Bayi Rahasia Sang Model

Bayi Rahasia Sang Model
BRSM 38


__ADS_3

Malam hari yang sunyi Rebecca belum bisa memejamkan mata. Ada suatu ucapan yang sangat menggangu. Perkataan Reigner lah yang mampu menyentuh hati dan juga perasaannya.


"Ada apa dengan ku? Mengapa aku tidak bisa tidur," ucap Rebecca dalam hati.


Rebecca membuka handphone, dia melihat video shownya bersama Reigner. "Dia pria yang baik. Namun, sayang sekali. Pertemuan ku denganya lewat kejadian yang buruk," gumam Rebecca pelan.


"Satu hal yang aku inginkan. Aku ingin lepas dari jeratan si Mario. Aku takut dia murka disaat tahu kenyataan yang sebenarnya. Ahh, membuatku dilema saja." Rebecca terus bergumam sendiri, hingga tak lama kemudian dia pun tertidur.


Keesokan harinya.


Rebecca sedang bersiap untuk pergi bekerja. Hari ini Reigner akan menjemputnya, sekalian membawa Excel dan Evelyn berkunjung ke rumah sang Nenek.


"Sayang kalian sudah siap-siap belum?" seru Rebecca membuka pintu kamar anaknya.


Rebecca menggelengkan kepalanya melihat Excel yang belum bersiap. "Excel kamu cepat mandi, kali ini jangan menolak. Semalam kamu sudah berjanji dengan Mommy, Sayang!"


"Mommy, Evelyn sudah siap! Bagaimana cantik kan aku, Mommy?" seru Evelyn mencari perhatian Ibunya.


"Iya, putri Mommy hari ini cantik sekali. Tumben kamu memuji diri sendiri cantik, Evelyn?"


Evelyn terkekeh. "Sekali-kali boleh kan, Mom!" jawab Evelyn dengan memeluk kaki Ibunya.


"Iya, boleh Sayang. Excel cepat ya, karena sebentar lagi Daddy akan menjemputmu," ucap Rebecca pada putranya.


Excel menoleh ke arah Ibunya. "Jadi Mommy sudah mengakuinya?"


"Ya, setelah Mommy pikir. Kalian membutuhkan seorang figur Ayah, agar ada yang melindungi kalian," jawab Rebecca dengan penuh keyakinan.


Tak lama kemudian, bel pintu berbunyi."Cepat mandi ya Excel. Mommy membuka pintu dulu."


Rebecca turun ke bawah untuk membukakan pintu. Setelah pintu terbuka betapa terkejutnya dia melihat seseorang yang sedang berdiri tegap di depannya.


"MA-MARIO," ucap Rebecca dengan mata melotot.

__ADS_1


"Halo Baby, selamat pagi! Aku sangat merindukanmu," ucap Mario dengan senyum seringai.


Mario ingin menyentuh wajah Rebecca. Namun, Rebecca mundur ke belakang dengan kaki gemetar.


"Kenapa Sayang? Kamu tidak rindu padaku? Juga kamu memblokir telah nomorku? Apa kamu sudah mulai berani padaku? Ayo bicaralah, aku rindu suaramu," ucap Mario, dengan tatapan tajamnya.


Rebecca tidak dapat bicara, mulutnya bungkam dan lidahnya sangat kelu. Mario terus berjalan maju membuat Rebecca sangat takut.


"Stop Mario, jangan mendekat? Me-menjauhlah dariku," seru Rebecca dengan gugup.


"Why Baby? Kamu tidak ingin aku masuk ke dalam? Aku sangat merindukanmu." Mario maju ke depan dan ingin memeluk Rebecca. Namun, suara Evelyn tiba-tiba memecah ketakutan Rebecca.


"Mommy, siapa yang datang Mommy? Apa Daddy sudah sampai?" teriak Evelyn turun dari tangga.


Rebecca semakin gugup melihat Evelyn yang menghampirinya. Akhirnya, Evelyn telah sampai di bawah dan melihat Ibunya tengah di peluk oleh seseorang.


"Mommy, siapa dia Mommy? Dimana Daddy?" tanya Evelyn dengan muka polosnya.


Mario menoleh ke arah Evelyn. Dia tampak terkejut melihat Evelyn yang memanggil Ibunya. "Mommy? Daddy? Siapa dia Rebecca? Kenapa dia memanggil mu Mommy?" tanya Mario penasaran.


Rebecca terkejut melihat sikap Evelyn yang sangat berani. Lalu, dia menarik Evelyn dalam pelukannya. "Evelyn kamu masuk ke kamar ya. Please sekarang kamu masuk ke kamar dan menutup pintu."


