
"Reyhan!" Terdengar suara seorang wanita memanggil namanya.
Tentu saja Reyhan sangat mengenali suara wanita itu, dia menoleh ke belakang, "Klara? Sedang apa kamu disini?"
Klara tak menjawab pertanyaan Reyhan dulu, dia duduk di samping Reyhan yang sedang mengobrol dengan Jefri.
"Aku kebetulan ada pekerjaan yang harus aku selesaikan disini," Jawab Klara sambil meneguk segelas wine. "Aku dari tadi memperhatikan kamu, aku pikir itu bukan kamu, ternyata benar kamu Reyhan."
Jefri merasa dia tidak harus berada disana, dia memilih untuk pergi meninggalkan mereka berdua, menyusul rekan-rekannya ke hotel.
"Sepertinya kau sangat mabuk, kemana rekan-rekanmu?" tanya Reyhan sambil celingak celinguk mencari keberadaan teman Klara.
"Mereka susah pulang duluan," jawab Klara sambil meneguk segelas wine lagi.
Sementara Reyhan masih mencoba untuk menghubungi Sandi kembali. Namun sialnya ponselnya tidak aktif juga.
"Rey!" panggil Klara sambil menatap Reyhan yang sibuk memainkan poselnya.
"Hm?"
"Apa hidupmu bahagia sekarang? Tanpaku?"
Reyhan menghela nafas berat, "Aku rasa kau tidak perlu tau itu."
__ADS_1
"Atau apa hidupmu menderita tanpa aku, Rey?"
Reyhan memperhatikan Klara yang sudah mabuk berat, dia merebut gelas yang berisi wine dari tangan Klara, "Jangan minum lagi! Kau sudah mabuk berat!"
"Kenapa? Kau mengkhawatirkan aku, Rey? Aku sangat rindu saat kamu selalu perhatian padaku!" Klara mengatakannya sambil menitikan air mata.
"Dimana rekan-rekanmu, kau tidak boleh pergi sendirian!" Reyhan takut ada pria berhidung belang yang memanfaatkan kesempatan saat melihat Klara sedang mabuk.
"Mereka sudah pulang duluan, aku tidak akrab dengan siapapun. Hari-hari yang aku jalani sangat sepi semenjak kita berpisah."
Reyhan terpaksa memapah Klara membawanya ke hotel terdekat, padahal malam ini pikirannya sedang kacau karena belum mendengar kabar tentang Jenny, tapi dia tidak bisa membiarkan Klara pergi sendirian dalam keadaan seperti ini.
Reyhan membaringkan tubuh Klara ke atas ranjang, dia segera melangkahkan kakinya untuk meninggalkan kamar hotel itu. Namun Klara segera bangkit dengan sedikit berlari dia memeluk tubuh Reyhan dari belakang sambil menangis.
"Rey, aku sangat merindukanmu. Aku menyesal tidak mempercayai kamu. Hatiku sakit setiap mengingatmu."
"Ini sangat tidak adil bagaimana bisa kamu mencintai anak Andreas, orang yang sudah menghancurkan hidup kita, kita akan hidup bahagia kalau saja Andreas tidak membunuh ayahku."
Reyhan berhasil melepaskan tangan Klara, dia membuat posisi mereka jadi saling berhadapan, "Jangan seperti ini, kamu... "
"Kalau begitu bisakah aku memilikimu malam ini saja, Reyhan. Setelah itu aku tidak akan mengharapkan kamu lagi!" Klara menatap mata Reyhan dengan begitu sangat dalam.
Reyhan menghela nafas berat dan mengusap wajahnya dengan kasar, "Sepertinya suami kamu pria yang baik, jangan hancurkan pernikahan kamu demi lelaki brengsek seperti ku. Mulai sekarang lupakan aku, kamu harus mencoba untuk mencintai suami kamu dan menerima kenyataan bahwa kita tidak bisa kembali seperti dulu. "
__ADS_1
"Tapi kenapa harus Jenny? Dari sekian banyak wanita kenapa kamu harus menikahi anak dari pembunuh ayahku , bahkan dia telah menghancurkan hidupmu!" Klara mengatakannya sambil menangis.
Reyhan tak ingin mendengarkan pertanyaan dari Klara, jika disuruh memilih dan bisa menawar,dia juga tidak ingin mencintai anak Andreas, tapi mau bagaimana lagi, hatinya tidak bisa di ajak kompromi membiarkan Jenny masuk begitu saja ke dalam relung hatinya.
Reyhan segera pergi dari kamar hotel itu. Sementara Klara menangis sesegukan di dalam sana.
Drrrttt... Drrrttt...
Dia mendapatkan pesan dari Alex.
[Boss, Sandi terluka parah. Dia sedang dirawat di rumah sakit sekarang. Tapi Dokter Jenny menghilang, sepertinya dia diculik boss.]
Reyhan tercengang saat membaca pesan dari Alex, sampai tangannya gemeteran hampir saja ponselnya terjatuh. Nafasnya begitu sesak bercampur dengan emosi saat mengetahui ada seseorang yang telah menculik Jenny.
Dia benar-benar tidak bisa berpikir jernih, malam ini Reyhan langsung pergi memutuskan untuk pulang ke tempat asalnya sendirian dengan nafas terengah-engah , dia begitu sangat mengkhawatirkan Jenny.
Jenny, kamu dimana? Tunggu aku! Aku tidak akan membiarkan siapapun melukaimu meskipun aku harus mengorbankan hidupku demi kamu. Tolong berikan aku kesempatan satu kali saja untuk mengungkapkan semua isi hatiku padamu.
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
__ADS_1
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalinya....
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya!...