Bayi Rahasia Sang Model

Bayi Rahasia Sang Model
BRSM 59


__ADS_3

Evelyn terus berlari hingga ke dalam hutan. Excel meringis sepanjang perjalanan karena kakinya sangat sakit."Evelyn, Kakak sudah tidak kuat lagi berlari. Kamu larilah menyelamatkan diri, tidak usah pedulikan Kakak," ucap Excel dengan nafas tersengal.


"Kakak, are you crazy? No, aku tidak akan meninggalkan Kakak sendiri di sini. Kita harus keluar bersama-sama," jawab Evelyn dengan tegas.


"Tapi Evelyn, Kakak ...."


"Hei, kalian berhenti!" Suara penculik itu terdengar lagi, bahkan sangat dekat.


"Kakak, kita hanya bisa sembunyi! Kalau kita lari terus, penculik itu pasti akan terus mengejar."


"Kita sembunyi dimana Evelyn? Kakak benar-benar sudah tidak kuat!" Excel tidak bisa berpikir jernih karena menahan sakit di kakinya.


Evelyn terus berlari sembari berpikir. Matanya menyapu seluruh semak belukar terdapat di area hutan. Lalu, Evelyn melihat ada tebing yang tampak landai. Dia berlari ke arah sana. Evelyn berniat untuk sembunyi di bawah tebing yang sedikit curam itu.


"Kakak, kita sembunyi di sana saja. Aku sangat yakin para penculik itu tidak akan tahu kalau kita sembunyi di bawah tebing itu," seru Evelyn terus menarik tangan Excel.


"Baiklah, Kakak ikut saja. Aku sudah tidak kuat berlari lagi."


Kini mereka berdua tiba di dekat tebing yang sedikit landai itu. Ada 2 pohon besar berada di bagian tengahnya. Evelyn turun dengan hati-hati sembari menuntun Excel.


"Kakak, hati-hati tanahnya agak licin," ucap Evelyn turun ke bawah.


Sementara di kejauhan sana, suara penculik itu semakin mendekat. Evelyn dan Excel semakin gugup. Mereka bergerak cepat untuk bisa sampai di pohon tersebut. Akhirnya setelah berusaha mereka sampai juga di pohon itu. Excel dan Evelyn langsung bersembunyi di balik pohon dan penculik itu pun sampai juga.


"Dimana mereka? Aku yakin anak itu masih ada di sekitar sini. Hutan pedalaman sangat berbahaya, jadi sangat tidak mungkin mereka lari ke dalam sana," seru penculik itu, dengan melihat ke sekelilingnya.


Di bawah, Excel dan Evelyn merapatkan badan saling berpelukan. Tubuh mereka lelah sekali, hingga membuat Evelyn sangat gemetar. Tak lama kemudian, penculik itu pun pergi meninggalkan lokasi itu. Mereka berpindah tempat mencari ke tempat lain.

__ADS_1


Evelyn menghembuskan nafas lega. Dia langsung mengintip untuk memastikan bahwasanya keadaan sudah aman.


"Kakak, penculik itu sudah pergi! Kakak ...." Evelyn menoleh ke arah Excel, lalu betapa terkejutnya dia melihat sang kakak telah pingsan.


Kepanikan muncul lagi di hati Evelyn. Dia memeluk Excel dan terus memanggilnya. "Kakak, bangun! Please kamu harus kuat, kita harus bisa keluar dari sini Kakak."


Evelyn terus memanggil Kakaknya dan dia tida tahu harus melakukan apa lagi.


Di Tempat Lain.


Reigner sangat bingung dengan apa yang terjadi. Rebecca yang belum ada kabar, dan juga kedua anaknya yang belum ditemukan. Reigner sudah menghubungi beberapa polisi, kini harapannya tinggal laporan dari Edward tentang penyadapan handphone Rebecca.


Sesaat kemudian, masuklah Edward dalam ruangan. "Tuan, saya sudah menemukan lokasi Nona Rebecca. Ponselnya berada di sekitar villa elit di Venesia."


"Kalau begitu kita cepat kesana. Bawa semua anak buahmu, jangan sampai terlambat!" Reigner mengajak asistennya untuk segera pergi mencari Rebecca.


