Bayi Rahasia Sang Model

Bayi Rahasia Sang Model
BRSM 62


__ADS_3

Di dalam kamar, Teresa sedang cemas memikirkan nasib kedua cucunya yang sampai saat ini belum ada kabar. Reigner terus melakukan pencarian, dan ada kabar menyebutkan bahwa kedua anaknya berada di daerah hutan.


Secepat mungkin langsung mengirim tim pencarian ke area hutan tersebut. Selanjutnya dia ingin pergi ke California untuk menjemput Rebecca, karena dia sudah menemukan lokasi dimana Rebecca diculik.


"Rei, kamu harus hati-hati ya, Nak! Bawa Rebecca pulang, segera temukan Excel dan Evelyn," ucap Teresa pada putranya.


"Rei akan berusaha, Mom! Aku sudah menyuruh Edward untuk mencari Excel dan Evelyn di hutan. Malam ini aku akan berangkat ke California."


Teresa mengangguk, dia merestui kepergian anaknya untuk mencari Rebecca.


Malam hari, tepat pukul 11 malam. Reigner berangkat ke bandara bersama dengan anak buahnya. Dia pergi dengan sangat yakin, bahwa akan membawa Rebecca pulang. Perjalanan ke California membutuhkan waktu kurang lebih 16 jam.


Di dalam pesawat, Reigner tidak bisa tidur. Dia sangat mengkhawatirkan Excel dan Evelyn. "Maafkan Daddy, Excel, Evelyn. Daddy memutuskan untuk mencari Mommy mu," ucap Reigner dia sangat bingung dengan perbedaan tempat dan masalah.


Pagi Hari di California.


Rebecca sedang menyisir rambutnya di depan cermin. Dia memakai baju yang bagus dan juga ber-make up cantik. Selesai menyisir, Rebecca berdiri dari tempatnya. Tak lama kemudian, pelayan masuk ke dalam membawa sarapan.


"Bawa keluar, karena aku ingin makan di luar," seru Rebecca pada pelayan itu.


"Tapi Nona, Tuan tidak mengizinkan," jawab pelayan itu penuh kebingungan.


Rebecca berkacak pinggang dan berbicara dengan nada ketus. "Kalau begitu sana minta izin dulu, bilang saja kalau aku ingin sarapan pagi bersamanya."


Pelayan itu sedikit terkejut dengan ucapan Rebecca. "Ba-baik Nona! Saya akan beritahukan pada Tuan."


Pelayan itu keluar dan kembali mengunci pintu. Setelah itu dia pergi melapor kepada Mario yang sedang duduk di meja makan. Sesampainya di bawah pelayan itu pun berkata, "Tuan, Nona Rebecca menolak untuk sarapan di kamar. Dia ingin makan di sini bersama Tuan."


Mario menegakkan kepalanya, sesaat kemudian dia tersenyum. " Biarkan dia keluar,"jawab Mario tegas.


"Baik Tuan," jawab pelayan itu, dia kembali ke atas untuk membukakan pintu kamar Rebecca.


Di dalam kamar, Rebecca menunggu dengan cemas. Dia khawatir kalau tidak diizinkan untuk keluar. Tak lama kemudian, pintu kembali terbuka. Pelayan masuk dan berkata. "Tuan mengizinkan Nona untuk keluar."

__ADS_1


"Benarkah? Baiklah terima kasih," ucap Rebecca melenggang keluar dari kamarnya. Perasaannya sedikit lega bisa keluar dari sangkar emas itu.


Rebecca turun dan melihat Mario sedang menunggunya di meja makan. "Baby, come on! Temani aku sarapan!"


Rebecca menarik nafas dalam dan menjawab. "Aku tidak menyangka kamu mengizinkan aku keluar dari kamar. Apa kamu tidak takut aku akan kabur?" Rebecca menarik kursi dan duduk di sebelah Mario.


Mario tergelak. "Kamu tidak akan bisa kabur dari sini, Sayang. Jadi apa kamu sudah berubah pikiran?"


"Bagaimana aku menjawabnya? Aku ingin mencoba dulu. Apakah aku bisa cocok denganmu, jadi jangan terus-terusan mengurungku di dalam kamar. Nanti aku bisa gila."


"Hahaha! Kalau kamu bisa patuh dan menurut, tentu saja aku tidak akan mengurungmu. Aku akan melakukan yang terbaik agar kamu tetap nyaman. Bagaimana penawaran sangat baik kan?" ucap Mario meyakinkan Rebecca.


Rebecca meminum segelas susu, setelah itu dia meletakkan kembali gelasnya. "Kalau soal itu, tergantung bagaimana caramu untuk menarik perhatian ku!"


Mario tersenyum sinis, dia berdiri dan langsung menyambar bibir Rebecca untuk diciumnya. Hal itu membuatnya terkejut dan segera menarik diri, karena Mario begitu kuat mengh!s4p bibirnya.


Rebecca langsung mengelap bibirnya itu dengan tisu. Lalu, Mario berdiri dibelakangnya. Pria itu berbisik pelan pada Nona "Kenapa kamu mengelap bibir? rasa bibirmu itu sungguh manis, aku sangat menyukainya! Aku akan membiarkan mu keluar dari kamar. Aku tidak tahu trik apa yang sedang kamu rencakan untukku. Tapi kamu juga harus waspada karena aku bukan orang bodoh yang bisa terjebak ke dalam trik murahan."


Rebecca menelan ludahnya. Jantungnya berdetak kencang mendengar ancaman Mario. Namun, dia mencoba untuk tenang agar rencananya berhasil. Rebecca tersenyum dengan manis. Dia mengelus wajah Mario yang sedang ada didekatnya itu.


