Balas Dendam Istri Yang Dikhianati

Balas Dendam Istri Yang Dikhianati
80.


__ADS_3

Setelah kembali dari pulau, Melinda sangat terkejut ketika mereka sudah dijemput oleh sebuah mobil yang di dalamnya ternyata ada Ruben yang menunggu mereka.


"Ayah," ucap Melinda yang sangat terkejut ketika dia masuk ke dalam mobil dan melihat pria itu sudah tersenyum ke arahnya.


"Kalian pasti sangat lelah, kita akan pergi untuk makan siang bersama," ucap pria itu mengejutkan dua orang yang menganggap bahwa saat itu Ruben masih berada di rumah sakit.


Jadi mereka sangat terkejut ketika malah bertemu Ruben di tempat itu.


"Aku pikir Ayah masih berada di rumah sakit," ucap Dilan.


"Hm,, aku sudah sembuh berkat rasa bahagiaku yang mengetahui bahwa aku akan memiliki seorang menantu yang cantik. Jadi hari ini kita akan kembali ke rumah untuk makan siang bersama karena calon ibu kalian sudah memasak di rumah untuk makan siang kita bersama." Ucap Ruben langsung membuat Melinda menatap Dilan karena dia tahu bahwa pria itu benar-benar tidak menyukai perempuan yang bernama Vivin itu.


"Hm," jawab Dilan dengan singkat langsung membuat suasana menjadi canggung karena nada suara pria itu benar-benar memperlihatkan bahwa dia tidak menyukai Vivin.


Ruben yang melihat itu hanya bisa tersenyum dan berkata, "kau tidak boleh menunjukkan ketidaksukaanmu di depan Vivin, dia itu perempuan yang sangat baik. Aku bahkan berencana untuk membelikannya sebuah rumah baru supaya anaknya bisa tinggal di sana, tetapi dia mati-matian menolaknya. Hah,,, sangat jarang ada perempuan seperti Vivin di dunia ini, tapi untunglah Putraku mendapatkan perempuan yang sama baiknya seperti Melinda."


Ucapan ayahnya yang menyamakan Vivin dengan Melinda tentu saja membuat Dilan tidak setuju, jadi dia merangkul Melinda sembari berkata, "Jangan pernah menyamakan Melinda dengan perempuan itu, karena setitik dari mereka pun tidak ada yang sama!!!"

__ADS_1


Ucapan putranya benar-benar membuat sakit hati Ruben karena dia tidak menyangka bahwa ternyata putranya mati-matian menolak Vivin menjadi ibunya.


Jadi pria itu menghembuskan nafas dengan lesu lalu dia menata putranya dengan lekat.


"Kau tidak boleh seperti itu, karena bagaimanapun dia akan tetap menjadi ibumu." Ucap Ruben.


"Apakah keadaan Ayah sudah membaik? Apakah sekarang ayah sudah bisa mendapatkan berita yang buruk?" Tanya Dilan langsung membuat Ruben terkejut karena tidak menyangka bahwa ternyata putranya memiliki sebuah berita yang buruk untuknya.


"Berita buruk apa yang kau maksud?" Tanya Ruben sembari menata putranya dengan tatapan yang cemas.


Cemas bila saja berita buruk itu akan mempengaruhi keluarga mereka dan cemas bila saja berita buruk itu bisa menimbulkan keriuhan yang besar di perusahaan mereka.


Ucapan putranya sangat mengejutkan Ruben bahwa ternyata pria itu tidak mau kembali ke rumah hanya karena di sana ada Vivin yang telah memasak makan siang untuk mereka.


Hal itu membuat Ruben merasa sangat kecewa, jadi dia menatap putrannya, "dia akan sangat kecewa kalau kita tidak datang ke sana untuk makan siang, karena dia sudah menyiapkan semuanya sejak pagi tadi.


"Dia sangat bersemangat sampai-sampai tadi pagi pun dia bahkan lupa sarapan hanya untuk mempersiapkan segala hal untuk menyambut kalian berdua." Ucap Ruben dengan tatapan penuh permohonan agar kali itu saja putranya mau mendengarkan ucapannya.

__ADS_1


Tetapi, Dilan sangat keras kepala, jadi dia tidak mengatakan apapun dan hanya menggenggam tangan Melinda dengan erat.


Hal itu pun membuat Melinda menjadi sangat canggung di antara kedua orang itu, jadi dia hanya diam saja dan mengusap punggung tangan Dilan supaya pria itu menjadi lebih tenang.


Hal itu akhirnya membuat Dilan menghela nafas, lalu dia menatap sang supir sambil berkata, "kita pergi ke rumah."


Ucapan pria itu langsung membuat Ruben menjadi sangat senang, tetapi tidak disadari pria itu bahwa saat itu juga Dilan sudah mengirim pesan pada seseorang agar mengeluarkan Vivin dari rumah mereka.


Sebab Dia benar-benar tidak bisa terus menerus melihat perempuan itu karena hal itu akan membuatnya kembali teringat akan kematian ayahnya di kehidupan yang sebelumnya.


Kematian itu disebabkan oleh Vivin.


Maka dalam suasana hati yang sangat baik Ruben terus berbincang-bincang dengan Melinda sampai akhirnya mobil mereka tiba di kediaman.


Tetapi Ruben sangat aneh karena dia tidak melihat Vivin keluar untuk menyambut mereka, padahal perempuan itu sudah berjanji akan menyambut mereka saat mereka tiba di rumah.


Tetapi Dilan tidak memperdulikannya, pria itu hanya menarik kekasihnya ke dalam rumah dengan Ruben yang menyusul mereka.

__ADS_1


@info.


Terima kasih terus setia membaca novel ini, semoga kalian terus suka ya....! Jangan lupa like, komen dan follow author agar mendapat follow back dari otor, supaya kita bisa saling mengirim pesan. jangan lupa juga untuk masuk di grup chat otor ya,, bisa liat di profil otor.


__ADS_2