
Pagi hari Rebecca terbangun dari tidurnya. Dia ingin turun dari ranjang namun kakinya masih terlalu sakit untuk berdiri. Meskipun sakit Rebecca tetap mencoba karena dia tidak mau merepotkan orang lain.
Replika berdiri dengan berpegangan meja kecil di samping tempat tidurnya. Dia berjalan pelan dan tertatih menuju ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian masuklah Paulina dengan membawa sarapan pagi.
"Nona hati-hati! Kenapa Nona tidak meminta bantuan?" Seru Paulina.
Paulina meletakkan nampan di meja. setelah itu membantu Rebecca untuk berjalan ke arah kamar mandi.
"Terima kasih, Bi. Aku hanya tidak ingin merepotkan orang lain," jawab Rebecca dengan menahan rasa sakit di kakinya.
"Sudah tugas Bibi, kan Non!"
Setelah itu Rebecca membersihkan badannya di kamar mandi. Tak lama kemudian dia keluar dan menuju ke ranjang. Di kasur Excel masih tidur dengan nyenyak. Rebecca tidak membangunkan putranya karena terjaga sampai larut malam, untuk Evelyn dia tidur di kamar Reigner.
Sesampainya di kasur, Rebecca langsung bersandar. Dia mengambil handphonenya dan membuka akun sosial media. Rebecca tercengang melihat trending topic di berandanya. Dia melihat Reigner mengunggah sebuah postingan. Dalam postingan itu Reigner mengklaim dirinya sebagai calon istri.
Reigner juga mengunggah foto kedua anak kembarnya dengan caption. Di dalam caption itu tertulis bahwa Reigner telah menemukan belahan jiwanya yang hilang. Berita tersebut langsung menjadi trending topik nomor 1 di akun Instagram dan juga Twitter.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan masuklah Evelyn. "Good morning, Mommy," sama Evelyn dengan raut wajah yang ceria.
"Morning Baby. Ceria sekali kamu hari ini, Sayang!" seru Rebecca memeluk putrinya.
"Ya hari ini aku mau pergi ke kantor Daddy, Mommy. Aku kesini mau membangunkan Kakak !" seru Evelyn dengan semangat.
Evelyn naik ke atas kasur dan membangunkan kakaknya. "Kakak wake up! Cepat bangun dan segera mandi, karena Daddy mau mengajak kita pergi jalan-jalan," suruh Evelyn dengan menggoyang-goyangkan badan kakaknya.
Excel menggeliatkan badan, dia marah karena Evelyn mengganggu tidur nyenyaknya. "Evelyn, go away dari sini jangan ganggu aku," seru Excel kesal.
"No, Daddy menyuruhku untuk membangunkan kakak. Cepatlah bangun Kak. Mommy bangunkan kakak," seru Evelyn yang mulai kesal.
Rebecca pun membangunkan putranya. "Excel bangun sayang, sudah siang!"
"No, Mommy aku masih ngantuk!" ucap Excel dengan malas.
__ADS_1
"Kakak ayo cepat bangun! Kak Excel bangun," seru Evelyn cerewet.
Akhirnya Excel pun bangun. Dia turun dari kasur dengan marah. "Evelyn kamu menyebalkan," seru Excel menuju ke kamar mandi.
Evelyn mendekati ibunya, gadis kecil itu pun bertanya,"Apa kaki Mommy sudah sembuh?"
Rebecca menjawab,"Masih sedikit sakit Sayang, kamu tidak usah khawatir ya!"
"Mommy cepat sembuh ya," ucap Evelyn dengan penuh kasih sayang.
Tak lama kemudian Reigner masuk ke dalam kamar. Dia masuk dengan pakaian yang sudah rapi. "Bagaimana keadaanmu Rebecca? Apa sudah baik-baik saja?" tanya Reigner.
Rebecca menoleh lalu menjawab,"Sedikit membaik tapi masih sakit. Apa kamu yang sudah memosting berita itu?"
"Ya, aku akan memberitahu dunia kalau kalian adalah milikku. Agar tidak ada lagi yang berani mengusik kalian. Terutama putriku yang manis ini," ucap Reigner dengan memeluk Evelyn.
Rebecca diam, dia tidak protes dengan keputusan Reigner. Mungkin dengan cara ini dia bisa terlepas dari jerat Mario.
"Daddy nanti mau bawa aku ke kantor yang mana?" tanya Evelyn dengan memainkan kancing baju Ayahnya.
"No, aku ingin Daddy membawaku ke kantor yang aku datangi pertama kali Dad. Evelyn ingin memperlihatkan pada satpam galak dan juga Bib galak itu kalau aku putri Daddy yang paling imut," seru Evelyn dengan raut wajah menggemaskan.
