
"Ada apa dengan kakakmu, Evelyn?" tanya Rebecca penasaran.
Eveline pun menceritakan tentang Excel pada ibunya. "Mommy, Kak Excel pernah dicium oleh teman sekelasnya. Evelyn melihatnya sendiri, Mommy. Di sekolah kayak Excel itu jadi idola para gadis. Evelyn sering membawa surat cinta untuk Kak Excel, bahkan para kakak kelas juga, Mommy."
Rebecca tersenyum, dia merasa lucu dengan cerita Evelyn. "Lalu apa yang kamu ketahui lagi, Sayang?"
"Kak Excel itu cuek dan dingin sama semua orang Mommy, dan hanya satu anak gadis yang diajak bicara sama Kakak."
"Siapa Nak? tanya Reigner.
"Gadis kecil itu adalah Ange ....!"
"Evelyn stop! Jangan lanjutkan ceritamu," seru Excel dari tangga.
Evelyn menoleh ke arah suara dan dia segera menutup mulut dengan kedua tangannya. "Maaf, Kakak aku lupa. Aku sudah terlanjur menceritakannya pada Mommy dan Daddy."
Excel berlari turun dari tangga. Dia ingin mengejar Evelyn yang sudah membongkar rahasianya. "Evelyn kamu menyebalkan. Sini kamu adik jelek!"
"No, stop Kakak. Aku minta maaf! No, jangan tangkap aku Kakak. Daddy, help me Daddy. Daddy, tangkap Kak Excel dia mau menggelitikki ku," teriak Evelyn berkeliling ruangan dengan tertawa keras.
"Evelyn stop! Jangan berlari lagi. Sini kamu adik menyebalkan!" Excel terus mengejar adikknya, hingga suara Rebecca pun tak didengarnya.
Evelyn sembunyi dibalik punggung Ibunya kemudian Reigner menangkap tubuh Excel dan menghentikannya. "Stop Excel jangan kejar adikmu lagi."
"No, Daddy. Evelyn sudah membocorkan rahasia ku. Itu sangat memalukan!" teriak Excel berusaha melepaskan diri.
"Kakak, aku minta maaf. Aku keceplosan bicara, maafkan aku ya, Kak Excel yang tampan," ucap Evelyn merayu Kakaknya.
"Sudah-sudah jangan bertengkar lagi," sahut Rebecca.
Reigner pun mencoba untuk menenangkan putranya. "Excel dengarkan Daddy. Dulu sewaktu Daddy seumuran denganmu juga pernah mengalami hal itu, Boy. Itu sangat wajar karena kita terlahir tampan. Apalagi ketampanan mu melebihi Daddy. Jadi sudah menjadi hal yang umum para gadis menyukai kita."
"Nanti kalau kamu dewasa, jangan gunakan ketampanan mu ini untuk memainkan perasaan wanita ya, Nak! Carilah wanita yang baik!"
"Yang seperti Mommy," sahut Excel dengan cepat.
"Ya, boleh. Mommy juga sangat baik, dia mampu melahirkan dua kesayangan Daddy ini dengan sangat baik," sahut Reigner dengan lirikan mata ke arah Rebecca.
Excel pun mulai tenang, dia duduk di pangkuan ayahnya. "Evelyn see! Daddy bilang aku ini sangat tampan. Kamu harus mengakui itu."
__ADS_1
Evelyn memutar bola matanya sembari mengikuti ucapan Excel dengan bibirnya yang komat kamit.
"Daddy, look! Bukankah dia sangat jelek sekali," ucap Excel membalas ejekan adiknya.
Evelyn hanya menoleh, dia malas menanggapi kakaknya. Gadis kecil itu bersandar di bahu Rebecca kemudian dia bertanya pada sang ayah. "Daddy, apa besok aku sudah boleh ikut ke kantor?"
"Terserah kamu, Baby! Tugas Daddy hanya mengawasi dan memberikan dukungan untukmu," jawab Reigner menyemangati.
"Oke Dad!"
Rebecca ikut mengedukasi putrinya. "Evelyn kamu sudah tahu apa saja harus dilakukan oleh seorang model?"
"Tentu, aku tahu Mommy! Di sekolah, Evelyn mengikuti banyak sekali ekstrakurikuler. Jadi aku tahu bagaimana cara berakting dan juga berpose dengan gaya yang cantik. Evelyn sering melihat video dan foto Mommy," jelas Evelyn pada ibunya.
Setelah itu, Evelyn turun dari sofa untuk memeragakan gaya seorang model. "Mommy look!"
Evelyn berjalan dengan berlenggak lenggok seperti seorang model yang sedang fashion show. Dia juga berpose cantik dengan view wajah yang imut dan juga manis.
"Bagaimana Mommy? Apa aku sudah terlihat profesional seperti Mommy?"
Rebecca menjawab dengan tersenyum. "Ya sepertinya putri Mommy mempunyai bakat dalam dunia permodelan."
