
Karena Melinda sudah tidak bisa berpikir dengan jernih, karena perempuan itu terus teringat akan balasan pesan CEO di grup umum, maka perempuan itu tidak bisa mengatakan ke mana mereka akan pergi untuk kencan pertama mereka.
Hal itu membuat Dilan menghela nafas dan dia kemudian memilih tempat kencan secara random menurut ulasan di internet.
Lalu mereka akhirnya tiba di sebuah pulau romantis yang berpasir putih dan air pantai yang begitu jernih.
Pria itu memegang tangan Melinda lalu membawa perempuan itu untuk menyewa sebuah penginapan dengan Melinda yang benar-benar tidak peduli dengan apa yang mereka lakukan.
Begitu mereka tiba di penginapan, Melinda langsung duduk di sofa dan bersandar sembari memejamkan matanya merasa bahwa dunianya sudah benar-benar memalukan dan hancur.
"Minumlah ini," ucap Dilan menyerahkan segelas teh pada Melinda karena dia berpikir perempuan itu butuh menenangkan dirinya dengan segelas teh.
Melinda menghela nafas mengambil teh itu lalu dia menyeduh teh hangat itu sembari berpikir bahwa semua yang terjadi hanyalah sebuah candaan belaka.
Setelah menghabiskan satu gelas teh, Melinda kemudian meletakkan gelasnya lalu dia berbalik menatap Dilan sambil berkata, "Bagaimana menurutmu? Mungkinkah Besok aku akan segera dipecat karena dipikir bermain-main dalam grup resmi seperti itu?"
__ADS_1
Dilan yang melihat perempuan di depannya bertanya dengan hanya setengah jiwanya yang tertinggal di tubuhnya langsung membuat pria itu tersenyum.
"Memangnya Apa yang kau khawatirkan? Kalau Kau dipecat, maka aku akan membiayaimu." Ucap Dilan langsung membuat Melinda menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Jangan bercanda, aku sedang terlilit hutang yang begitu banyak, jadi tidak akan bisa membayar hutang-hutang itu kalau aku dipecat dari pekerjaanku sekarang!!!" Gerutu Melinda sembari menarik salah satu bantal sofa dan memeluknya dengan erat sembari memejamkan matanya.
"Kau punya banyak hutang?" Tanya Dilan yang merasa agak aneh dengan perempuan itu, bagaimana mungkin Melinda memiliki banyak hutang?
Maka sambil menghembuskan nafasnya yang terasa begitu berat, Melinda menganggukkan kepalanya lalu perempuan itu mulai bercerita, katanya, "ini bukan hutang ku, tetapi hutang yang ditinggalkan oleh ayah dan ibuku.
"Menggunakan nama mereka dan jaminan seluruh aset-aset Mereka, kemudian meminjam uang ke bank untuk diberikan pada pria itu sebagai modal usaha. Ayahku sangat mempercayainya karena pria itu adalah pria yang baik hati dan adalah sahabat ayahku sejak kecil.
"Tapi sayang sekali, kecelakaan yang mengerenggut nyawa kedua orang tuaku juga membawa serta pria itu, mereka bertiga meninggal dalam kecelakaan itu hingga membuat hutang-hutang yang menumpuk itu tak ada yang bisa membayarnya.
"Sebenarnya sahabat ayahku itu memiliki beberapa orang anak, tetapi mereka semua tidak memiliki kelakuan yang baik. Setelah ayah mereka meninggal, mereka malah menghambur-hamburkan uang ayah mereka yang tersisa dan tidak memberikannya padaku sedikitpun untuk membayar semua hutang-hutang yang harus aku tanggung.
__ADS_1
"Padahal, ayah dan ibuku juga memiliki asuransi, tetapi asuransi itu tidak bisa dicairkan sebelum aku menikah." Ucap Melinda sembari bersandar memeluk bantal sofa karena dia juga agak merasa kesal pada ayah dan ibunya.
Karena kedua orang itu terlalu takut Putri mereka tidak akan menikah karena sedari dulu Melinda tidak pernah mengenal yang namanya lelaki, maka orang tua mereka membuat hal seperti itu untuk berjaga-jaga.
Dilan yang mendengar cerita Melinda langsung memeluk perempuan itu dengan erat.
"Kau tenang saja, kau tidak akan dipecat dari pekerjaanmu karena CEO perusahaan kita adalah calon ayah mertuamu." Ucap Dilan sangat mengejutkan Melinda karena dia benar-benar tidak tahu bahwa ternyata CEO mereka adalah pria yang baru saja mereka temui di rumah sakit.
Karena memang selama ini CEO mereka sangat tertutup dan wajahnya tidak pernah dipublikasikan.
Jadi bagaikan kesambar petir, Melinda langsung menatap Dilan dengan raut wajah yang tampak sangat aneh.
Hal itu membuat Dilan merasa gemes pada Melinda jadi dia menangkup wajah perempuan itu dan mencium Melinda dengan hangat.
"Kalaupun kau dipecat, aku yang akan melunasi semua hutang-hutang orang tuamu." Ucap Dilan sembari tersenyum dengan Melinda yang masih tercengang di tempatnya karena baru saja Dia mendapat informasi yang luar biasa tidak bisa dia kelola dengan cepat.
__ADS_1