
Beberapa menit kemudian, masuklah seorang dokter yang akan memeriksa kondisi Rebecca. Dokter itu masuk diikuti oleh Reigner.
"Selamat siang, Nona!" sapa Dokter itu.
Rebecca terbangun dan menyapa balik."Selamat siang, Dokter."
"Boleh saya lihat kaki anda Nona?" tanya Dokter itu.
"Boleh." Rebecca pun membuka selimutnya, kemudian dokter memegang pergelangan kaki Rebecca.
"Hanya terkilir, sepertinya akan membengkak beberapa hari. Nanti saya tuliskan resep dan salep untuk mengurangi rasa sakit," ucap Dokter itu. Setelah memeriksa, Dokter itu pun pergi. Dia meninggalkan salep dan juga resep obat.
"Terima kasih, Dok!" ucap Reigner pada Dokter itu.
Reigner menghampiri Rebecca yang sedang mengelus kakinya. Dia duduk di pinggiran ranjang dan mengambil salep yang ada di meja. Reigner membuka salep itu dan mengoleskannya ke pergelangan kaki Rebecca.
"Apakah sakit?" tanya Reigner dengan memijit pelan kaki Rebecca.
Rebecca mengangguk sembari menahan rasa sakit itu. "Aww, pelan-pelan! Jangan tekan terlalu keras."
Reigner sedikit mengurut kaki wanita yang ada di depannya itu. "Apa kamu masih tidak ingin bercerita padaku? Aku sangat ingin tahu kejadian masa lalu mu itu."
Rebecca terdiam dan menatap dalam mata Reigner. Lalu dia mengumpulkan kekuatan untuk menjawab. "Kamu ingin dengar dari bagian yang mana? Karena banyak yang terjadi dalam hidupku."
"Semuanya, aku ingin mendengar semuanya."
__ADS_1
Rebecca menarik nafas dalam. Lalu dia mulai bercerita. "Awal debut ku di dunia modeling saat umur 21 tahun. Waktu itu, aku sedang fashion show di London. Suatu malam, aku pulang dari salah satu acara. Aku kembali ke hotel, dan terjadilah hal itu padaku. Kamu tahu aku sangat takut sekali. Aku tidak tahu harus bagaimana? Makanya aku pergi setelah kejadian itu."
"Seharusnya kamu tunggu aku bangun, Becca. Setelah sadar, aku berusaha untuk mencarimu. Bahkan sampai beberapa tahun kemudian aku tetap menunggumu," sahut Reigner dengan raut wajah yang kecewa.
"Aku bingung, waktu itu aku mempunyai seorang kekasih. Jadi aku merasa bersalah padanya. Setelah kejadian itu, aku menghampiri dia di apartemen. Sesampainya di sana, aku tertampar lagi melihat seorang yang aku cinta bercinta dengan orang lain. Di situlah hatiku mulai lemas bahkan sangat hancur. Aku pergi dari sana dan melajukan mobil dengan sangat kencang. Aku merasa hidup ku sudah tidak berarti, hingga akhirnya aku mengalami kecelakaan dan membuat aku koma selama hampir dua bulan."
Reigner terdiam dia merasa bersalah pada Rebecca. "Setelah itu kamu kembali ke California?" tanya Reigner.
"Ya, pengasuhku yang membawaku. Dia lah yang merawat dan juga menjagaku selama koma. Bahkan ketika aku sadar, dia senantiasa menyemangati. Aku hamil dalam keadaan koma. Setelah aku sadar umur kehamilan sudah satu bulan. Kamu tahu apa yang aku lakukan? Aku terpuruk, aku merasa tidak berdaya lagi. Aku seperti tidak merasakan semangat untuk hidup. Tapi, aku diyakinkan olehnya. Hingga aku mempunyai kekuatan untuk tetap bertahan sampai aku melahirkan Excel dan Evelyn."
Rebecca tersenyum sedih. "Dulu aku sangat membenci Excel dan juga Evelyn. Aku bahkan tidak menyentuhnya hingga tiga bulan. Lalu, hatiku luluh ketika aku melihat senyum mereka. Ocehannya yang menurut ku sangat lucu mampu membuat hatiku tenang. Sejak itu aku berubah menjadi seorang Ibu yang baik. Aku menyayangi mereka dengan sepenuh hati."
"Lalu siapakah pria itu? Kenapa dia kurang ajar kepadamu?" sahut Reigner semakin penasaran.
