Bayi Rahasia Sang Model

Bayi Rahasia Sang Model
BRSM 36


__ADS_3

Setengah jam kemudian, Reigner telah siap dengan berpakaian jas lengkap. Dia keluar untuk menemui Rebecca, karena dia akan satu mobil. Di lantai bawah Rebecca juga sudah bersiap. Dia memakai dress merah hati yang menampakkan pundak dan juga punggungnya.


"Elley, semua peralatan ku sudah kamu bawa kan?" tanya Rebecca pada managernya.


"Sudah Nona, semuanya lengkap," jawab Elley.


Rebecca pun berjalan keluar. Namun tiba-tiba Reigner memanggilnya dari belakang. "Rebecca, kamu berangkat bersamaku. Biar manager mu berangkat sendiri dengan kru."


Rebecca menoleh ke belakang dan menjawab, "Terserah anda Tuan."


"Let's go!" Reigner berjalan duluan dan diikuti Rebecca dari belakang.


Para karyawan yang melihatnya pun saling berbisik, karena sebelumnya gosip tentang Reigner telah di perbincangkan seluruh penjuru kantor.


Sesampainya di luar, Reigner berpapasan dengan Caroline. Wanita itu langsung menyapa Reigner dengan mesra.


"Hei, Rei! Kamu mau kemana? Malam nanti aku mau mengajakmu dinner, mau kan? Soalnya aku ada undangan dari salah satu sponsor," ucap Caroline menghentikan langkah Reigner.


Reigner pun berhenti, dia menepis tangan yang menyentuh pundaknya itu. "Kamu makan sendiri saja, aku tidak ikut karena sangat sibuk!" ucap Reigner. Lalu dia menarik tangan Rebecca agar segera berjalan. "Ayo kita segera berangkat. Nanti bisa telat."


Rebecca sedikit terkejut dengan sikap Reigner yang sudah terang-terangan kepada publik. Hal itu membuat Caroline kesal, sudah bertahun-tahun dia berusaha untuk mengejar Reigner. Namun pria itu tidak terpikat sedikitpun.


"Sialan! Siapa wanita itu? Beraninya dia berebut pria denganku. Mati-matian aku berusaha menarik perhatian Reigner, dan tak kunjung berhasil juga, "ucap Caroline kesal dia menghentakkan kakinya lalu masuk ke dalam.


Reigner dan Rebecca dalam mobil yang sama. Reigner lebih suka menyetir sendiri karena ada Rebecca, karena biasanya Reigner diantar oleh Edward sang asisten.


"Apa dia wanita yang di maksud Excel? Sepertinya wanita itu menyukaimu," ucap Rebecca membuka pembicaraan.

__ADS_1


Reigner menoleh dan tersenyum. "Dia salah satu model di produk ku yang lain. Aku belum bisa menghentikannya karena masih terikat kontrak. Evelyn tidak menyukai dia. Sebulan lalu, aku berkunjung ke California bersama dia. Di situlah awal aku bertemu dengan Evelyn. Saat dia tersesat dalam membeli es krim."


Rebecca terkejut dengan penjelasan Reigner. "Jadi waktu di mall itu Evelyn sudah bersamamu?"


"Ya, kamu tahu saat pertama kali bertemu dengannya hatiku bergetar. Seperti aku sudah mengenal lama gadis kecil itu. Sejak saat itu aku selalu ingin bertemu dengannya. Sekarang aku tidak menyangka, putrimu mencariku hanya dengan sebuah insting. Terima kasih telah melahirkannya di dunia. Kamu tahu aku bahagia sekali. Meski aku belum memilikinya dengan sempurna, karena masih ada dua hati yang belum bisa aku raih," jelas Reigner membuat Rebecca salah tingkah lagi.


Rebecca pun memalingkan wajahnya ke arah jendela. Dia tidak mau kalau Reigner sampai melihat wajahnya yang merona.


"Becca, aku masih penasaran dengan ceritamu 8 tahun yang lalu. Aku menunggu kamu untuk menceritakannya dengan suka rela. Agar aku bisa memperbaiki kesalahanku untukmu," ucap Reigner tulus dalam hati.


Rebecca menundukkan kepala ketika mendengar ucapan Reigner. Jantungnya berdegup kencang, dia merasakan sesuatu yang hangat mengalir dalam hatinya.


