Balas Dendam Istri Yang Dikhianati

Balas Dendam Istri Yang Dikhianati
39


__ADS_3

Setelah memuaskan rasa harusnya, Melinda kemudian mengambil barang-barangnya dan hendak meninggalkan apartemen itu ketika dia mendengar suara hujan dan gemuruh yang melanda ibukota.


Perempuan itu menghentikan langkahnya yang hendak membuka pintu apartemen, lalu dia pergi ke jendela dan melihat hujan badai yang ada di luar.


"Hah,, Kenapa waktunya pas sekali?" Kata perempuan itu sembari menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu dia berjalan ke arah TV dan menyalakan tv.


"Hujan badai sedang terjadi dan melanda seluruh bagian ibukota, diharapkan kepada semua orang agar tetap berada dalam rumah karena diperkirakan akan terjadi badai yang sangat besar yang berbahaya jika berada di luar." Seorang pembawa berita berbicara dari TV membuat Melinda dengan kesal menekan tombol off pada remote.


"Hah,,, benar-benar sial!!!" Gerutu Melinda lalu perempuan itu duduk di sofa sembari menunggu hujan reda agar dia bisa keluar dari apartemen itu.


Beberapa kali dia tertidur lalu terbangun lagi dan melihat cuaca, sama sekali tidak ada perubahan, jadi perempuan itu kembali duduk di sofa dan akhirnya benar-benar ketiduran karena sudah merasa sangat lelah.


Pada dini hari sekitar pukul 4, pria yang terlelap di kamar akhirnya membuka matanya lalu pria itu duduk sembari memikirkan Bagaimana caranya dia bisa pulang ke rumahnya sendiri.

__ADS_1


"Hah,,," pria itu menghela nafas meraih ponselnya yang terletak di nangkas lalu dia menyalakan ponsel itu dan melihat riwayat panggilannya pada Melinda.


"Apa ini?" Ucap pria itu merasa sangat terkejut lalu dia melihat berapa lama panggilan itu, ada sekitar 2 menit tetapi dia sama sekali tidak ingat apa yang ia bicarakan dengan memindah.


"Astaga!!" Pria itu menjambak rambutnya sendiri ketika dia mengingat bahwa setiap kali dia mabuk, ada banyak sekali rahasia yang akan keluar dari mulutnya.


Rasa pening pada kepala Dilan langsung menghilang lalu pria itu turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi membasuh wajahnya.


'Lalu Siapa yang membawaku dari bar kemari?' ucap pria itu dalam hati yang merasa begitu aneh Jika dia sudah tiba di apartemennya.


Namun dia menghentikan langkahnya ketika dia melihat di sofa depan TV, seorang perempuan sedang tertidur dalam posisi duduk sambil memeluk lututnya.


Terlihat sekali perempuan itu sedang kedinginan.

__ADS_1


'Kenapa dia di sini?' ucap Dilan dalam hati memandangi Melinda yang masih tertidur lelap.


Namun beberapa detik kemudian, dia menyadarkan dirinya sendiri lalu pria itu berdiri menghampiri Melinda dan dengan lembut membawa Melinda kegendongannya.


'Jangan-jangan, yang kemarin membawaku dari bar sampai ke tempat ini ialah Melinda?' ucap Dilan dalam hati kini menelan air liurnya, lalu dia terus membawa perempuan itu ke kamarnya dan menyelimuti perempuan itu dengan hangat.


'Jangan-jangan kemarin aku tanpa sadar meneleponnya dan menyuruhnya datang ke bar?' Dilan memejamkan matanya sembari memijat keningnya, berusaha mengingat apa yang terjadi kemarin malam, tapi seberapa keras pun dia berusaha mengingatnya, dia sama sekali tidak ingat.


Jadi pria itu segera keluar dari kamar dan pergi ke dapur mendapatkan beberapa botol air putih untuk meredakan rasa hausnya dan berharap supaya rasa mabuknya segera hilang.


Setelah dia merasa baikan, pria itu kemudian merasa bahwa dia harus memasak sesuatu agar ketika Melinda bangun perempuan itu bisa langsung sarapan.


"Pokoknya nanti, aku harus menanyakan apa yang sudah terjadi, hah,,,!" Ucap Dilan sembari menghembuskan nafasnya dengan kasar merutuki kebodohannya.

__ADS_1


Seandainya kemarin dia tidak terlalu galau memikirkan Melinda yang pergi bersama Niko, maka dia tidak akan pergi ke bar dan menghabiskan begitu banyak minuman.


"Tapi,, kemarin malam dia pergi ke rumah calon suaminya, tapi bagaimana bisa dia berakhir berada di rumahku? Apakah demi membantuku dia meninggalkan pertemuannya dengan keluarga calon suaminya?" Ucap Dilan entah kenapa hatinya terasa agak lega memikirkan hal itu.


__ADS_2