
Makan malam berjalan sangat mengasikkan. Kecerewetan Evelyn mewarnai di setiap suapan. Ada yang tertawa, ada yang kesal, bahkan marah-marah.
Evelyn tetap manja bersama ayahnya. "Daddy, masakanmu sangatlah enak. Aku ingin merasakan masakan Daddy setiap hari, "ucap Evelyn dengan mulut penuh makanan.
"Hei, telan dulu makananmu, Evelyn. Menjijikkan!" sahut Excel ketus.
Evelyn menoleh dan menjulurkan lidahnya kembali. "Suka-suka aku dong!"
Teresa menggelengkan kepalanya, dia heran melihat keributan cucunya itu. Lalu, dia melirik ke arah Rebecca yang sedari tadi cemberut. "Sayang, kamu kenapa melamun seperti itu?" tanya Teresa.
Rebecca menoleh dan tersenyum tipis. "Nothing, Mom. Hanya saja sedang kesal dengan dua orang," jawab Rebecca dengan memberikan tatapan sinis pada Reigner dan Evelyn.
Reigner dan Evelyn sadar lalu saling menatap satu sama lain, kemudian mereka tertawa geli.
"Evelyn malam ini tidur dengan Grandma ya?"
Evelyn berhenti mengunyah dan menjawab Neneknya, "No, Grandma! Malam ini aku ingin tidur bersama Daddy. Tidur bersama Grandma besok saja ya."
"Emm, baiklah!" jawab Teresa sedikit sedih. Setelah itu makan malam terus berlanjut hingga selesai.
Satu Jam Kemudian.
Setelah makan, dan beristirahat sebentar. Rebecca meminta pada anak-anaknya untuk segera tidur, karena mereka besok ada sebuah kegiatan. Excel dan Evelyn pun menuruti perintah Ibunya. Rebecca menemani Excel dan Evelyn tidur di kamar Ayahnya.
Setelah Excel tidur, Rebecca kembali ke kamarnya. Dia sudah tidak ada kegiatan lain jadi Rebecca memutuskan untuk istirahat. Dia merebahkan tubuhnya di atas kasur, lalu dia mengambil buku dan membacanya.
Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu. Rebecca turun dari ranjang dan segera membuka pintu. Setelah pintu terbuka, dia melihat Reigner berdiri di depan pintu dengan membawa dua buah cangkir di tangannya.
"Bolehkah aku masuk? Mari kita mengobrol di balkon, aku bawakan jus sayuran untukmu," ucap Reigner dengan wajah ramah.
Rebecca menatap sejenak lalu mempersilakan Reigner masuk ke dalam kamarnya. Setelah itu mereka menuju ke balkon untuk menikmati keindahan malam. Rebecca menerima jus sayuran itu dari tangan Reigner.
__ADS_1
"Terima kasih buat jusnya, tahu saja kalau aku butuh untuk menurunkan lemak-lemak tadi," ucap Rebecca sembari meminum jus itu.
Reigner menoleh dan tersenyum tipis. "Aku tahu nutrisi makanan yang di makan setiap model. Jadi aku mengupayakan sebaik mungkin. Apa kamu masih kesal dengan sikapku tadi?"
Rebecca meminum jusnya dan menjawab, "Tentu saja, kamu sudah mengambil perhatian Evelyn dariku. Ditambah lagi, dia sekarang tidak takut padaku. Bahkan dengan sangat berani menjelekkan Ibunya sendiri."
Reigner tergelak, dia merasa lucu jika mengingat ekspresi Evelyn ketika menceritakan kejelekan Ibunya. "Becca, kamu tahu? Evelyn itu sesuatu sekali, dia bisa jadi anak yang menyenangkan dan juga menyebalkan. Moodnya juga gampang sekali berubah. Sangat luar biasa," ucap Reigner menuji putrinya.
"Benar, kedua anak itu memang sangat berbeda sifat dan karakter. Aku sangat kewalahan ketika mereka sedang berdebat. Tidak ada yang mau mengalah," sahut Rebecca dengan tertawa.
Reigner meletakkan gelasnya di meja kecil. Dia berjalan kemudian memeluk Rebecca dari belakang. Rebecca pun terkejut, ketika tangan kekar itu melingkar di pinggangnya. Reigner menopangkan dagunya di pundak Rebecca. Hembusan nafas Reigner begitu terasa di leher jenjangnya.
