
Perjalanan menuju ke kantor ditempuh selama setengah jam saja. Mobil yang dinaiki Evelyn tiba terlebih dahulu. Mereka semua turun dari mobil dan telah disambut oleh salah satu karyawan yang bertanggung jawab atas project Evelyn.
"Mari silahkan masuk dan ikuti saya Nyonya," ucap karyawan itu mempersilakan Teresa masuk bersama kedua cucunya.
Setelan mereka masuk, Reigner pun tiba. Dia memarkirkan mobilnya di depan kantor. Setelah parkir, Reigner keluar dan segera membukakan pintu untuk Rebecca.
Rebecca keluar dengan meraih tangan Reigner, karena kebetulan dia sedang memakai high heels. Mereka berjalan dengan serasi, dan menjadi pusat perhatian saat masuk ke dalam.
"Lihatlah semua orang memandang kita berdua," ucap Reigner dengan bangga.
"Cih, apakah aku harus berakting kali ini agar mereka semua iri?" sahut Rebecca dengan mengeratkan gandengannya pada tangan Reigner.
Reigner semakin bersemangat, dia berjalan dengan tangan merangkul pinggang ramping Rebecca. "Aku hanya mengimbangi wanita ku saja," bisik Reigner pelan.
Rebecca menarik nafas dalam. "Cih siapa yang kamu sebut wanitamu?"
"Tentu saja kamu calon istriku," bisik Reigner pelan.
"Aku belum menyetujuinya, tapi kamu sudah mengeklaim aku sebagai milikmu."
"Sudah diam, atau aku cium kamu," seru Reigner karena ucapannya selalu didebat oleh Rebecca.
Rebecca memelototkan matanya ke arah Reigner. Setelah itu, Reigner mengajak Rebecca masuk ke dalam ruangan kerjanya. Sesampainya di dalam, Rebecca langsung melepaskan tangan Reigner yang merangkul pinggangnya.
"Akting sudah selesai Tuan," ucap Rebecca angkuh.
"Oh ya, dimana ruangan Evelyn? Aku ingin kesana."
Reigner duduk di kursinya lalu menjawab, "Ada di lantai 7, tapi aku tidak bisa mengantar mu ke sana."
"Tidak apa-apa, aku bisa pergi sendiri." Rebecca keluar dari ruangan Reigner. Setelah itu dia berjalan menuju ke lift untuk menemui kedua anak kembarnya. Di depan lift, Rebecca bertemu dengan Caroline.
Caroline berjalan dengan angkuh ke arah Rebecca. Lalu dengan sengaja dia menyenggol Rebecca dan hampir membuatnya terjatuh.
__ADS_1
"Opps Sorry! Aku tidak melihat dirimu berdiri disini," ucap Caroline dengan nada remeh.
Rebecca menarik nafas dalam. Lalu berjalan mendekati Caroline. "Ya jelas saja kamu tidak melihatku di sini, karena kamu melihat tidak pakai mata tapi pakai kaki. Atau mungkin matamu rabun?"
Rebecca berbicara sangat sengit dengan Caroline hingga membuat wanita itu kesal. "Kamu siapa beraninya berkata seperti itu padaku?"
Rebecca terkekeh geli. "Apa aku harus memberitahu mu dulu? Takutnya nanti kamu akan menyesal setelah mendengar penjelasan ku."
Tak lama kemudian, pintu lift terbuka. Rebecca ingin masuk ke dalam, namun tiba-tiba saja Caroline menariknya, "Mau pergi kemana kamu jalaang!" seru Caroline dengan ucapan kasar.
Rebecca terkejut mendengar ucapan Caroline. Dia berdiri dengan tegap dan memasang wajah tidak suka.
"Kenapa kamu tidak suka dengan nama panggilan ku tadi? Atau kamu terlalu tuli untuk mendengarnya?" cibir Caroline dengan sombongnya.
Rebecca diam dan mengamati wanita yang berdiri di depannya itu. Dia ingin melihat sejauh mana Caroline mengungkapkan isi hatinya.
Caroline mendekati Rebecca yang sedang bersilang tangan. "Kamu adalah seorang jalaaang liar yang dipungut oleh Reigner. Kamu sudah menggunakan cara yang murahan dengan membawa kedua anakmu itu."
Caroline terus menghina Rebecca. Dia tidak tahu kalau Rebecca sedang menahan diri untuknya.
