Bayi Rahasia Sang Model

Bayi Rahasia Sang Model
BRSM 39


__ADS_3

Paulina berusaha menghubungi Reigner akan tetapi handphonenya sedang sibuk. Setelah itu dia menelepon manager Rebecca. Setelah terhubung dan mendapat informasi, Paulina segera mencari kunci serep di kamar Rebecca.


Sembari menunggu, Paulina mencari kunci. Paman Abrein berusaha untuk menenangkan Evelyn yang terus menangis memanggil Ibunya. Gadis kecil itu merasa sangat sedih sekali. Dari lantai atas muncullah Excel yang baru saja selesai mandi. Dia sudah berganti baju dan keluar kamar. Excel melihat Evelyn sedang menangis dengan terus memanggil sang Ibu.


"Kakek, ada apa dengan Evelyn?" tanya Excel turun dari tangga.


Evelyn langsung berdiri dan menghampiri Kakaknya. "Kakak, Mommy dibawa pergi oleh orang jahat. Kakak, bagaimana ini? Mommy dalam bahaya," ucap Evelyn pada Excel.


"Maksudmu apa Evelyn? jangan bercanda ya," sahut Excel dengan raut wajah serius.


"No, aku serius Kakak. Mommy dalam bahaya."


Setelah itu, Paman Abrein menjelaskan pada Excel. Anak itu pun terkejut lalu panik. "Kalau begitu cepat telepon Daddy sebelum terlambat. Biar aku yang meneleponnya," ucap Excel, dia berlari menuju ke kamar untuk mengambil handphone Rebecca.


Di Tempat Lain.


Reigner sedang sibuk menerima telepon dari manager perusahaannya di R&M grup. Dia mendapat kabar bahwa Ameera Fashion membatalkan kontrak secara sepihak dengan membayar denda sebagai kompensasi.


"Ada apa ini? Kenapa mereka tiba-tiba membatalkan kontrak, padahal kinerja Rebecca sangat lah bagus. Sejak kemunculannya dikenal seluruh khalayak," gumam Reigner bingung.


Tak lama kemudian, nomor Rebecca muncul di layar handphonenya. Dia mengangkat telepon tersebut. "Halo, Becca? Kenapa ka ...?"


[Daddy, cepat datang Daddy! Mommy, Mommy dibawa pergi sama penjahat.]


Evelyn memotong pembicaraan sang Ayah. Reigner pun terkejut mendengar penuturan putrinya. "Bicara yang jelas, Sayang! Daddy belum mengerti maksudmu," sahut Reigner bingung.


[Pokoknya Daddy cepat datang. Cepat selamatkan Mommy, Dad!]


"Baiklah Daddy akan segera ke sana." Reigner langsung menutup teleponnya. Dia segera berlari keluar kamar untuk menuju ke rumah Rebecca.


Reigner menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. "Mom, ikut aku ke rumah Rebecca. Evelyn bilang kalau Rebecca di culik."

__ADS_1


"Apa? Lalu bagaimana keadaan cucuku, Rei?"


"Evelyn menangis, Mom. Ayo kita kesana sekarang."


Reigner pergi bersama Ibunya. Dia sangat panik sekali. Reigner mengemudi sembari berpikir. "Kenapa kejadiannya pas sekali dengan pembatalan kontrak itu? Apa ini ada hubungannya?"


Reigner tersentak kaget ketika menyadari sesuatu. Dia langsung menelepon Edward yang kebetulan ada di bandara. "Edward cepat kamu awasi penerbangan menuju ke California. Jika kamu lihat Rebecca segera hentikan dia. Oh, jangan lupa bawa beberapa anak buah karena kamu akan membutuhkannya. Sebentar lagi aku akan tiba," ucap Reigner pada asistennya.


Setelah itu Reigner mematikan telepon dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di rumah Rebecca. Kurang lebih 20 menit, Reigner sampai juga. Dia turun dari mobil dan segera masuk ke dalam.


"Evelyn, kamu dimana Nak?" seru Reigner dengan nada panik.


Gadis kecil itu sedang di peluk oleh Neneknya. Air mata Evelyn terus mengalir dan membuat Excel sedih.


"Daddy, Daddy cepat selamatkan Mommy, Daddy. Aku ingin Mommy, aku ingin Mommy, Dad!" ucap Evelyn dengan berurai air mata.


"Iya, tapi ceritakan dulu bagaimana kronologinya, Nak?"


Evelyn pun menceritakan semua yang di lihatnya tadi. Excel hanya diam saja karena saat terjadi dia sedang mandi.