Rebecca menundukkan kepala, tangannya mencengkram kuat di sprei. "Dia adalah pemilik dari Ameera Fashion. Dia yang memberikan aku pekerjaan di sana. Ameera Fashion menggaji ku dengan bayaran yang sangat tinggi. Biasanya aku sangat memilih dalam pekerjaan, karena aku mempunyai dua nyawa yang harus aku perhatikan. Akan tetapi,mereka menawarkan kontrak yang Funtastic hingga aku tergoda dan menandatangani tanpa melihat isi kontrak tersebut."
"Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku langsung menghampirinya untuk mengakhiri kontrak. Setelah itu aku ditunjukkan isi kontrak tersebut. Di sana tertulis kalau aku membatalkan kontrak, maka harus masuk penjara. Aku tidak mau masuk ke penjara, karena aku tidak mau berpisah dengan anakku."
Reigner mengepalkan kedua tangannya dan berkata, "Lalu dia menggunakan kesempatan itu untuk melecehkan mu? Apa kami sudah disentuh olehnya, Becca?"
Pertanyaan Reigner membuat mata Rebecca terbuka lebar. Lidahnya tercekat ketika ingin berbicara. "A-aku beberapa kali hampir dilecehkan olehnya. Aku ingin melawan, tapi aku terlalu takut dengan ancamannya. Aku tidak ada pilihan lain."
"Jadi dia belum menyentuhmu kan?" tanya Reigner memastikan.
Rebecca menggelengkan kepala dan menjawab. "Dia belum berhasil menyentuh ku secara intim. Tapi, apabila aku sudah tersentuh apa kamu akan merasa jijik sama aku?"
__ADS_1
Reigner berdiri mendekati Rebecca. Dia menangkup wajah cantik itu dengan kedua tangannya. "Aku akan menerima apapun yang ada di dirimu. Jangan pernah menanyakan pertanyaan bodoh seperti itu lagi. Aku sudah cukup emosi melihatmu dicium paksa olehnya. Ingin sekali aku menghajarnya."
"Sudah, kamu tenang saja. Mulai saat ini aku akan melindungi mu. Aku akan membebaskan mu dari kontrak terkutuk itu. Fokuslah dalam mendidik Excel dan Evelyn sekarang. Berhentilah dalam dunia modeling. Okey!
Rebecca tersenyum senang, rasanya beban yang berat telah terangkat dari pundaknya. "Mulai sekarang aku pasrahkan hidup ini padamu. Aku akan mulai bergantung padamu. Juga aku akan belajar untuk mencintaimu."
Reigner senang mendengar jawaban Rebecca. Lalu dia merengkuh tubuh Rebecca ke dalam pelukannya. "Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, Becca. Aku tidak akan membiarkan mu pergi lagi dari hidupku."
Rebecca dan Reigner pun saling berpelukan dengan perasaan hati yang senang. Tak lama kemudian, datanglah Evelyn yang masuk dengan berteriak kencang. "Mommy, Mommy, where are you Mommy?"
Rebecca langsung mendorong Reigner untuk menjauh. Dia tidak ingin jika Evelyn memergokinya berpelukan dengan sang Ayah. Reigner pun tersenyum tipis, dia merasa seperti sedang selingkuh.
"Mommy, Mommy selamat! Syukurlah, Mommy Evelyn sangat takut. Mommy tidak apa-apa kan?" seru Evelyn dengan penuh kekhawatiran.
"Mommy tidak apa-apa, Nak! Mana Kakak?"
"Kakak tidak mau masuk Mommy. Kakak ada di luar," jawab Evelyn dengan terus memeluk Ibunya.
"Kenapa Kakak tidak mau masuk?" tanya Rebecca khawatir.
"Aku tidak tahu Mommy."
Reigner pun berdiri dari ranjang dan ingin turun ke bawah. "Biar aku yang membujuk Excel. Sepertinya dia sangat terkejut dengan kejadian ini."
"Iya Daddy bujuk Kakak. Dia pasti sangat sedih, soalnya wajah Kakak murung sekali," sahut Evelyn.
__ADS_1
"Ya sudah jaga Mommy, Daddy akan turun ke bawah sebentar."
Setelah itu Reigner turun ke bawah untuk menemui putranya. Dia harus menyelesaikan tugasnya yang terakhir yaitu mengambil hati Excel.