"Sudah bicaranya? Kalau begitu aku pergi dulu!" Rebecca membalikkan badan dan ingin pergi dari tempat itu. Akan tetapi, Caroline tetap saja mencegahnya.
"Tunggu dulu, aku belum selesai." Caroline mencoba menarik tangan Rebecca. Namun dia tidak berhasil karena Rebecca menghindar. Alhasil Caroline terjatuh ke lantai akibat ulahnya sendiri.
"Awww, dasar kurang ajar kamu ya!" teriak Caroline dengan keras.
"Sorry, sengaja menghindar. Oh ya, daripada kamu bicara omong kosong di sini. Lebih baik kamu belajar dulu cara bermake-up yang benar. Apa kamu tidak mempunyai cermin di rumah? Atau kamu tidak punya assisten untuk membantu bermake-up?
Caroline semakin meradang, dia tidak menyangka kalau Rebecca ternyata sangat berani terhadapnya. Dia berdiri dan ingin menampar wajah Rebecca. Namun tamparan itu lagi-lagi ditepis olehnya.
"Mau mencoba menamparku? Tidak semudah itu." Rebecca menghempaskan tangan Caroline hingga membuat wanita itu terjungkal.
"Aww, dasar wanita gilaa. Beraninya kamu melawanku."
__ADS_1
"Kamu yang gilaa, kita tidak saling kenal tapi beraninya kamu menghinaku. Apa kamu tidak pernah sekolah, Ha?" Rebecca mengangkat tangannya dan ingin menampar wajah Caroline.
Lalu, disaat yang bersamaan. Muncullah Reigner dari dalam ruangannya. "Ada apa ini?"
Tangan Rebecca terhenti, dan dia tidak jadi menampar wajah Caroline. Melihat Reigner keluar membuat Caroline menjadi percaya diri. Dia mencoba mendekati Reigner dan mengadukan perlawanan Rebecca.
"Rei, tolong aku. Dia ingin menampar wajahku, "ucap Caroline berlari ke arah Reigner yang masih berdiri.
Caroline bergelayut manja di lengan Reigner hingga membuat Rebecca merasa muak. Setelah itu dia memutuskan untuk turun dan tidak mempedulikan Caroline yang tengah mencari pembelaan.
Rebecca melangkahkan kaki ke dalam lift dan Reigner mencegahnya kembali. "Rebecca mau pergi kemana kamu?"
"Lepas, jangan hentikan aku! Lebih baik kamu urus saja si ulat bulu itu. Badanku terasa gatal jika berdekatan dengannya," jawab Rebecca dengan sinis.
Rebecca mendorong tubuh Reigner ke belakang dan pintu lift itu pun tertutup.
"Rebecca, tunggu!" teriak Reigner namun, lift itu sudah turun ke bawah.
Reigner membalikkan badan dan memarahi Caroline. "Kamu sedang apa di sini? Lalu apa yang ingin kamu lakukan?
"Rei, dengarkan aku! Tadinya aku ingin ke ruanganmu tapi wanita itu mencegahku. Katanya kamu sibuk dan tidak bisa di ganggu," ucap Caroline dengan memutar balikkan fakta.
"Tunggu kamu panggil siapa? Wanita itu? Caroline apa kamu minta di pecat? Selesai pengumuman kemarin, aku sudah memerintahkan semua orang untuk memanggil Rebecca menjadi sebutan Nyonya. Kamu tahu itu karena apa? Tentu saja karena dia adalah calon istri ku. Jadi kamu harus menghormatinya jika karirmu ingin tetap berlanjut," jelas Reigner panjang dan lebar. Setelah itu dia kembali ke dalam ruangannya.
Caroline hanya bisa diam. Dia tidak bisa mengelak lagi. Reigner sudah tak menganggapnya dan lebih membela Rebecca.
"Bagaimana ini, rasanya sulit sekali berada di posisi wanita itu. Tapi aku tidak akan menyerah karena Reigner hanya akan menjadi milikku," ucap Caroline pelan. Setelah itu dia keluar dan tidak jadi ke ruangan itu.
Di Tempat Lain.
Rebecca berjalan menuju ke lantai 7 dengan penuh emosi. Dia kesal dengan sikap Caroline. "Pantas saja Evelyn dan Excel tidak suka dengannya. Benar-benar wanita tidak punya attitude."
Rebecca terus menggerutu hingga ke dalam ruangan. Sesampainya di dalam sana Rebecca dikejutkan oleh sesuatu yang membuatnya diam dan terpaku.
__ADS_1