"Baiklah, sekarang kamu disini bersama Grandma ya. Daddy akan mengejar Mommy sekarang," ucap Reigner dengan mengecup kening putrinya.


Reigner berdiri dan ingin melangkah keluar. Namun, suara Excel menghentikannya. "Daddy! Tolong selamatkan Mommy!"


Reigner membalikkan badan, dia terharu mendengar Excel memanggilnya. "Iya, Nak! Daddy pasti akan membawa Mommy pulang. Kamu jaga adikmu ya!"


Excel mengangguk dan Reigner tersenyum senang. Setelah itu dia bergegas menuju ke bandara. Reigner yakin kalau Rebecca pasti dibawa ke bandara.


Di Mobil.


Rebecca terus berteriak ingin turun. Namun, Mario tidak membiarkan itu terjadi.

__ADS_1


"Mario lepaskan aku, Mario. Aku mohon sama kamu, lepaskan aku! Aku masih mempunyai kontrak dengan R&M group," teriak Rebecca membujuk pria yang ada di sampingnya itu.


Hal itu justru membuat Mario tergelak dengan kerasnya. "Honey, aku sudah membatalkan kontrak secara sepihak. Aku juga sudah membayar denda dua kali lipat."


Rebecca tak percaya kalau Mario akan senekat itu. Dalam pikirannya saat ini adalah Excel dan Evelyn.


"Sudah tidak usah bersedih. Jadilah wanita penurut, aku pasti akan membahagiakan mu. Aku akan menjadikanmu ratu di istana ku, Rebecca."


"Aku tidak menginginkan semua itu. Aku hanya ingin kamu melepaskan aku. Buka pintunya sekarang," teriak Rebecca mencoba melawan.


Mario mengarahkan pandangannya ke arah Rebecca. Dia menarik tubuh ramping itu ke atas pangkuannya. Tatapan nafsu Mario mampu membangkitkan jiwanya yang tiba-tiba bergelora.


Rebecca memberontak ingin melepaskan diri. Namun pria itu menunjukkan sebuah foto dan membuat Rebecca kembali terpaku.


"Lihatlah foto ini, Sayang! Aku yakin kamu pasti mengenal foto ini!"


Rebecca melihat foto itu dengan seksama. Di dalam foto itu ada gambar yang menunjukkan halaman rumahnya, dan disana terdapat anak buah Mario yang masih berjaga.


"Jangan sakiti anakku! Jangan sakiti mereka," ucap Rebecca lirih. Air matanya mengalir deras.


Mario terus menghirup aroma tubuh Rebecca yang sangat nyaman di indera penciumannya. "Tenanglah maka aku akan membiarkan anakmu hidup dengan tenang. Tetaplah di sisiku dan jangan kemana-mana."


Rebecca terdiam tak bisa berkata-kata lagi. Dia bingung harus berbuat apa lagi. "Rebecca apa yang membuatmu menolakku? Aku kaya punya segalanya, dan aku rela menjadikanmu satu-satunya dalam hidup ku. Kamu akan bergelimang harta tanpa kekurangan sedikit pun. Cukup menjadi istriku saja, itu keinginan ku dari awal merekrut mu menjadi model di perusahaan ku."


"Aku tidak mempunyai perasaan apapun terhadap mu Mario. Kamu terlalu menjijikkan," teriak Rebecca menatap tajam mata Mario.


"Turunkan aku, turunkan aku!" Rebecca berusaha melepaskan tangan Mario yang memeluknya. Namun, hal itu sia-sia.


Mario semakin marah dan hampir melakukan hal kasar dalam mobil. "Jangan menguji kesabaran ku Rebecca! Kamu pikir aku tidak berani melakukan hal itu di sini. Ternyata kelembutan ku selama ini membuatmu semakin berani ya!" seru Mario dengan menarik rambut Rebecca ke belakang, kemudian pria itu menciumi tengkuk Rebecca dengan penuh napsu.


Rebecca berusaha mendorong tubuh Mario. Namun setiap dia mencoba berontak, Mario semakin keras menarik rambut itu hingga membuat Rebecca kesakitan.

__ADS_1


"Mario sakit Mario. Mario, hentikan!"


Pria itu tidak mempedulikan teriakan Rebecca. Dia terus menciumi leher jenjang itu dan membuat sebuah tanda merah di sana. Hingga tak lama kemudian, mobil itu sampai juga di bandara. Mario menghentikan aksinya dan segera bersiap turun keluar dari mobil.


__ADS_2