Rebecca menegur sikap putrinya. "Evelyn, kamu jangan berbuat macam-macam ya! Tidak boleh melawan orang dewasa! Ingat kamu masih kecil, Sayang."
Sifat Evelyn sangatlah jahil, dia akan selalue ingat dengan apa yang terjadi padanya. Sifat pendendamnya sangat mendominasi.
"No, Mommy mereka tetap harus tahu, dan seharusnya meminta maaf padaku. Perlakuan mereka sangat buruk sekali. Evelyn tidak suka. Lagi kan ada Daddy yang akan melindungi ku. Ya kan Dad?"
"Iya, my Honey! Daddy akan menjadi tameng untukmu."
Evelyn tertawa senang lalu memeluk sang Ayah. Tak lama kemudian, Excel keluar dari kamar mandi. Dia keluar dengan muka datarnya. Sebenarnya Excel masih sangat mengantuk. Namun, perintah dari sang Ibu membuatnya terpaksa menuruti permintaan adiknya.
Excel berjalan menuju ke kopernya. "Bisakah kalian keluar sebentar. Aku ingin berganti baju," ucap Excel sedikit ketus.
__ADS_1
Reigner dan Evelyn saling berpandangan lalu mereka berinisiatif untuk keluar sebelum Excel kehilangan moodnya.
Rebecca menegur putranya. "Excel, Kenapa kamu kelihatan kesel sekali, Nak?"
"Aku sebenarnya sangat malas, Mom. Aku tidak ingin pergi! Aku ingin tidur," jawab Excel dengan menghentakkan kakinya.
"Aku tidak suka melihat wanita itu, Mommy. Wanita itu jahat dia mengatakan sesuatu yang jelek pada Mommy," seru excel dengan memakai kaosnya.
Rebecca menarik nafas dalam. Dia sangat salut dengan sikap putranya. Setelah itu Rebecca memanggil putranya untuk mendekat. "Excel sini!Duduk sebentar di sini dengan Mommy!"
Excel pun memakai celananya setelah itu dia menghampiri ibunya. Excel memeluk dengan penuh kelembutan dan membuat Rebecca semakin terharu.
"Sayang dengarkan Mommy. Mulai sekarang coba menurut dengan Daddy. Mulailah terbuka padanya, Nak! Kalau ada masalah cerita dengan Daddyi maupun Mommy. Kita tidak bisa hidup sendiri seperti dulu lagi, Sayang. Mommy tidak bisa menyembunyikan kalian terus, tanpa identitas maupun status. Jadi biar Daddy mengakui kalian karena memang kamu dan Evelyn adalah anak dari seorang Reigner Anverton."
Mendengar penuturan ibunya membuat hati Excel melunak. "Baiklah, Mom! Excel akan menjadi anak yang penurut demi Mommy."
"Anak yang baik. Ya sudah sekarang kamu turun dan bersiaplah pergi dengan Evelyn dan juga Daddy. Jaga adikmu ya, Nak! kamu pasti tahu sifat Evelyn seperti apa?"
"Ya, Mommy. Excel pergi dulu!" Excel mengecup pipi Ibunya. Setelah itu dia turun untuk menemui Evelyn dan juga ayahnya.
Sesampainya di bawah Excel langsung menuju ke meja makan. Dia menyapa semua orang yang ada di sana. "Morning Daddy, morning Nenek, morning Kakek, morning Grandma, and morning adik yang jelek."
Evelyn melengos mendengar sapaan kakaknya. "Aku diam Kakak, karena hari ini aku mau menjadi anak yang manis. Jadi aku tidak membalas sapaan dari Kakakku yang tampan.
"Ya tentu, karena kamu itu memang jelek. Dasar Evelyn jelek!" Excel terus mengejek adiknya dan membuat semua orang tertawa.
Bukan Evelyn namanya kalau tidak mengadu. "Daddy look! Kak Excel menyebalkan."
Excel duduk di kursi dan menirukan gaya Evelyn yang sedang mengadu pada Ayahnya.
"Sudah kakakmu itu hanya bercanda, Sayang. Sebenarnya, Kakakmu itu sangat sayang padamu. Ya kan Excel?"
"Ya, ya, ya. Akan aku pertimbangkan nanti, Dad!" jawab Excel dengan menjulurkan lidahnya ke arah sang adik.
__ADS_1
Evelyn pun duduk dengan raut wajah yang cemberut. Dia tidak bisa bersikap santai ketika sang kakak mengganggunya.