
Reyhan terbangun dari tidurnya, tangannya meraba-raba ke samping, dia terkejut saat menyadari Jenny sudah tidak ada di sampingnya. Reyhan keluar dari kamar dan mencari keberadaan Jenny mungkin karena kasus penculikan Jenny kemarin membuatnya tidak tenang jika belum melihat wajah Jenny.
Reyhan bisa bernafas lega saat melihat Jenny sedang berada di dapur, "Kau sedang apa?" tanya Reyhan dengan nada membentak saking khawatirnya.
Jenny menghela nafas sebentar, sebuah pertanyaan yang kikuk menurutnya, padahal sudah terlihat jelas Jenny sedang membuat adonan disana.
"Sedang mencuci!" jawab Jenny, dia menatap Reyhan dengan menghela nafas lagi, "Ya tentu saja mau memasak, kau tidak lihat?"
Reyhan jadi teringat dengan manisan telur yang Jenny buat. Masih terasa enek di tenggorokannya. Dia segera mendekati Jenny.
"Kau memasak apa? Biarkan saja pelayan disini yang memasak untuk kita!"
Jenny menyipitkan matanya "Kau lupa ya, sudah ku bilang aku akan jadi istri yang baik untukmu."
"Iya aku tau, tapi... "
Perkataan Reyhan berhenti saat melihat Jenny memasukkan gula pasir ke dalam adonan.
"Aku akan memasak chicken crispy. Aku baca di internet sepertinya gampang sekali."
Reyhan menggaruk kepalanya yang gak gatal. Dia membawa dua buah toples kecil yang berwarna merah dan biru.
Reyhan menunjuk toples kecil yang berwarna biru, "Ini yang toples berwarna biru isinya garam."
Lalu Reyhan menunjuk toples kecil yang bernama merah, "Dan ini toples yang berwarna merah isinya gula pasir."
"Ya ampun!" pekik Jenny sambil menutup mulutnya. Dia segera mencolek adonan chicken crispy itu ternyata rasanya sangat manis .
Sontak Jenny langsung memukul bahu Reyhan.
__ADS_1
"Argghhh... " Reyhan meringis karena pukulan itu mengenai bahunya yang terluka.
"Jadi waktu itu telur buatan ku rasanya pasti manis?Kenapa kau memakannya!" Jenny tak habis pikir mengapa Reyhan malah memakannya dengan habis dan mengatakan enak padanya.
"Telat sekali pertanyaanmu itu, itu satu minggu yang lalu."
"Iya aku tau, seharusnya kau tidak perlu memakannya, pasti kau sangat tersiksa saat memakannya." Jenny sendiri yang memikirkannya sudah enek.
Jenny berpikir sebentar lalu tersenyum manis dan mencondongkan badannya pada Reyhan, membuat Reyhan menelan saliva kasar karena ulahnya, "Apa kau melakukannya karena sangat menghargaiku. Aku tidak menyangka bahwa ternyata kau sangat menyukaiku sampai kau tidak ingin aku kecewa."
"Ja-jangan Ge-Er, aku memakannya karena aku memang menyukainya, emm... manisan telur, iya seperti itu."
Jenny tau Reyhan sedang berbohong "Ya sudah , aku akan buatkan yang banyak untukmu."
Jenny berniat berjalan menuju kulkas untuk mengambil telur tapi Reyhan menghalanginya, "Tidak perlu, aku sedang tidak ingin memakannya. Ayo kita buat yang lain."
Akhirnya mereka memasak chicken crispy, sesuai dengan niat Jenny dari awal dan harus membuat dengan adonan yang baru.
Entah sampai kapan kita seperti ini, aku harap kita bisa meninggalkan kenangan yang sangat indah, biar aku menjadi kenangan yang indah untukmu, begitu juga dirimu.
Reyhan membalas senyum Jenny, "Aku sudah lama tidak memasak, dulu aku sering memasak untuk Dinda, adikku."
"Jika Dinda masih hidup berapa usianya sekarang?"
"19 tahun, dia pasti menjadi gadis yang sangat cantik. Dan aku sebagai kakaknya harus selalu memperhatikannya terus karena takut ada yang ingin macam-macam padanya. Sayangnya aku tidak bisa menjaganya dengan baik, aku membiarkan dia menderita sendirian di saat menghembuskan nafas terakhirnya." Reyhan mengatakan itu dengan mata berkaca-kaca.
Jenny memeluk Reyhan dari belakang. "Kau adalah seorang kakak yang baik. Aku yakin Dinda pasti sangat menyayangimu. Jangan pernah merasa bersalah. Dinda pasti sangat sedih melihat kau seperti ini."
"Setiap kau merasa senang atau sedih berbagilah denganku. Aku selalu siap untukmu."
__ADS_1
Reyhan merasa tersentuh dengan perlakuan Jenny padanya, dia membiarkan tangan putih dan mulus itu terus memeluknya dari belakang, melingkari perutnya.
Setelah selesai memasak, mereka sarapan bersama. Mereka terlihat seperti sepasang suami-istri sungguhan pagi ini.
"Rey!"
"Hm?"
"Bisa kah aku bolos hari ini?"
"Kau mau kemana?"
"Aku ingin kau mengajariku bela diri, aku tidak ingin menjadi beban untukmu. Setidaknya aku bisa melawan jika ada yang berniat menculikku lagi." Jenny mengatakannya dengan sungguh-sungguh.
"Tidak perlu, kau pasti akan sangat kesulitan."
"Ayolah, tolong ajari aku!" Jenny merangkul lengan Reyhan dengan manja.
Wanita ini selalu saja membuat tubuhnya terasa panas, apalagi disaat dia tersenyum manja padanya, ingin rasanya dia terus mengurungnya di kamar selama berhari-hari. Apalagi dia sudah menahannya selama satu minggu ini.
"Oke, tapi dengan satu syarat. Kau harus memberikan hadiah untukku." Reyhan mengajukan sebuah persyaratan.
"Iya, aku akan memenuhi apapun persyaratan darimu."
...****************...
...Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah yah kawan 🙏 😁...
...Dan terimakasih banyak buat yang sudah memberi itu semua, semakin membuat saya semangat!...
__ADS_1
...Mohon maaf belum bisa balas komen satu persatu, tapi saya selalu baca komen dari kalinya....
...Jangan lupa simak terus ke bab-bab berikutnya!...