Bayi Rahasia Sang Model

Bayi Rahasia Sang Model
BRSM 47


__ADS_3

Setelah puas mengganggu Excel, Evelyn naik ke atas menuju ke kamarnya. Dia sangat senang sekali bisa membuat kakaknya marah. Di dalam kamar dia masih tergelak mengingat wajah kesal Excel. "Hahaha, rasain kamu Kakak, tidak enak kan aku kerjain."


Evelyn naik ke atas kasurnya, dia ingin tidur karena sangat lelah sekali. Gadis kecil itu merebahkan diri dan tak lama kemudian pun tertidur.


Di lantai bawah, Excel masih bersungut-sungut dengan sikap adiknya. Dia merasa kesal sekali.


"Sayang, kamu masih kesal dengan adikmu?" tanya Rebecca dengan mengelus rambut putranya.


"Ya Mommy, dia adik paling menyebalkan sedunia," sahut Excel dengan nada kasar.


"Kalau kalian dewasa nanti pasti akan merindukan momen seperti ini Sayang." Rebecca terus menasehati Excel.


Reigner pun ikut bicara. "Benar kata Mommy, Excel. Mempunyai saudara itu sangat menyenangkan. Soalnya Daddy tidak merasakan itu karena Daddy adalah anak tunggal."


"Boy, kamu mau ikut Daddy tidak?"


"Kemana Dad?" tanya Excel penasaran.


"Pergi belanja, karena hari ini Daddy free jadi nanti malam mau masak spesial untuk kalian. Temani Daddy belanja ya," jelas Reigner pada Excel.


Excel pun berpikir, beberapa detik kemudian memutuskan. "Baiklah Dad, aku ikut Daddy belanja," jawab Excel, dia bangun dari pangkuan Ibunya.


"Baiklah, tunggu Daddy bersiap dulu."


Reigner naik ke atas untuk mengambil dompet dan juga berganti pakaian. Rebecca juga ikut senang karena Excel sudah mulai terbiasa dengan Ayahnya.


Beberapa menit kemudian, Reigner turun dengan memakai setelan baju santai. Dia mengenakan kaos kerah berwarna hitam dan celana chinos pendek berwarna coklat susu. "Ayo Boy, kita berangkat!"


Excel pun berpamitan dengan Ibu dan juga Neneknya. "Mommy, Grandma, Excel pergi belanja dulu bersama Daddy ya!"


"Iya hati-hati di jalan jangan bandel ya," jawab Rebecca.


"Excel selalu ikuti Daddy mu ya, jangan sampai terpisah," sahut Teresa mengingatkan.


"Oke Mommy, oke Grandma." Excel menjawab dan setelah itu pergi dengan Ayahnya.


Reigner menggandeng tangan Excel menuju ke garasi. Sesampainya di sana, Reigner meminta putranya untuk memilih salah satu mobil sport favoritnya.


"Silakan pilih mana mobil kesukaanmu, Boy!" ucap Reigner membuat mata Excel kagum melihat deretan mobil mewah di depannya.

__ADS_1


"Wow, Daddy. Its really? Daddy mempunyai mobil-mobil mewah ini," seru Excel kagum.


Reigner terkekeh melihat Excel yang kagum. "Ternyata benar kata adikmu, kamu menyukai tipe mobil sport seperti ini. Kelak kamu sudah dewasa, semua ini milikmu Boy. Ayo mau pilih yang mana?"


Excel berjalan dan menuju ke salah satu mobil berwarna hitam doff merk Porche. "Kita naik mobil ini saja Dad!"


"Oke Boy, ayo kita meluncur!"


Reigner dan Excel masuk ke dalam mobil. Mereka memasang seat belt dan setelah itu, mobil pun keluar dari dalam garasi. Reigner ingin menuju ke pusat perbelanjaan. Dia ingin menunjukkan bakat memasaknya pada Rebecca.


"Apa makanan kesukaanu Boy?" tanya Reigner pada putranya.


Excel menoleh dan menjawab."Anything, Dad. Aku tidak pemilih dalam hal makanan."


"Kalau Evelyn? Kamu tahu makanan kesukaannya apa?"


"Evelyn suka makanan pedas Daddy. Dia paling suka spaghetti," jawab Excel.


"Oke, kalau begitu Daddy akan memasak menu andalan untuk kalian."


Reigner mempunyai hobi memasak. Dia tipe pria yang sangat sayang pada keluarga. Sifatnya itu hanya Teresa yang mengetahui, karena di luar rumah sikapnya sangat dingin sama semua orang.


Reigner langsung menuju ke market place. Di sana bermacam-macam bahan makanan tersedia sangat lengkap sekali. Sesampainya di sana Reigner mengambil keranjang belanja. Dia mendorongnya sembari memilih bahan makanan.


