
Baru kali ini suami tertawa lepas begitu, dia orang yang jarang tertawa betul kata kakakku bagi orang yang belum kenal dia orang akan mengira suamiku yang aneh-aneh.
"Aku tetap pengen, Bang," kataku lagi.
"Ya, udah, nanti kita ke sana, sekarang kita masih bulan madu," kata suami seraya melirikku nakal.
"Dah tiga bulan, masih bulan madu?" kataku sambil mencubit pinggangnya pelan.
"Iya, Dek, sebenarnya Abang ingin selamanya bulan madu, sudah lelah Abang yang kerja itu dua puluh tahun sudah, Abang ingin menikmati hidup dulu, ingin melihat dunia yang luas ini," kata suami.
"Emang bisa, Bang, selamanya bulan madu, gak diurus rupanya kebun dan sapi itu?"
"Orang yang urus, Dek, kita hanya terima hasil setahun sekali, panen lembu hanya Idul adha saja."
"Sawit?"
"Oh, itu Ayah yang urus, biar sudah tua Ayah masih sanggup urus."
"Bagaimana penghasilan sapi ini, Bang?" entah kenapa aku ingin tahu banyak.
"Begini, Dek, sapinya dibesarkan di lahan kita, pekerja dapat setengah, kita setengah, satu keluarga paling bisa urus sapi empat puluh, maksimal itu, bila sapinya beranak, bagi dua."
"Penghasilannya berapa setahun?"
"Tergantung, Dek, satu sapi betina beranak satu kali dalam satu tahun, kita memakai dua sistem, penggemukan dan pembibitan. Bila penggemukan, sapi bakalan dibeli dan dibesarkan di lahan sawit itu, setelah satu tahun baru dijual, keuntungan dari satu sapi penggemukan kira-kira sepuluh juta satu tahun, tergantung sapinya, bagi dua sama pekerja, jadi kita dapat lima juta, selama ini Abang yang kerjakan sendiri, sekarang abang sudah lelah, ingin menikmati hidup, capek kawinkan sapi terus, diri sendiri tidak kawin."
Aku mulai menghitung keuntungan, satu sapi lima juta, kali dua ratus sapi, dua ratus juta setahun, bagi dua belas bulan kira-kira lima belas juta sebulan. Itu baru dari penggemukan, ada lagi katanya pembibitan Wah, hebat suamiku, dia bergaji lima belas juta hanya duduk ongkang kaki di rumah.
"Kenapa Abang lama kawin?" tanyaku lagi.
Aneh memang kami bila dipikir-pikir, setelah tiga bulan menikah baru mulai ada komunikasi, mungkin ini yang dikatakan orang pacaran setelah menikah, saling mengenal pribadi pasangan setelah menikah.
"Gak ada yang mau, Dek, gak ada cewek yang mau sama tukang sapi, keahlianku hanya mengawinkan sapi, hingga lupa diri sendiri, udahlah, Dek, gak usah bahas itu, pokoknya kita bahagia, gak perlu kerja."
Pembicaraan kami terhenti karena ada tamu datang, ternyata si Rapi yang datang.
"Gimana sih kau, Niyet, ditelepon gak diangkat, di-Wa gak dibaca, kirain kau sudah pindah ke kutub utara?" kata Rapi begitu dia buka helm.
Aku baru ingat, HP-ku kuletak di kamar, entah kenapa aku jadi terikut suami tak pegang HP.
"Emang ngapain kau cari aku, Rapet?"
"Ini nih, ngantar undangan, aku gak kayak kau, kawin gak undang teman," kata Rapi seraya memberikan undangan.
"Wah, laku juganya kau, ya, Rapet,"
__ADS_1
"Ya, iyalah, datang kau ya, sekalian kita reuni, ajak si Rambo ini," kata Rapi sebelum dia akhirnya pergi.
Wah, reuni? Apa nanti kata teman satu gengku bila melihat suamiku yang jadul ini?
Rumah tanggaku jadi aneh, setidaknya begitu kata orang, kami lakukan semuanya bersama, belanja bersama, makan bersama-sama, bahkan mandi dan nyuci pun kami selalu bersama. Bersama suami aku mulai bisa mengurangi ketergantungan gatget, jadulnya seperti menular padaku. Kegiatan suami hanya mengurus ayam jago tiga ekor.