Evelyn menyudahi posenya dan langsung berlari memeluk sang ayah. "Aku ingin menjadi pelukis terkenal Daddy."
"Pelukis? Apa bagusnya menjadi pelukis?" tanya Reigner heran.
"Ck, Daddy tidak tahu bagaimana menyenangkannya ketika melukis. Suatu saat nanti ketika aku dewasa ingin berkeliling dunia, Daddy. Evelyn ingin mencari inspirasi di setiap negara yang aku singgahi. Makanya Evelyn ingin menjadi model agar mendapatkan uang untuk keliling dunia, Dad."
"Wow, amazing sekali putri Daddy. Kenapa kamu mempunyai pikiran seperti ini, Sayang. Uang Daddy sangat banyak, kamu boleh menggunakannya sesukamu," ucap Reigner pada putrinya. Dia tidak menyangka kalau Evelyn mempunyai pikiran yang dewasa juga.
"No, Daddy. Aku ingin keliling dunia dengan uang dari usahaku sendiri."
Rebecca tersenyum bangga dengan cara berpikir Evelyn. Dia juga tak menyangka jika putrinya yang bersifat keras kepala itu mempunyai pikiran yang dewasa.
"Kalau kamu ingin menjadi apa Boy?" tanya Reigner pada putranya.
"Aku ingin menjadi profesor Daddy," jawab Excel dengan santainya.
"Profesor? Itu sangat sulit sekali, Nak! Tapi apapun itu Daddy akan mendukung kalian. Kalau kamu jadi profesor dan adikmu jadi pelukis, lalu siapa yang akan meneruskan bisnis Daddy yang sekarang?"
__ADS_1
"Oh ya, mungkin Daddy harus mempunyai satu anak lagi dari Mommy kalian," ucap Reigner membuat mata Rebecca membulat.
"No Dad. No, jangan buatkan adik untukku. Aku tidak mau, mempunyai satu saja sangat menyebalkan. Apalagi dua," sahut Excel dengan melirik adiknya.
Evelyn pun tak menghiraukan sang Kakak. Dia tetap pada posisinya yang sedang bergelayut dengan manja di pundak sang ayah.
Mendengar anak dan cucunya bercerita membuat Teresa penasaran, kemudian dia turun dan ikut bergabung di ruang santai.
"Evelyn sayang, besok Grandma ingin menemanimu ke kantor. Boleh ya!" seru Teresa dari belakang.
"Boleh dong, Grandma! Kalau bukan Grandma siapa lagi? Kan kaki Mommy belum sembuh," ucap Evelyn untuk Neneknya.
Excel bangun dari pangkuan Reigner, kemudian dia beralih tempat ke pangkuan Rebecca. "Kamu pergilah adik jelek, biar aku yang menemani Mommy. Ya kan Mom?" ucap Excel pada Ibunya.
"Excel berhenti menggoda adikmu. Stop jangan bertengkar lagi, setiap kali kalian bertengkar kepala Mommy sangat pusing. Mengerti?"
"Mengerti Mommy!" sahut Excel dengan suara pelan.
Evelyn menjulurkan lidahnya melihat kakaknya ditegur. Lalu Excel pun tidak terima, dia menyenggol kaki Evelyn dengan menggunakan ujung kakinya. Evelyn pun menghindar dan dia menaikkan kakinya di paha sang ayah.
"Evelyn jangan begini. Nanti kamu jatuh, Honey!" seru Reigner dengan memegangi tubuh putrinya.
"Daddy, marahi Kakak! Mommy look! Kak Excel menggangguku lagi!"
Rebecca menarik nafas panjang kepalanya mulai pusing. "Excel, please dengarkan Mommy!"
Evelyn semakin kegirangan melihat Excel ditegur. Dia merasa menang dari kakaknya. Excel pun menatap tajam Evelyn, dia menunjukkan jari tengahnya ke arah sang adik. Hal itu membuat Evelyn tergelak dan semakin semangat menjulurkan lidahnya dengan tubuh menari-nari.
Akibat ulahnya, Evelyn pun kehilangan keseimbangan sehingga dia terjatuh dan menimpa tubuh Excel.
"Awww, Evelyn. Apa yang kamu lakukan? Mommy kakiku sakit, Evelyn berat sekali. Minggir kamu!"
Evelyn langsung bangkit dan turun dari tubuh sang kakak. Dia masih menari-nari dan bergoyang-goyang.
"Na na na na! Rasakan itu kakakku yang jelek. Bagaimana rasanya tertimpa tubuhku yang menggemaskan ini?"
"Dasar adik jelek, sini kamu!" Excel ingin bangun dari tempatnya. Namun Rebecca dengan cepat menahan tubuh putranya. "No, Excel. Mommy bilang stop!" seru Rebecca dengan nada tinggi.
Excel pun berhenti dan tidak jadi mengejar adikknya yang kabur ke lantai atas. Tawa Evelyn memenuhi ruangan dan membuat Excel semakin kesal.
__ADS_1
"Awas saja kamu Evelyn!" teriak Excel dengan keras.