"Excel kita menuju ke bagian sayur ya," ucap Reigner pada putranya.


Reigner langsung memilih sayuran seperti brokoli, asparagus, dan juga daun parsley. Dia ingin membuat Spaghetti kesukaan Evelyn dan juga beberapa makanan asli Italia.


Excel berjalan sembari mengamati setiap rak di kanan kirinya. "Daddy bolehkah aku mengambil snack di sana?"


"Boleh Boy, pilihlah mana yang kamu suka. Oh, ya pilihkan juga snack kesukaan adikmu ya!" ucap Reigner yang sedang memilih brokoli.


Excel segera menuju ke deretan rak snack. Dia memilih dan mencari snack kesukaannya. Excel pun memilih beberapa snack. Dia juga memilihkan untuk adiknya. Meski tidak akur, Excel selalu mengingat Evelyn di setiap kegiatannya.


Setelah mendapatkan snack kesukaannya, Excel kembali dan segera menghampiri ayahnya. Namun, dari kejauhan Excel melihat Reigner sedang didekati oleh wanita. Excel langsung berjalan cepat ke tempat Reigner berdiri.


"Daddy, aku sudah selesai memilih," seru Excel dengan mata melirik tajam.


Excel berjalan dan menyenggol sedikit wanita yang mendekati sang ayah. "Daddy ayo kita pergi ke bagian sana, aku tadi melihat makanan kesukaan Mommy," seru Excel dengan menarik tangan ayahnya.

__ADS_1


Reigner pun tersenyum melihat sikap Excel yang tengah cemburu padanya. Lalu, Reigner berpamitan dengan wanita itu. "Aku pergi dulu bersama putraku. Sampai jumpa. Bye!"


Reigner pergi dari tempat itu. Setelah jauh, Excel melepaskan gandengan tangannya dengan kasar. "Daddy suka sekali berdekatan dengan sembarang wanita," ucap Excel dengan suara ketus.


"Itu tadi salah satu teman bisnis Daddy, Boy. Daddy hanya mengobrol biasa saja," sahut Reigner menjelaskan.


"Ya, aku tetap saja tidak suka Daddy. Kalau sekali lagi, aku melihat Daddy berbicara dengan seorang wanita di luar jam kerja. Maka aku akan marah dengan Daddy!"


Reigner tersenyum lalu menyetujui permintaan putranya. "Baiklah, Daddy akan menerima persyaratan mu Nak!"


Setelah itu, Reigner melanjutkan kembali belanjanya. Dia berjalan kembali menuju ke tempat daging. Selesai memilih dan terasa cukup, Reigner segera menuju ke kasir untuk membayar belanjaan.


Selesai membayar, Reigner menenteng 2 kantong plastik besar yang berisi banyak sekali belanjaan.


"Apa Daddy sering melakukan belanja seperti ini?" tanya Excel penasaran.


"Ini pertama kali Daddy belanja, Boy," jawab Reigner senang.


"Apa Daddy tidak malu, berbelanja seperti ini?"


Reigner terkekeh dengan menggelengkan kepalanya. "Kenapa harus malu, Sayang. Ini adalah satu impian Daddy jika mempunyai sebuah keluarga."


"Besok ikutlah bersama Evelyn ke kantor, karena Daddy sudah menyiapkan baju pestamu. Baju ini keluar dan desain khusus oleh desainer di kantor Daddy. Bagaimana mau kan?"


Excel mengangguk. "Oke, karena Daddy yang meminta aku mau pergi."


"Good Boy!" Setelah itu Reigner segera pulang ke rumah karena hari sudah mulai sore.


Di Rumah.


Evelyn sedang berteriak memanggil Ayahnya. Dia kesal karena ditinggal berbelanja. "Daddy, aku ingin Daddy! No, Grandma. Aku ingin Daddy!"


Teresa bingung membujuk Evelyn yang terus menangis. Bahkan Rebecca pun tak sanggup jika sifat keras kepala putrinya itu muncul.


Tak lama kemudian, muncullah Reigner dan juga Excel. Reigner menyerahkan barang bawaannya pada pelayan. Setelah itu dia langsung cuci tangan dan menghampiri Evelyn ke kamar.


"Putrimu itu benar-benar, Mom sampai pusing membujuknya," seru Teresa pada Reigner.


"Gadis kecilku itu hanya iri dengan kakaknya, Mom. Dia hanya sedang berakting saja. Mom tahu kan bakat akting itu turun dari siapa?" sahut Reigner dengan melirik ke arah Ibunya.

__ADS_1


Teresa hanya menarik nafas dalam, dia tidak menanggapi ucapan Reigner. Meski ucapan itu sangatlah nyata.


__ADS_2