Bayi Rahasia Sang Model

Bayi Rahasia Sang Model
BRSM 48


__ADS_3

Reigner menuju ke kamar putrinya. Evelyn masih berteriak dengan sesuka hati. "Honey, kamu sedang apa?" seru Reigner dari luar.


"No, Daddy. Daddy menyebalkan, sudah meninggalkan aku tadi. Harusnya Daddy bangunin aku, bukannya meninggalkan ku sendirian dan lebih mengajak Kak Excel," teriak Evelyn dengan sangat keras.


"Sorry Baby, Daddy lupa. Lain kali Daddy akan belanja bersamamu. Sekarang ayo kita turun, kamu mau tidak membantu Daddy memasak?" tanya Reigner dengan memeluk Evelyn.


Tiba-tiba suara Rebecca terdengar dari belakang. "Sudah waktunya kamu mandi Evelyn. Kakakmu sekarang sedang mandi di kamar Mommy."


"Iya, Honey. Lebih baik kamu mandi sekarang. Biar Daddy mempersiapkan makan malam untukmu."


"Oh ya, apakah kamu mau membantuku memasak, Sayang?" tanya Reigner pada Rebecca.


Mata Rebecca melotot mendengar kata sayang dari Reigner. "Siapa yang kamu panggil Sayang? sahut Rebecca sedikit ketus.


Reigner tersenyum lalu membisikkan sesuatu di dekat telinga Rebecca. "Tentu saja kamu, Sayang. Mau tidak membantu aku memasak?"


Rebecca menghindar dengan mendorong pelan perut Reigner dengan sikutnya. "Masak saja sendiri, bukanya kamu ingin memperlihatkan keahlian masakmu."


Lalu, Evelyn menyahut ucapan Ayahnya."Daddy, Daddy, stop jangan ajak Mommy memasak."


Reigner menoleh dan menghampiri putrinya. "Hem, Why Baby?" tanya Reigner penasaran.


Rebecca langsung memicingkan matanya ke arah Evelyn. Namun, tetap saja gadis itu memberitahukan sesuatu pada Ayahnya. "Jangan pernah aja Mommy memasak, Daddy. Nanti dapur Daddy akan kebakaran dan makanan Daddy gosong semua."


Evelyn berbicara pada Reigner tanpa memfilter kata-katanya. Hal itu membuat Rebecca semakin gemas. Dia menarik nafas dalam dan menegur putrinya. "Evelyn, sudah saatnya kamu mandi. Ayo Mommy temani kamu."


Reigner tergelak dia semakin penasaran dengan cerita Evelyn. "Teruskan Sayang! Terus selama ini yang masak buatmu siapa? kalau Mommy tidak bisa memasak."


"Yang masak buatku itu Nenek, Daddy. Pernah sekali Mommy masak telur mata sapi. Daddy tahu apa yang terjadi pada telur itu?"


"Apa yang terjadi?"


"Telurnya berwarna hitam Daddy alias gosong," ucap Evelyn dengan tertawa geli.


Hal sama juga dilakukan oleh Reigner. Dia tertawa dengan keras hingga membuat Rebecca kesal. Melihat ayah dan anak saling tertawa membuat Rebecca menjadi keki. Dia menghampiri Reigner lalu mencubitnya dengan pelan.

__ADS_1


"Tertawa terus, rasakan ini." Rebecca mencubit perut Reigner hingga membuatnya berjingkat.


"Aww, Sayang! Kamu sudah berani padaku. Awas ya kamu sudah memancing singa yang sedang diam!"


Rebecca memalingkan wajahnya dan berbalik badan. Dia ingin keluar dari kamar putrinya. Melihat itu, Reigner pun langsung mempunyai rencana. Dia berbisik dengan Evelyn dan membicarakan sesuatu. Selesai berbisik, Evelyn mengacungkan jempolnya pada sang ayah. Kemudian, Reigner berdiri dan langsung menggendong Rebecca kembali ke kasur.


Rebecca terkejut dan langsung berteriak. "Rei, kamu apa-apaan. Lepaskan aku!"


"Tidak semudah itu, siapa suruh mengagetkan aku. Evelyn ayo kita serang Mommy!"


"Siap Daddy!"


Reigner menidurkan Rebecca diatas kasur. Lalu, dia dan Evelyn menggelitiki perut Rebecca dengan kompak sekali. Rebecca berteriak dan tertawa keras. Dia tidak bisa melarikan diri karena Reigner mengunci kedua kakinya.