"Pagi, Mas, gak pergi kerja?" kudengar tetangga sebelah menyapa suamiku. Saat itu aku lagi nonton TV, sedangkan suami di luar menyapu halaman.
"Pagi juga, Mbak," jawab suami.
"Gak kerja, Mas?" tanyanya lagi.
"Ini lagi kerja," jawab suami.
"Eh, Mbak Nia, maaf ya, bukannya mau kepo, tapi cuma heran memang suaminya gak kerja?" tanyanya lagi, ketika aku keluar. Eh, ini tetangga katanya gak kepo, tapi kepo juga.
Aku tak tahu harus jawab apa, mungkin mereka sudah heran, suamiku selalu di rumah tiap hari. Gak pernah pergi ke mana-mana, kalau pergi kami selalu berdua.
"Lagi nganggur," jawabku akhirnya.
"Oh, kasihan sekali ya, nanti kutanya suami mana tau ada lowongan," kata tetangga ini.
Tetangga mulai banyak bertanya, penampilan suami yang seperti tukang kebun ditambah lagi rambut gobelnya membuat para tetangga menggunjing. Sering sampai terdengar telinga Ini mereka membicarakan suamiku.
"Bang, kita tak bisa begini terus berhentilah pura-pura miskin," kataku pada suami.
"Kita pergi aja tiap hari, Bang, biar dikira tetangga pergi kerja,"
"Itu baru pura-pura, Dek,"
Ah, susah memang ngomong sama suamiku ini, dia bisa saja tenang jadi pembicaraan orang, dia tak peduli orang berkata apa. Pernah tetangga nyindir suami.
"Jadi laki gak tanggung jawab, kerjanya cuma ngurus ayam,"
Suamiku hanya membalasnya dengan senyuman. Ingin rasanya kubungkam mulut tetangga ini, tapi suami selalu melarang.
"Biar saja dianggap orang miskin, Dek, daripada dianggap kaya," begitu selalu kata suami.
Padahal di luaran sana banyak orang berlomba-lomba supaya dianggap kaya, nyicil mobil, nyicil motor, HP canggih.
Suatu hari aku panas melihat pesan kakak ipar di grup WA keluarga. Dia tulis begini;
(Hasil dari jaga lilin tak akan berkah, lihat saja rumah saja ngontrak, dikasih rumah kredit gak mau)
Aku tahu pesan itu ditujukan untukku.
__ADS_1
(Bukan jaga lilin, tapi miara bocil, botak cilik)
Sambung istri dari adikku.
Aku makin panas, aku berteriak memanggil suami.
"Banggg ...!"
"Apa sih, Dek?"
.
"Aku lelah selalu dihina, saudara sendiri pun menghina, aku mau tunjukkan pada mereka suamiku punya rumah, rumah itu hanya sepuluh sapi," kataku pada suami.
"Duh, ada apa, sih, Dek, yang hina siapa, kapan, perasaan kita gak ke mana-mana hari ini,"
"Di WA group keluarga, Bang," kataku.
"WA group itu apa?"
Duh, aku lupa suamiku berasal dari tahun delapan puluhan.
Ini, Bang, ini," kataku seraya menunjukkan HP-ku.
"Wah, menggosip pun bisa lewat HP ya," kata suami.
"Suami gak peka, gak ngerti perasaan istri," kataku seraya membalikkan badan.
"Aku juga manusia, Bang, sedikit pamer itu sudah kodrat manusia, ini tahun dua ribuan, bukan delapan puluhan," omelku lagi.
Saudara yang menghinaku, suami yang kumarahi.
"Udah, Dek, kita beli rumah dan mobil, telepon Bank, kita cairkan uang kita, bila kurang kita jual sapi," kata suami.
Ternyata ini kelemahan suami, dia tak terima bila istrinya yang dihina. Ah, aku makin cinta pada lelaki jadul ini.
Casey, Dina dan Maya pun tertawa dengan cerita Berlian alias Niaπ€π€π€π€.
πππππ
Jangan Lupa
Like
Vote
__ADS_1
Koment