"Diamlah, izinkan aku memelukmu seperti ini. Becca, kamu tahu kalau aku sangat bahagia sekarang. Meski belum mengatakan kalau kamu mencintaiku, tapi aku merasa sudah menemukan jawabannya. Terima kasih sudah kembali padaku dan membawa dua malaikat kecil untukku. Aku mencintaimu, Rebecca!"
Reigner semakin memepererat pelukannya. Dia juga mengecup pipi Rebecca dengan penuh kasih kelembutan. Setelah puas, Reigner melepaskan pelukan itu. Lalu dia izin untuk keluar dari kamar. "Istirahatlah hari semakin malam, aku keluar dulu. Selamat tidur, Istriku. Good Night!"
Reigner keluar dengan senyum mengembang di bibirnya. Sedangkan Rebecca masih terpaku di tempatnya berdiri. Dia tersentuh dengan sikap dan perhatian yang Reigner berikan.
Setelah itu, dia masuk ke dalam dan menutup jendela balkon. Dia menuju ke toilet untuk mencuci muka dan bergegas tidur.
Keesokan Harinya.
"Grandma, aku harus memakai baju yang mana?" tanya Evelyn dengan menenteng 2 stel baju kesayangannya.
Teresa memandang Evelyn dia berpikir sejenak. "Menurut Grandma kamu pakai baju ini saja. Lebih anggun Sayang," ucap Teresa pada cucunya.
Evelyn pun senang sekali, dia segera berganti baju. Hari ini adalah hari pertamanya untuk pemotretan. Excel yang sudah siap dari tadi sudah keluar kamar. Kini tinggal Evelyn yang masih bingung memilih baju.
Selesai berganti baju, Evelyn mengurai rambutnya dan memakai topi. Evelyn mengenakan t-shirt model crop dan juga celana hotpant. Lalu dia juga memakai sepatu kasual berwarna putih untuk menyerasikan bajunya.
"Bagaimana penampilan ku, Grandma?"
__ADS_1
"Wahh, kamu cantik sekali Evelyn. Sudah begini saja sudah terlihat sangat imut," sahut Teresa.
Setelah itu Evelyn keluar dari kamar. Sesampainya di depan pintu kamar sang Ibu, Evelyn terkejut karena Rebecca keluar dengan mengenakan pakaian yang rapi.
"Momm, Mommy mau pergi kemana?" tanya Evelyn kaget.
"Tentu saja ikut denganmu, Sayang. Kenapa? Apa Mommy tidak boleh ikut?" jawab Rebecca dengan menaikkan satu alisnya.
"Tentu saja Mommy boleh ikut. Senangnya bisa diantar oleh Mommy," seru Evelyn memeluk Ibunya.
Rebecca mengelus rambut putrinya. "Masa putri Mommy ingin menunjukkan bakatnya, tapi Mommy ada di rumah. Tidak asyik lah kalau begitu."
Setelah itu, Rebecca dan putrinya turun ke bawah kemudian disusul juga oleh Teresa. Di bawah Reigner dan Excel sudah menunggu. Mereka sedang duduk bersebelahan di sofa.
"Daddy, I'm ready!" seru Evelyn pada Ayahnya.
Reigner menoleh ke arah putrinya dan melihat Rebecca yang sudah berpakaian dengan cantik sekali. Reigner terdiam sejenak, matanya terpesona dengan keindahan yang ada di depannya.
Teresa berjalan mendahului lalu menyadarkan putranya. "Kondisikan pandanganmu dan ayo cepat berangkat."
Reigner tersadar kemudian tersenyum manis ke arah Rebecca. "Baiklah ayo kita berangkat," seru Reigner pada semuanya.
Semua orang keluar dari dalam rumah untuk menuju ke garasi. Mereka berangkat dengan membawa dua mobil. Reigner satu mobil dengan Rebecca dan Teresa pergi diantar sopir bersama kedua cucunya.
Di dalam mobil, Reigner selalu tersenyum. Dia sangat senang karena Rebecca sudah berada dalam kemajuan.
"Apakah kamu kalau berdandan selalu memukau, Becca? Aku selalu terpesona ketika kamu bermake-up," ucap Reigner pada wanita di sampingnya.
Bibir Rebecca mengulas senyum, lalu dia menjawab. "Aku seorang publik figur jadi sudah semestinya aku berdandan secara maksimal."
"Ya kamu benar sekali, sebagai calon Nyonya Anverton kamu harus selalu tampil memukau."
__ADS_1
"Aku harap kedatangan ku ini tidak mengecewakan para penggemarmu," sahut Rebecca sinis.