Mario terdiam sesaat, dia terkesima dengan wajah manis yang ada di depannya. "Aku harap kamu bisa seperti ini terus, Baby! Aku suka dengan sikapmu yang seperti ini! Baiklah ayo kita sarapan, karena sebentar lagi aku akan ke kantor."


Mario mengecup kembali pipi Rebecca, kemudian dia kembali duduk. Di bawah meja, satu tangan Rebecca mencengkeram erat dress-nya. Ingin sekali dia menampar wajah Mario, karena sikapnya yang selalu berkuasa.


"Aku tidak boleh gagal dengan rencana ini. Aku harus bisa pergi nanti malam," ucap Rebecca dalam hati.


Di Tempat Lain.


"Evelyn, bangun Evelyn! Evelyn jangan tinggalkan Kakak! Evelyn bangun!" Excel berteriak memanggil sang adik yang pingsan.


Sejak memutuskan melanjutkan perjalanan kemarin membuat Evelyn sangat kelelahan. Tepat di sore hari Evelyn mengeluh sakit kepala, perut sakit dan mual. Hal itu juga dirasakan oleh Excel. Namun, dia tidak terlalu parah.


Akhirnya mereka memutuskan untuk istirahat karena hari sudah malam. Akan tetapi, ketika pagi datang Excel di kejutkan dengan Evelyn yang belum bangun. Badannya panas, keringat dingin bercucuran, bibir Evelyn juga sedikit membiru.

__ADS_1


Excel sangat panik, padahal sedikit lagi dia akan sampai di bawah. Dari kejauhan sudah terdengar air gemericik itu tandanya ada sungai yang mengalir di bawah sana. Excel meletakkan kepala Evelyn di rerumputan. Excel memindahkan tubuh Evelyn di tempat yang aman. Dia berdiri dan bertekad turun ke bawah untuk mencari bantuan.


"Evelyn tunggu Kakak! Maaf Kakak meninggalkan mu di sini dulu. Kakak akan turun dan mencari bantuan, Kakak akan segera kembali."


Excel berjalan tertatih dengan menggenggam pisau kecil di tangannya. Dia mengikuti cara Evelyn untuk meninggalkan jejak di setiap langkah yang dilewati. Excel harus menempuh jarak yang cukup jauh, dengan kondisi yang belum pulih benar dia memaksakan diri demi sang adik. Kaki Excel masih bengkak, bahkan terlihat besar sebelah.


Di bawah, Edward bersama tim SAR segera berpencar untuk melacak keberadaan anak tuannya. Tim SAR menggunakan drone dan juga helikopter untuk mempermudah pencarian. Edward masuk ke dalam helikopter tersebut, dia mengamati semua tempat yang di lacak dengan drone itu melalui monitor.


Di dalam hutan, Excel terus berjalan. Air matanya menetes mengingat kondisi sang adik. "Evelyn jangan tinggalkan Kakak. Kakak akan berusaha menyelamatkan mu. Tunggu Kakak, Evelyn tunggu Kakak!"


Excel mengusap air matanya, lalu samar-samar dia mendengar suara helikopter dia atas langit. Excel menghentikan langkahnya dan mendongak ke atas. Benar ada helikopter yang melintas. Excel senang, dia bisa meminta bantuan.


Dia berjalan ke tempat yang lapang, lalu dia berdiri di atas batu dan melambaikan tangannya ke arah helikopter itu. Excel melambai-lambai dan terus berteriak. "Woi, aku butuh bantuan. Tolong bantu aku!"


Excel terus berteriak, kemudian matanya melihat ada sebuah drone yang melintas. Dia mengejar drone itu dengan susah payah. "Daddy, Daddy menyelamatkan aku," gumamnya.


"Woi, berhenti! Help me! Help me!" Excel terus berteriak sekuat tenaga. Dia berlari terseok-seok hingga langkanya berhenti karena tersandung akar pohon.


"Hei, berhenti! Tolong aku!"


Di dalam helikopter, Edward terus memantau monitor. Lalu salah satu tim SAR menemukan keberadaan Excel. "Ketemu Tuan, ada anak kecil berada di bawah kita."


Edward langsung menoleh ke monitor. "Benar, dia adalah Tuan muda! Cepat siapkan peralatan untuk turun!"


Para tim SAR segera menyiapkan alat untuk timnya dan juga Edward. Helikopter terbang merendah di sekitar Excel terjatuh.


Di bawah sana, Excel terlihat senang karena dia berhasil mendapatkan pertolongan. Dia mencoba bangkit meski tubuhnya tak kuat lagi. Kepalanya mendongak ke atas, terlihat ada 4 orang yang turun ke bawah.


Excel berdiri dengan kaki gemetar. Dia terus menyeka air matanya yang terus keluar. Akhirnya, Edward berhasil turun ke bawah. Excel langsung berlari memeluk asisten ayahnya itu.


"Uncle! Tolong Evelyn, Uncle! Evelyn sakit! Dia pingsan, bibirnya membiru! Cepat Uncle kita kesana. Selamatkan Evelyn!"


Excel menangis memeluk Edward. Lalu dengan cepat Edward menggendong tubuh Excel yang terlihat sangat lemah. "Baik Tuan muda ayo kita kesana."

__ADS_1


Edward bersama tim SAR berjalan menuju ke tempat dimana Evelyn berada. Sungguh perjuangan sekali bagi mereka untuk keluar dari masalah yang sulit itu.


__ADS_2