Perjalanan ke Venesia ditempuh kurang lebih 1 jam dengan jalur udara. Reigner harus gerak cepat agar rencana kedatangannya tidak diketahui.


Di Villa.


Rebecca sedang berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Dia disekap oleh Mario dan tidak boleh keluar. Rebecca berpikir dengan menggigit jarinya untuk menghilangkan gugup. "Aku harus bagaimana? Aku harus meminta tolong pada siapa?"


Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka, dua orang bodyguard masuk ke dalam kamar. "Ayo cepat ikut kami sekarang. Tuan sudah menunggumu di bawah!"


"Mau pergi kemana lagi? Aku tidak akan ikut denganmu!" seru Rebecca dengan kasar.


Namun para bodyguard kuat itu tidak mempedulikan penolakan Rebecca. Mereka tetap memaksanya untuk keluar dari kamar. "Tidak usah banyak protes, kamu keluar atau anakmu mati!"

__ADS_1


Rebecca langsung terkejut, tubuhnya kembali membeku. Setelah itu dia langsung menurut dan mengikuti para bodyguard itu. Rebecca berjalan menunduk menuruni anak tangga. Dia melihat Mario yang duduk di ruang tamu.


"Kenapa turun ke bawah bisa selama itu, Sayang?" ucap Mario dengan mata melirik ke arah Rebecca.


"Come on, Baby! Duduklah di sini sebentar. Aku ingin memberitahu sesuatu untukmu," seru Mario dengan menepuk pahanya. Dia ingin Rebecca duduk di pangkuannya.


Rebecca menggelengkan kepalanya sembari beringsut mundur. Mario tersenyum tipis lalu menarik kasar tangan Rebecca, hingga sekejap Rebecca duduk di pangkuan Mario.


"Aku ingin selalu bersikap lembut denganmu Sayang. Tapi kenapa kamu selalu membuat aku emosi. Hem? Apa memang kamu suka dipaksa? Seperti ini ...." Tangan Mario bergerak dari kaki Rebecca, dan menuju ke paha. Dia menggerayangi paha yang tertutup dengan drees pendek.


"Stop Mario, hentikan tanganmu! Kamu mau bicara apa? Cepat katakan!" seru Rebecca menghentikan sikap Mario. Dia menekan dress-nya yang hampir tersingkap itu.


Mario tergelak melihat penolakan Rebecca kepadanya. "Aku ingin mengajakmu kembali ke California. Aku ingin kita menikah disana. Kamu tahu aku sudah mempersiapkan pernikahan megah untukmu!"


Mata Rebecca membulat. "Jangan bermimpi untuk itu, karena aku tidak akan mau menikah denganmu!" teriak Rebecca ingin berdiri, akan tetapi tangan Mario menahannya.


Mario semakin tertawa keras. "Apa kamu pikir, priamu itu bisa menyelamatkan mu? Asal kamu tahu, kalau soal kelicikan dia tidak ada apa-apanya. Sekarang dia sedang menuju ke sini, tapi aku akan segera membawa mu pergi. Bukankah sangat menyenangkan bermain petak umpet seperti, Sayang."


"Kamu g!la, Mario! Lepaskan aku, lepaskan anak-anakku. Kamu jahat! Kamu orang jahat!"


Rebecca memberontak sembari memukul-mukul tubuh Mario. Lalu, Mario mengisyaratkan pada bodyguardnya untuk mengatasi. Salah satu bodyguard itu membius Rebecca dengan menyekap mulutnya dengan sapu tangan.


Rebecca langsung lemas dan pingsan. Mario segera mengangkat tubuh itu dan dibawanya masuk ke dalam mobil. Mario ingin membawa Rebecca kembali ke California. Pria itu sudah sangat terobsesi sehingga merencanakan semuanya.


"Aku tidak akan membiarkan pria itu mendapatkanmu kembali, Rebecca. Kalau saja aku tidak bisa memilikimu, maka orang lain pun tidak akan bisa memiliki mu. Lebih baik aku mengirim mu ke nirwana," ucap Mario dalam hati.


Mario dan anak buahnya langsung berangkat ke bandara. Mereka harus secepatnya pergi karena sudah tahu kalau Reigner akan datang.

__ADS_1


__ADS_2