"No, Mommy! Aku tidak suka dengan Uncle ini. Dia jahat Mommy, usir dia dari sini Mom."


"Uncle, kamu lebih baik pergi dari sini. Aku tidak suka melihatmu, Uncle sepertinya orang yang tidak baik," seru Evelyn dengan lantang. Dia tidak takut dengan wajah garang Mario.


Mario tersenyum tipis dan melihat ke arah Rebecca yang semakin ketakutan. "Apa kamu tidak ingin menjelaskan sesuatu padaku, Sayang? Aku masih menunggu jawabanmu."


"Be-benar, dia adalah anakku." Rebecca menjawab dengan menundukkan kepala.


"Wow, kejutan yang sangat mencengangkan sekali. Jadi kamu sudah membohongi publik selama ini Rebecca. Apa kamu tidak takut mendekam dalam penjara? Aku bisa menuntutmu dengan kasus pemalsuan identitas," ucap Mario dengan nada mengancam, hal itu membuat Rebecca semakin tersudut.


Rebecca menggelengkan kepalanya. "Jangan Mario, aku tidak bisa jauh dari anakku."

__ADS_1


"Kalau begitu ikut aku kembali ke California, sekarang." Mario menarik paksa tangan Rebecca dengan seluruh kekuatannya.


Hal itu membuat Evelyn panik, lalu mencegah Mario yang ingin membawa Rebecca pergi. "Lepaskan tangan Mommy ku. Jangan bawa Mommy ku pergi! Kakek, Nenek, tolong Mommy! Ada orang jahat yang ingin membawa Mommy pergi!


Mendengar Evelyn yang berteriak membuat Paulina dan Abrein keluar. Mereka terkejut melihat Mario yang menarik tangan Rebecca. "Nona, Nona," seru keduanya.


Mario langsung memanggil bodyguardnya untuk mengamankan mereka. Bodyguard itu mengeluarkan senjata api untuk menakut-nakuti Evelyn dan yang lainnya.


"Ma-Mario please aku mohon jangan sakiti mereka. Baiklah aku akan ikut denganmu, tapi jangan sakiti mereka," ucap Rebecca memohon.


"Harusnya kamu menurut dari tadi, Sayang. Ayo kita pergi!"


"Mommy jangan pergi, Mommy! Mommy." Evelyn berteriak dan memegangi tangan Ibunya. Dia menarik dengan sekuat tenaga agar Rebecca tidak pergi.


"Evelyn, kamu menjauhlah dari sini, Nak!


"No, aku tidak akan membiarkan Mommy pergi dengan Uncle itu. No Mommy."


Paulina dan Abrein ingin mendekat namun, mereka diancam menggunakan senjata api.


Merasa tidak kuat, Evelyn melepaskan tangan Ibunya dan beralih menggigit tangan Mario dengan kuat. Lalu, dengan gerakan refleks Mario menghempaskan tubuh Evelyn hingga terjungkal ke lantai.


"Dasar, anak sialan! Beraninya kamu menggigit tangan ku, ha!" sentak Mario dengan emosi.


Evelyn meringis kesakitan, Rebecca menangis melihat hal itu. "Aku mohon Mario jangan sakiti anakku. Dia hanya anak kecil, tolong jangan sakiti dia."


"Kalau begitu suruh dia menjauh, dan jangan menggangguku." Mario menarik tangan Rebecca lagi, dan dia mengisyaratkan pada bodyguardnya untuk mengambil kunci pintu.


Bodyguard itu menurunkan senjatanya dan ikut pergi dengan mengunci pintu dari luar.


Evelyn pun berdiri, dia berteriak dan menggedor pintu dengan keras. "Mommy, jangan bawa pergi Mommy ku. Mommy!"


Paulina langsung menghubungi Reigner, dan Evelyn terus berteriak memanggil Ibunya.

__ADS_1


Di luar, Rebecca dipaksa Mario untuk masuk ke dalam mobil. Selama setahun, inilah yang dikhawatirkan Rebecca. Dia tahu kalau Mario mempunyai peringai buruk. Pria itu bisa kejam terhadap seseorang. Dia tak segan untuk membunuh siapapun yang mengganggunya. Hal itulah yang ditakutkan Rebecca.


"Kamu harus menebus kesalahanmu ini, Sayang. Terimalah hukuman mu nanti. Aku tidak akan membiarkan mu lolos kali ini," ucap Mario dengan mencengkeram kuat pipi Rebecca.


__ADS_2