Bayi Rahasia Sang Model

Bayi Rahasia Sang Model
BRSM 58


__ADS_3

Reigner telah sampai di rumah sakit. Dia langsung menuju ke ruang rawat Ibunya. Reigner masuk ke dalam dengan sangat panik. Sesampainya dalam ruangan, dia melihat Ibunya masih pingsan dengan tangan diperban.


"Mom kenapa jadi seperti ini? Edward apa yang terjadi?" tanya Reigner pada Edward asistennya.


Edward pun langsung menjawab pertanyaan Reigner. "Nyonya ditemukan oleh seseorang yang ada di jalan. Nyonya a terlihat minta tolong dan sopir dalam keadaan pingsan. Menurut saksi mata, mobil Nyonya dipepet oleh mobil lainnya. Setelah itu ada gerombolan orang berbadan kekar meminta Nyonya untuk keluar dari mobil dan mereka membawa Nona muda dan Tuan muda."


"Apa kamu sudah melaporkan ini ke polisi?"


"Sudah Tuan, polisi sedang memeriksa kasus ini," jawab Edward.


"Ada hal yang mencurigakan Tuan, Nona Caroline tadi siang datang ke kantor dengan dua orang pria. Tapi setelah saya cek cctv jejak mereka tidak ada Tuan!"


Reigner terkejut mendengar laporan Reigner. Dia mematikan teleponnya, dan mencoba menggabungkan teka-teki yang ada di kepalanya.


"Atau jangan-jangan target mereka adalah Rebecca. Edward tolong selidiki kasus ini segera, aku ingin kamu meretas handphone milih Rebecca sekarang, karena nomornya tidak bisa di hubungi," seru Reigner sangat panik.


"Ba-baik Tuan," seru Edward panik.


Tak lama kemudian Teresa sadar dan langsung berteriak memanggil kedua cucunya.


"Excel, Evelyn. Jangan bawa pergi cucuku!" teriak Teresa keras.


Langsung membalikkan badan dan menghampiri Ibunya. "Mom, bagaimana keadaanmu Mom?"


"Rei, selamatkan anakmu Rei! Selamatkan Excel dan Evelyn mereka dibawa juga penculik. Cepat laporkan polisi Rei! Mom takut terjadi sesuatu pada mereka."


Teresa terus menangis khawatir dengan keadaan Excel dan Evelyn. Lalu Reiner menanyakan bagaimana kronologi yang sebenarnya?


"Mom ceritakan padaku apa yang terjadi tadi? Apa ada sesuatu yang mencurigakan?" tanya Reigner pada Ibunya.


Teresa terdiam dan memikirkan sesuatu. Setelah itu dia menjawab pertanyaan Reigner. "Di kantor tadi ada wanita itu. Dia datang kembali ke kantor, Rei. Dia datang dengan membawa dua orang pria. Namun, pria itu keluar dari kantor membawa barang-barang milik wanita itu. Mom juga tidak menegurnya karena merasa itu tidak penting."


"Setelah pemotretan di kantor Excel dan Evelyn menjalani pemotretan di outdoor. Tentu saja kita pergi menuju ke lokasi. Tapi setengah perjalanan kemudian, mobil kami dipepet dengan mobil lain. Lalu, ada beberapa orang yang keluar dengan membawa pistol. Mereka berjalan menghampiri mobil kita. Mereka menggedor-gedor jendela mobil dengan menodongkan pistol dan memaksaku untuk keluar. Setelah itu Mom keluar dan mereka langsung menarik Excel dan Evelyn. Mereka membawa cucuku pergi Rei. Mom, mencoba untuk menghentikan mereka tapi tenaga Mom tidak kuat."

__ADS_1


Teresa bercerita dengan sangat sedih pada anaknya. Reigner juga sangat bingung harus memulainya dari mana. "Tenang saja Mom, aku sudah lapor polisi untuk membantu pencarian. Saat ini Rebecca juga menghilang dan aku tidak bisa menghubungi handphonenya."


"Apa Rebecca menghilang? Atau jangan-jangan ini semua ada hubungannya Rei. Atau target mereka sebenarnya adalah Rebecca dan dia menggunakan Excel dan Evelyn sebagai sandera," ungkap Teresa, dia bisa menebak kondisi yang terjadi.


Reigner melamun lalu menjawab, "Aku juga berpikiran seperti itu Mom. Ini semua pasti ulah pria brengsek itu. Mom tidak apa-apa kan, jika Rei tinggalkan Mom di sini sendiri?"


Teresa menggelengkan kepalanya. "Mom tidak apa-apa, kamu sekarang cepat selidiki dan cari mereka. Jangan sampai terlambat, Rei!"


"Baik Mom, kalau begitu Rei pergi dulu!"


Setelah berpamitan pada Ibunya, Reigner pun pergi menuju ke kantor. Dia ingin memeriksa sesuatu untuk memastikan kecurigaannya.


Di Tempat Lain.


