya uang segitu. Aku ambil seperlunya saja, dua juta sesuai permintaan mereka. Aku kembali dan memberikan uang tersebut pada abangku yang tertua.

__ADS_1


"Satu lagi, kebetulan kita semua di sini, aku ingin bicara perihal warisan, seperti kita tahu, warisan orang tua kita hanya rumah ini, jadi biar bisa dibagi, kita jual saja, taksiranku rumah ini laku tiga ratus juta, kita bagi sesuai kebiasaan saja, yang laki-laki dapat tujuh puluh juta seorang yang perempuan dapat tiga puluh juta" kata Abang tertua.


"Aku gak setuju rumah ini dijual, banyak kenangan di sini," kata adik perempuanku.


"Jadi bagaimana, kan gak mungkin kita belah membaginya?"


"Biarkan saja di sini, siapa yang mau tinggal boleh," kata adikku lagi.


"Tapi kami lagi butuh uang ini," sambung adik iparku.


"Udah, aku yang beli, tapi dua ratus juta, itupun uangnya dua bulan lagi," kata kakakku.


Aku kenal kakakku ini, dia tukang ngutang, uangku pun sudah sering dia utang dan tak pernah dibayar. Dugaanku dia mau gadaikan rumah ini dulu baru uang gadainya dia kasih kami bagi.


Suami lalu berbisik ke telingaku, "bilang kita yang beli," bisik suami.


'Kenapa bukan abang yang bilang," jawabku sambil berbisik.


"Ini rumah kalian, Abang gak boleh ikut campur," kata suami masih dengan berbisik.


"Baik, kami yang bayar tiga ratus juta," kataku kemudian.


"Tunai?" tanya kakak iparku.


"Ya, tunai,"


"Dari mana pula kalian ambil uang segitu?" kakak ipar ini memang bicaranya selalu merendahkan.


"Mudah saja, aku ngepet dulu malam ini, besok pagi sudah ada uangnya, kami tambah jadi tiga ratus dua puluh juta." suami tiba-tiba bicara membuat semua mata melihat ke arahnya. Kucubit paha suami, gemas juga, dianggap orang dia miskin, dia terima, dianggap orang dia ngepet malah dia iyakan.


"Bagaimana? kalau ditunggu sampai laku, bisa sebulan, dua bulan, bahkan bisa tahunan, dijual cepat pasti murah, sementara kalian butuh uang, jadi aku ngepet saja, urusan dosanya biar aku yang tanggung," kata suami lagi.


Semua terdiam.


"Baik, kita sepakati, tapi harus besok pagi uangnya," kata abang yang tertua.


"Pagi sekali tidak bisa, karena siang dulu baru bisa kembali jadi orang," kata suami lagi. Aku makin gemas, kucubit pahanya makin keras.


"Aduh!" Bang Parlin akhirnya mengaduh juga.


Rapat ditutup, kamipun pulang, dalam perjalanan pulang kuomeli suami habis-habisan.


🥰🥰🥰🥰🥰🥰


Jangan lupa


Like


Vote

__ADS_1


Koment


__ADS_2