
Tok tok tok
Melinda mengetuk pintu ruang rapat dengan perasaan gugup memenuhi seluruh hatinya.
Meski dia dekat dengan manajer, tapi belum tentu hal itu bisa menolongnya dari kecerobohannya yang sudah menghancurkan sebuah pekerjaan yang mendesak.
"Masuk," terdengar suara seorang pria dari dalam ruangan langsung membuat Melinda masuk ke ruangan dan melihat pria itu sedang sibuk memainkan tabletnya.
"Manager," ucap Melinda langsung membuat Dilan mengangkat wajahnya menatap perempuan yang tampak gugup itu.
"Ada apa?" Tanya Dilan yang merasa aneh dengan sikap perempuan di depannya.
Melinda menghembuskan nafasnya dengan berat lalu dia mendekat ke arah pria itu dan membungkuk 90°.
Hal itu membuat Dilan merasa semakin bingung, Jadi dia berkata, "Apa yang sedang kau lak--"
"Manager, Saya sangat minta maaf, tetapi bahan untuk rapat hari ini tidak bisa saya berikan karena file yang sudah saya kerjakan terhapus dari komputer saya karena kelalaian saya." Ucap Melinda dengan mata yang terpejam erat dan tangan yang terkepal kuat.
Bagaimanapun, dia sudah melihat Bagaimana cara pria itu ketika dia sedang marah, jadi dia merasa sangat takut.
__ADS_1
Sementara Dilan yang mendengarkannya, pria itu merasa sangat aneh karena jelas-jelas ketika dia pergi ke toilet dia melihat Melinda memang sudah mengerjakannya, tetapi bagaimana bisa file seperti itu langsung terhapus?
"Apakah kau sudah berusaha mencarinya di komputermu?" Tanya Dilan.
"I,, iya, tapi sama sekali tidak ada, bahkan di riwayat dokumen yang dihapus pun tidak ada." Ucap Melinda sembari menelan air liurnya yang terasa begitu pahit.
"Berdirilah dengan tegap," ucap Dilan membuat Melinda berdiri menatap pria yang juga berdiri di depannya karena dia merasa bingung dengan sikap pria itu.
Tampak sekali wajah pria itu sangat tenang, sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang sedang marah.
Tetapi Melinda belum sempat berkata apapun ketika Dilan sudah berjalan keluar dari ruangan itu dan membuka pintu ruangan rapat.
Tetapi bukannya dijawab oleh Dilan, pria itu malah berjalan meninggalkan Karina dan kembali ke ruang kerja mereka.
"Apa yang terjadi?" Langsung tanya Karina pada Melinda yang ikut keluar dari ruang rapat.
"Aku juga tidak tahu, aku hanya bilang kalau file yang sudah ku kerjakan itu sudah terhapus, lalu Manager tidak mengatakan apapun dan hanya keluar dari ruangan." Ucap Melinda sembari menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal karena dia pun merasa aneh dengan sikap pria di depannya.
"Benarkah? Lalu dia mau pergi ke mana?" Tanya Karina sembari kedua orang itu mengikuti Dilan yang terus melangkahkan kakinya ke arah ruang kerja.
__ADS_1
Melinda tidak menjawab pertanyaan Karina, tetapi perempuan itu hanya menggigit bibir bawahnya sembari berpikir.
'Ini pertama kalinya dia tidak marah setelah apa yang terjadi, tapi kalau diingat-ingat juga, selama ini aku tidak pernah melakukan kesalahan seperti ini. Jadi dia tidak pernah memarahiku,,,, Apakah itu artinya,,,,' Melinda menelan air liurnya dan berpikir bahwa manajernya benar-benar memperhatikannya hingga pria itu bahkan tidak marah ketika dia melakukan kesalahan yang sangat fatal.
Jadi dengan gugup perempuan itu terus melangkah bersama dengan Karina hingga Mereka melihat manajer memasuki ruang kerja mereka.
Semua anggota tim desain produk yang ada di dalam ruangan langsung menegang di tempat mereka saat melihat manajer melangkah cepat memasuki ruangan.
Namun, mereka semua terkejut ketika pria itu langsung duduk di kursi Melinda lalu pria itu kemudian memegang mouse dan mulai mengerjakan sesuatu di laptop Melinda.
"Apa yang terjadi?" Tanya Regi dengan suara yang pelan ketika dia melihat dua perempuan yang mengikuti manajer sudah tiba di dalam ruangan.
"Kami juga tidak tahu," jawab Karina sembari memperhatikan manajer dan tidak berani mendekatinya.
Tetapi Melinda, perempuan itu langsung mendekati manajer dan berdiri di belakang manajer itu sembari memperhatikan Apa yang dilakukan oleh Dilan di komputernya.
Sementara Seto yang duduk di tempatnya, pria itu kini menggertakan giginya dan mengepal erat tangannya.
'Gawat, jangan-jangan manajer mencari dokumen di riwayat penghapusan. Padahal tadi aku sudah berpura-pura mencari dokumen itu di riwayat penghapusan namun berkata bahwa tidak ada, tapi kalau di manajer kembali membukanya maka semua orang akan tahu bahwa tadinya aku hanya berbohong.' ucap Seto dalam hati kini merasa sangat gugup dan tegang di tempatnya.
__ADS_1