Balas Dendam Istri Yang Dikhianati

Balas Dendam Istri Yang Dikhianati
84.


__ADS_3

Setelah Ruben mengetahui Semua fakta tentang Vivin yang sebenarnya membohonginya, maka pria itu menenangkan dirinya selama beberapa waktu lalu akhirnya dia keluar dari ruang kerjanya untuk menemui dua orang yang berada di kamar Dilan.


Tok tok tok...


Pria itu mengetuk pintu, dan setelah beberapa saat, terlihat Dilan membukakan pintu dan pria itu juga melihat di belakang Dilan Melinda sedang melihat-lihat buku Dilan.


Jadi pria itu menghela nafas menatap putranya sambil berkata, "hah,, Ayah benar-benar minta maaf karena sudah tidak mempercayaimu, pantas saja selama ini ayah merasa bahwa sebenarnya perempuan itu terlalu baik dan terlalu sempurna di mata Ayah, padahal ibumu saja dulu kadang-kadang memarahi ayah, tetapi perempuan itu tidak pernah mau memarahi ayah. Ayah jadi sangat menyesal, hampir saja Ayah mengacaukan semuanya hanya demi seorang perempuan."


Dilan yang mendengar penyesalan ayahnya langsung tersenyum tipis dan memeluk pria itu dengan hangat.


'Begini saja aku sudah sangat lega, karena akhirnya ayahku bisa hidup sampai beberapa puluh tahun ke depan lagi,' ucap Dilan dalam hati yang merasa sangat lega karena akhirnya pemandangan di mana ayahnya dibunuh oleh ibu tirinya kini tidak akan pernah ia lihat lagi.


"Ayah tidak perlu minta maaf, aku yang minta maaf pada ayah, seharusnya dari dulu aku menyadari semuanya itu supaya masalahnya lebih cepat terselesaikan." Kata Dilan langsung dianguki oleh Ruben.


Melinda yang melihat pemandangan itu langsung tersenyum dan dia menghampiri kedua orang itu dengan perasaan yang hangat karena akhirnya dua orang yang tadinya bertengkar itu kini sudah berbaikan.

__ADS_1


Maka, setelah acara saling Maaf memaafkan itu, ketiganya kemudian makan siang bersama lalu sampai sore Melinda dan Dilan menghabiskan waktu di tempat itu menemani Ruben.


Dan setelah malam tiba, keduanya kemudian menaiki mobil meninggalkan tempat itu untuk kembali ke kediaman masing-masing.


"Ayahmu adalah orang yang hangat, dia mengingatkanku pada sosok ayahku yang telah meninggal," ucap Melinda sembari tersenyum ke arah Dilan ketika mobil mereka semakin menjauhi kediaman Ruben.


"Hm,, Dia adalah orang yang sangat baik, tapi dia tidak suka kehidupan pribadinya ekspos, itu sebabnya wajahnya tidak pernah muncul di televisi majalah ataupun surat kabar." Ucap Dilan yang merasa bahwa ayahnya memang orang yang sangat bijak.


"Benar, itu sebabnya ketika aku bertemu dengannya di rumah sakit, Aku sama sekali tidak tahu kalau dia adalah CEO kita, karena yang biasanya melakukan rapat dengan CEO hanyalah para petinggi-petinggi perusahaan. Tapi Siapa yang sangka kalau anaknya juga menyamar menjadi seorang manajer. Apakah kau masuk ke perusahaan menggunakan koneksi ayahmu?" Tanya Melinda yang merasa penasaran.


Dilan langsung tersenyum mendengar ucapan itu, "Aku tidak suka menggunakan koneksi, aku juga masuk perusahaan bukan karena ingin belajar di sana atau apapun itu seperti yang biasa dilakukan oleh anak-anak orang kaya. Aku masuk ke sana karena kau ada di sana," ucap Dilan kembali membuat hati Melinda terasa begitu hangat karena dia merasa bersyukur memiliki seorang kekasih seperti Dilan.


Mobil mereka terus bergerak di jalanan, sampai akhirnya Melinda mengerutkan ke dunia ketika mereka hendak melewati rumah sakit dan melihat seorang perempuan berjalan dengan tidak stabil di jalanan yang hanya mengandalkan penerangan lampu jalan.


"Itu Chintya," ucap Melinda sembari menunjuk seorang perempuan yang berjalan tertatih-tatih di trotoar.

__ADS_1


Ucapan Melinda langsung membuat Dilan menatap ke arah telunjuk Melinda dan melihat bahwa perempuan itu benar-benar terlihat begitu hancur dan terlebih lagi banyak tubuhnya yang di perban.


"Apakah aku perlu menghentikan mobilnya?" Tanya Dilan.


Melinda langsung berbalik menatap Dilan sembari berkata, "di kehidupan sebelumnya tidak ada kejadian seperti ini, jadi Bagaimana kalau kita pergi ke sana dan mencari tahu apa yang terjadi?"


Ucapan Melinda langsung diangguti oleh Dilan karena dia juga merasa heran, sebab ada banyak kejadian yang terus berubah di kehidupan ini seperti ini bahwa alur kehidupan yang sebelumnya telah berubah begitu drastis.


Jadi Dilan menghentikan mobilnya lalu bersama dengan Melinda dia menghampiri Cynthia, sebab Dia tidak ingin membuat perempuan itu pergi sendirian menghampiri perempuan gila yang bisa saja membahayakan Melinda.


Begitu mendekati Chintya, mereka berdua langsung menyadari tatapan perempuan itu mengandung kemarahan yang luar biasa seolah Dia sedang melihat Melinda sebagai musuh yang harus dilenyapkan.


Hal itu membuat keduanya terkejut, apalagi ketika Chintya langsung berlari ke arah Melinda dengan teriakan amat kencang untuk memukul Melinda.


"Kau jallang sialan!!!!" Teriak Cynthia yang begitu marah pada perempuan yang ada di depannya.

__ADS_1


@info.


Terima kasih terus setia membaca novel ini, semoga kalian terus suka ya....! Jangan lupa like, komen dan follow author agar mendapat follow back dari otor, supaya kita bisa saling mengirim pesan. jangan lupa juga untuk masuk di grup chat otor ya,, bisa liat di profil otor.


__ADS_2