Bagaimana Kalau Aku Tidak Baik Baik Saja

Bagaimana Kalau Aku Tidak Baik Baik Saja
Cerita 12


__ADS_3

Setelah Abang itu pulang, kutatap suami dengan pandangan penuh selidik, entah kerasukannya suamiku ini, tiba-tiba bisa jadi motivator hebat. "Apa tengok-tengok, Dek?" "Ini masih Bang Parlindungan Siregar kan?" kataku seraya mendekatkan wajah ke wajahnya. "Bukan, ini Ardi Bakrie suaminya Nia Ramadani," kata suami seraya menaik-turunkan alisnya. "Abang bikin adek gemas aja," kataku seraya mencubit kedua pipinya. Kami habiskan malam dengan canda dan tawa, aku jadi lupa akan kesedihanku yang baru ditinggal Ayah. Teringat pesan terakhir almarhum ayah, beliau bilang supaya kami rukun, jan saling iri. Akan tetapi tampaknya ini berat. Saudara tentu saja akan iri bila tahu suamiku seorang milyarder. Dari semua saudara, aku hanya cocok dengan Ria, adik perempuanku.


Hanya dia yang mau bela aku bila dopojokkan saudara yang lain. Keesokan harinya kami ke rumah orang tua, setelah sebelumnya mencairkan uang tiga ratus juta, untuk membayar rumah tersebut. ada acara tahlilan ketiga malam harinya, tentu saja kami akan masak. Ketika kami sedang sibuk di dapur, kakakku datang, suaminya tidak ikut, dia terlambat mungkin, akan tetapi begitu datang, bukannya membantu, malah marah-marah pada Bang Parlin.


"Hei, Parlin, kau apakan suamiku, kau yang nganggur kau ajak orang nganggur, gara-gara kau gak mau dia kerja lagi, dia sudah mengajukan surat pengunduran diri," kata kakakku. "Gak ada kuapain, Kak, dia minta diajari pedet," jawab suami. "Pedet? apaan itu," kakak Ipar--istri dari Abang tertua ikut bicara. "Sodaranya ngepet, cara jitu dapat uang," aku yang menjawab. Para saudaraku tampak bingung, kakakku menarik tanganku menjauh dari orang ramai. "Nia, abangmu seketika berubah, dia tak mau kerja, rumah pun mau dia jual over kredit, mau pindah ke kampung katanya, padahal kusuruh dia ke rumah kalian belajar ngepet, malah berhenti kerja,".

__ADS_1


"Turuti saja apa kata Abang, bila dia jual rumah, biarkan, dari pada hidup tak tenang," kataku. "Aku akan jadi orang kampung," kata kakak, raut wajahnya tampak sedih. "Orang kampung itu bukan sesuatu yang memalukan, Kak, aku sudah ke sana, pekerjaan paling mulia itu petani," kataku lagi. "Entahlah, Nia, abangmu ancam menceraikan aku bila aku tak menurut," kata Kakak lagi. Dih, ternyata sampai segitu seriusnya Abang iparku itu. Perkataan Bang Parlin ternyata benar-benar membuka matanya. Malam harinya ketika tahlilan diadakan, hujan gerimis turun, entah karena apa, orang yang biasa membaca doa tidak datang. Ada empat orang yang biasa bawa doa, akan tetapi kebetulan tak ada yang datang. Para tamu saling suruh, tak ada yang baca doa lalu seorang pria berkata.


"Ustaz kita tak ada yang datang, jadi untuk baca doa sebaiknya tuan rumah saja," kata pria itu. Semua mata lalu mengarah ke abangku, sebagai yang lebih tua dia kami harap bisa bawa doa, akan tetapi dia malah menyruh adikku, adikku menyuruh adiknya lagi. Tak ada ternyata keluargaku yang bisa baca doa, malunya kami. Akan tetapi suami menyelamatkan muka kami, dia raih mikropon, lalu mulai baca doa. Ya, Allah, ternyata suamiku bisa, suaranya juga merdu. Tak kusangka, sungguh tak kuduga, ternyata dibalik rambut gobelnya dia menyimpan otak yang cemerlang. Aku sampai menangis ketika suami menyebut nama ayah di dalam doanya. Abang Gobel, kau selalu membuat aku meleleh.


Jangan Lupa

__ADS_1


Like


Vote


Koment

__ADS_1


__ADS_2