"Rei, Evelyn. Stop lepaskan Mommy. No, Mommy tidak tahan geli, Sayang. Please, lepaskan Mommy."


Rebecca terus menggeliat dan tertawa, hingga suara itu terdengar oleh Excel yang baru selesai mandi. Dia masuk ke kamar Evelyn dan mendapati Ibunya sedang dianiaya oleh Ayah dan juga Adiknya.


"Daddy, Evelyn apa yang kalian lakukan pada Mommy?" seru Excel keras.


Excel langsung berlari ke atas kasur dan mendorong tubuh Reigner dan juga Evelyn. "Minggir jangan ganggu Mommy, Daddy. Evelyn stop!"


Reigner dan Evelyn pun menghentikan aksinya. Mereka puas melihat tawa Rebecca. Rebecca bangun dan masih terus tertawa. Dia benar-benar tidak bisa berhenti tertawa.


"Kalian berdua keterlaluan, awas saja! Evelyn malam ini kamu tidak boleh tidur dengan Mommy," ucap Rebecca pada putrinya.


"Its okey Mommy. Aku tidur dengan Daddy saja. Boleh kan Daddy?" ucap Evelyn dengan memeluk Ayahnya.


"Tentu boleh dong, Honey. Ayo kita keluar temani Daddy memasak."


Reigner keluar dengan menggendong Evelyn di punggung. Rebecca semakin gemas karena sikap Evelyn yang semakin manja dengan Ayahnya. Hanya Excel lah yang bisa mengerti sang Ibu.


"Mommy are you oke?" tanya Excel.


"Mommy tidak apa-apa, Nak! Hanya saja Mommy gemas dengan adikmu yang super manja sekali."

__ADS_1


"Sudah ya, Mommy masuk kamar dulu. Perut Mommy sakit akibat tertawa."


Rebecca keluar dan Excel tetap berada di kamar. Dia malas keluar karena ada Evelyn. Dia masih kesal dengan kejadian kemarin.


Malam hari.


Semua orang sudah berkumpul di meja makan. Reigner telah memasak hidangan yang sangat banyak. Dia benar-benar totalitas dalam penyajiannya kali ini.


Rebecca masih memasang wajah cemberut. Dia masih kesal dengan sikap putrinya sendiri. Rasanya seperti dikhianati oleh seorang kekasih. Semakin hari Evelyn sikapnya sangat manja sekali.


"Daddy, aku mau ini," ucap Evelyn meminta spaghetti.


"Iya, Daddy ambilkan dulu untuk Grandma ma ya! Terus yang kedua untuk Mommy," seru Reigner dengan mata melirik ke arah Rebecca.


Rebecca hanya diam dengan menarik nafas dalam. Dia tidak bisa berbuat apapun.


"Mommy, makanlah. Spaghetti ini sangat enak, karena Daddy membuatnya dengan penuh cinta. Ya kan, Daddy!"


"Ya, sangat benar. Daddy membuat semua ini dengan penuh rasa cinta," seru Reigner senang.


Hal itu membuat Teresa bahagia. Akhirnya dia bisa melihat senyum Reigner kembali. "Grandma bahagia sekali melihat kebersamaan ini. Akhirnya Grandma mempunyai keluarga yang lengkap, mempunyai calon menantu yang baik dan cantik. Juga kedua cucu yang sangat imut dan tampan. Semoga Grandma bisa melihat kalian tumbuh dewasa, ya Sayang!"


Teresa meneteskan air mata haru. Dia sangat bersyukur sekali. Rebecca pun merasa tidak enak, dia mencoba menghibur calon mertuanya.


"Sudah Mom, jangan menangis! Rebecca juga senang melihat Excel dan Evelyn mempunyai sebuah keluarga."


"Iya, Becca. Mom berharap sekali kamu cepat menikah dengan Reigner. Berikan Mom cucu satu lagi."


Hal itu membuat mata Excel langsung melotot, dengan cepat dia menolak permintaan Neneknya. "No, Grandma tidak boleh meminta itu pada, Mommy. Pokoknya tidak boleh!"


Teresa langsung diam dan menutup mulutnya. Dia tidak berani membantah ucapan cucu laki-lakinya itu.


"Sudah-sudah ayo kita segera makan. Pembahasan tentang pembuatan cucu bisa dilakukan nanti setelah makan malam selesai," ucap Reigner dengan mata melirik ke arah Rebecca.


Rebecca pun langsung memalingkan mukanya. Dia fokus memakan spaghetti yang ada di depannya. Rebecca mencoba untuk mengabaikan Reigner.

__ADS_1


__ADS_2