
"Rei, kamu ini bagaimana? Excel itu tanggung jawab kita. Kalau kamu membiarkannya pergi begitu saja, itu artinya kamu telah melepas tanggung jawabmu," seru Teresa memarahi Reigner.
"Grandma, stop! Jangan marahi Daddy lagi, benar kata Daddy. Kak Excel tidak akan merubah keputusannya. Raut wajah Kakak sangat serius, itu artinya dia memang membenci semua ini," sahut Evelyn lirih.
Teresa menoleh ke arah Evelyn begitu pula dengan Reigner. Dia sedikit lega karena putrinya masih memberikan kesempatan.
"Evelyn kamu tidak membenci Daddy?" tanya Reigner bergerak mendekati putrinya.
Evelyn menggelengkan kepalanya. "No, Dad. Aku akan tetap menemani Daddy di sini. Aku akan tetapi menjadi putri Daddy, aku yakin Mommy belum pergi Dad. Mommy masih ada di dunia ini dan suatu hari nanti kita akan berkumpul kembali," ucap Evelyn dengan senyum yang dipaksakan.
Reigner menangis mendengar ungkapan dari putrinya. Dia menciumi tangan kecil yang penuh dengan luka gores itu. "Apakah tangan mu sakit, Nak? Maaf Daddy tidak langsung menolong mu."
"Evelyn baik-baik saja Dad. Evelyn sangat kuat, buktinya aku bisa menggendong Kakak hingga turun gunung."
Reigner membulatkan matanya, ada rasa tak percaya pada dirinya. Lalu dia menoleh ke arah Edward meminta sebuah penjelasan, dan Edward menjawabnya dengan anggukan.
"Ya, kamu sangat kuat sekali. Daddy bangga sama kamu?" Reigner terus menciumi tangan Evelyn.
"Daddy, apakah Daddy juga terluka? Kenapa Daddy duduk di kursi roda?" tanya Evelyn mengkhawatirkan sang ayah.
__ADS_1
Reigner tersenyum. "Daddy, baik saja. Hanya sedikit kelelahan. Kamu tidak usah khawatir ya! Sekarang kamu beristirahat lah, agar cepat pulih."
Evelyn mengangguk. "Saat dewasa nanti, aku akan menjadi pelukis. Aku ingin berkeliling dunia mencari Mommy! Aku sangat yakin bahwa Mommy masih hidup, Dad!"
Teresa memeluk cucunya dengan erat. Dia sangat sedih sekali melihat nasib Excel dan Evelyn yang berakhir tragis.
"Iya, Nak! Nanti kita cari sama-sama. Tidur ya. Selamat beristirahat, Honey!" Setelah itu, Reigner menemani putrinya yang beristirahat.
Setelah Excel memutuskan untuk pergi dan kembali ke California, membuat Reigner semakin tegas. Dia tetap memberikan perlindungan pada putranya tersebut. Dia terus menghubungi Excel namun, tidak pernah dibalas oleh putranya.
Excel belajar dengan rajin, dia berkeinginan untuk melanjutkan pendidikannya di fakultas kedokteran saat dewasa nanti. Jadi dia tidak punya waktu, bahkan untuk bermain saja dia tidak akan mau.
__ADS_1
Seminggu berlalu dengan cepat. Kesedihan masih sangat terasa. Reigner masih tetap menyelidiki kasus penculikan itu. Dia tetap menuntut Mario dengan hukum yang berlaku. Pria itu harus dihukum berat.
Begitu juga dengan Evelyn, setelah keluar dari rumah sakit. Sifatnya berubah, dia tidak lagi manja, dan berubah sedikit dewasa. Evelyn menjadi gadis yang penurut, tak lagi membangkang seperti dulu.
Dia mulai bersekolah, Evelyn masuk ke sekolah favorit di Italia. Dia semakin memperdalam hobi melukisnya. Cita-citanya ingin penjadi pelukis terkenal yang bisa berkeliling dunia. Tentu saja, Reigner mendukung keinginan putrinya itu.
TAMAT
Di hamparan air laut yang luas, ada seorang nelayan yang sedang mencari ikan. Dia berdiri dan membentangkan jaringnya di sebuah batu karang. Saat jaring itu sudah jatuh ke laut, matanya tak sengaja melihat sesosok tubuh manusia yang terdampar di pinggir batu karang.
Nelayan itu turun dan berjalan di pinggiran karang. Semakin dekat dan semakin dekat, ternyata benar itu adalah tubuh manusia yang penuh dengan luka.
__ADS_1
"Siapa dia? Kenapa bisa ada di sini? Apakah dia masih hidup atau sudah mati?" batin Nelayan itu.