Tak lama kemudian, sampailah mereka dalam gedung acara variety shownya. Reigner turun dan membukakan pintu mobil untuk Rebecca. Setelah keluar, Reigner memberikan tangannya, kemudian Rebecca mengapit tangan pria itu. Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam gedung.


Sesampainya di dalam, Reigner langsung disambut oleh penanggung jawab acara. Sedangkan Rebecca menuju ke ruang rias untuk berganti baju.


Di Tempat Lain.


"Sayang, lukisanmu indah sekali Nak!" seru Teresa dari belakang. Dia membuatkan segelas jus untuk cucunya.


"Benarkah itu Grandma? Aku selalu merasa lukisan ku ini terlalu biasa," sahut Evelyn dengan tangan memegang kuas.


Teresa meletakkan jus itu di meja. Dia berjalan mendekati cucunya. "Ini sangat bagus, Sayang! Sepertinya kamu sangat berbakat dalam seni melukis."


"Aku sangat menyukainya, Grandma. Kalau aku dewasa nanti, ingin sekali berkeliling dunia untuk mencari inspirasi dalam melukis. Aku ingin memamerkan lukisan ku ini ke seluruh dunia, Grandma," ucap Evelyn dengan penuh semangat.


"Good job, Honey. Semoga apa yang kamu cita-citakan berhasil ya. Grandma akan selalu mendukungmu," sahut Teresa sembari mengecup pipi Evelyn.

__ADS_1


Setelah itu, Teresa duduk kembali. Dia mengambil remote dan menghidupkan televisi. Tak sengaja Teresa melihat variety show Rebecca. "Sayang, lihat Mommy dan Daddy mu ada di televisi."


Evelyn langsung menoleh ke arah televisi. Akibatnya, lukisan indah itu tercoret kuas. "Oh No, Grandma lukisanku," seru Evelyn dengan nada menyesal.


"Sayang, hati-hati. Ya lukisanmu jadi gagal," sahut Teresa ikut sedih.


"Mommy dan Daddy sangat serasi sekali. Aku harus memberitahu Kakak." Evelyn berlari menuju ke kamar sang Kakak. Dia tidak peduli lagi dengan lukisannya yang gagal.


"Kakak, Kakak. Kakak harus lihat ini." Sesampainya di kamar, Evelyn langsung menghidupkan televisi.


"Kakak, look! Mommy dan Daddy sedang ada televisi. Bukankah mereka sangat serasi," ucap Evelyn dengan senyuman manis. Namun, Excel menanggapinya tanpa ekspresi. Muka datarnya itu membuat sang adik kesal.


"Kakak menyebalkan, harusnya Kakak itu beri penilaian untuk Mommy dan Daddy. Lihatlah mereka sangat perfect sekali," seru Evelyn kepada Kakaknya.


"Biasa saja, tidak ada yang spesial," jawab Excel datar.


Evelyn menggeretakkan giginya, dia benar-benar kesal dengan sikap Excel. "Dasar Kakak jelek, Kakak menyebalkan. Sangat menyebalkan!"


Evelyn mematikan televisi itu dan keluar dengan bersungut-sungut hingga membanting pintu. Setelah Evelyn pergi, Excel menghidupkan televisinya lagi. Dia melihat sang Ibu yang tersenyum senang dan terlihat sangat damai.


"Semoga Mommy selalu tersenyum seperti itu, karena senyum Mommy adalah kebahagiaan buat Excel. I love you, Mommy!" ucap Excel dalam hati.


Di tempat lain.


Mario membanting semua barang yang ada di depannya. Dia terlihat sangat emosi melihat variety show Rebecca.


"Kamu ternyata sudah berani padaku Rebecca. Kamu sudah tidak memikirkan tentang konsekuensi yang aku berikan padamu. Lihat saja, aku akan membawamu kembali di sisiku. Tidak akan aku biarkan satu pria pun untuk memegang tubuhmu, karena hanya akulah yang pantas mendapatkannya," ucap Mario dengan sorot mata mengerikan.

__ADS_1


Mario mengeluarkan handphonenya. Dia menelepon sang asisten. "Siapakan tiket ke Italia secepatnya. Aku ingin malam ini bisa terbang ke sana. Ambil penerbangan yang tercepat karena aku tidak sabar menunggu lagi."


Mario mengakhiri pembicaraannya, dia kembali duduk sembari menatap foto Rebecca yang ada di layar laptopnya.


__ADS_2