Evelyn sadar dari pingsannya. Dia membuka mata dan melihat ke sekeliling. Dia terkejut karena berada di sebuah rumah kayu dan keadaannya sangat gelap. Evelyn pun segera membangunkan Excel. Dia memanggil sang kakak dengan suara yang keras.


"Kak, Kakak. Bangun Kakak! Kita ada dimana?" seru Evelyn membangunkan kakaknya.


"Kita sedang diculik Kak. Kita harus bisa kabur Sepertinya kita tidak sedang dijaga, Kak!" ucap Evelyn dengan melonggarkan ikatan kakinya.


"Kabur? Bagaimana caranya kabur kalau kaki dan tangan kita terikat seperti ini Evelyn?"


Lalu Evelyn pun bicara pelan pada sang kakak. "Kakak tenang saja aku menyimpan pisau lipat di bawah sepatuku. Sejak ada kejadian Mommy diculik penjahat, aku selalu sedia pisau lipat Kak. Aku selalu membawanya ketika kita pergi."


"What? Evelyn itu sangat berbahaya, kamu dapatkan dari mana pisau itu?"


"Aku mendapatkannya dari Kakek Abrein, Kak! Aku menyembunyikan pisau itu ketika aku sedang ada di kamarnya," jawab tanpa rasa takut.


Evelyn masih berusaha untuk melepaskan ikatan di kakinya. Namun, usahanya itu sangat sulit dilakukan karena ikatan itu sangatlah kencang.


"Kak, Kakak coba bergeser lalu kita saling melepaskan ikatan di tangan. Kita duduk saling membelakangi, lalu aku akan lepaskan ikatan Kakak dan kakak lepaskan ikatan tanganku, oke!"


Mengatur strategi untuk meloloskan diri. Dia bekerja sama dengan kakaknya untuk melepas tali ikatan di tangan dan juga kaki. Hari sudah semakin sore dan keadaan di sekitar sudah hampir gelap.

__ADS_1


Setengah jam berlangsung, akhirnya Evelyn bisa mengendurkan tali ikatan di tangan Excel. Akhirnya ikatan tali itu pun terlepas. Setelah itu Excel membantu Evelyn untuk melepaskan ikatan talinya.


"Yes, kita berhasil Kak!" ucap Evelyn dengan melepaskan ikatan tali di kakinya.


Evelyn langsung mengambil pisau lipat itu di dalam sepatunya. Setelah dapat dia langsung memotong tali yang mengikat kaki Excel karena ikatan itu sangat kuat. Akhirnya mereka berdua bisa melepaskan diri. Lalu Excel dan Evelyn ingin kabur dari rumah kayu itu.


"Kak, ayo kita cepat pergi dari sini!Sebelum mereka datang kembali," seru Evelyn mencari jalan keluar.


"Tapi kita lewat mana, Evelyn? Kamu lihat pintunya pun terkunci," sahut Excel tak kalah panik.


Evelyn terdiam sesaat dia berkeliling ruangan untuk mencari sebuah celah. Tak lama kemudian, Evelyn mendapatkan sebuah ide. "Kita lewat jendela itu saja Kak. Kita coba hancurkan jendela itu dengan kursi ini."


Exel menganggukkan kepala, lalu dia mengambil kursi untuk menghancurkan kaca jendela. Excel berjalan dan mengambil kursi kayu itu. Lalu dengan sekuat tenaga, dia melempar kaca jendela itu dengan kursi yang di bawanya. Hanya dengan satu kali lempar kaca jendela itu hancur berkeping keping.


"Berhasil Kak! ayo kita segera pergi dari sini," seru Evelyn senang.


Excel membantu adiknya keluar terlebih dahulu. Setelah Evelyn berada di luar, kini gilirannya untuk melompat. Ketika Excel ingin melompat, tiba-tiba saja penculik itu masuk ke dalam rumah kayu tersebut. Mereka mendapati Excel dan Evelyn yang telah kabur.


"Hei, mau pergi ke mana kalian anak kecil?" teriak penculik itu.


Excel menoleh kaget, lalu dengan cepat dia melompat keluar jendela. Namun sesuatu yang buruk terjadi. Kaki Excel keseleo karena kurang hati-hati.


"Aww, kakiku," ucap Excel kesakitan.


Evelyn yang sangat panik langsung menarik tangan kakaknya untuk segera kabur dari rumah tersebut. "Ayo Kak, penculik itu datang!"


Excel langsung mengikuti langkah adiknya meskipun kakinya sedang sakit. Dia berusaha berlari agar tidak tertangkap lagi. Excel dan Evelyn masuk ke dalam hutan untuk menghindari kejaran penculik. Berlari dengan sekuat tenaga menerjang semak belukar yang menghalangi jalannya.


"Hai berhenti! Jangan lari kalian!"


"Ayo Kak cepat, kita harus bersembunyi!"


Suara penculik itu terus terdengar sehingga membuat Excel sangat panik. Evelyn terus menarik tangan kakaknya dengan erat. Dalam hatinya dia harus bisa kabur dari kejaran penculik itu. Tanpa rasa takut Evelyn terus masuk ke dalam hutan padahal keadaan sudah mulai malam.

__ADS_1


__ADS_2