Bayi Rahasia Sang Model

Bayi Rahasia Sang Model
BRSM 51


__ADS_3

Rebecca melihat kedua anak kembarnya sedang berpose layaknya seorang model. Lebih mencengangkan lagi adalah Excel, dia ikut bergaya untuk mengimbangi pose Evelyn.


Rebecca berjalan menghampiri Teresa yang sedang berdiri di belakang kameramen. "Mom, kenapa Excel bisa ikut dalam pemotretan?"


"Hei Sayang, itu putramu sangat berbakat sekali. Kamu tahu saat adiknya selalu salah dalam berpose, Excel langsung maju dan memberikan arahan untuk Evelyn. Mom sangat terharu sekali dengan sifat dewasanya," ucap Teresa dengan sangat bangga.


"Benarkah itu Mom, baik sekali. Di luar memang dingin tapi hatinya yang asli sangat lembut," sahut Rebecca dengan penuh senyuman.


Saat ini Excel dan Evelyn tengah berpose dengan mengenakan baju yang akan dijadikan trend terbaru dalam koleksi busana di R&M grup. Mereka sangat cocok sekali dengan tema yang diangkat.


Gaya Excel yang datar ditambah ekspresi Evelyn yang ceria memberikan sensasi yang lebih natural. Mereka bisa berakting dan berpose sesuai arahan fotografer. Selesai berpose, Excel dan Evelyn turun dari panggung. Mereka menoleh ke arah Ibunya dan bergegas menghampiri.


"Mommy," seru Evelyn menuruni anak tangga.


Excel dan Evelyn mendekat lalu memeluk sang Ibu. "Mommy, kenapa lama sekali? Mommy look, bukankah Kak Excel sangat keren."


Evelyn memuji Kakaknya, itu berarti dia sangat senang sekali. Excel hanya diam dan tak berekspresi lagi, dia terlalu gengsi untuk menanggapi pujian sang adik.


"Mommy bangga sekali dengan kalian, ternyata kesayangan Mommy hebat," seru Rebecca sangat senang.


Evelyn pun melihat ke arah belakang mencari sesuatu. "Daddy, kemana Mommy?"


"Emm, Daddy ada di ruangannya, Sayang," jawab Rebecca.


"Aku ingin ke sana Mommy," seru Evelyn.


Tiba-tiba Excel menyahut dari belakang. "No, kamu ke ruang Daddy bersama Grandma saja, Evelyn. Biar Mommy menemaniku di sini."


Evelyn melirik Excel dengan tatapan sinis. Lalu, Teresa menjawab pertanyaan cucunya. "Iya sama Grandma saja. Ruangan Daddy mu ada di lantai 6."


"Oke, ayo Grandma antar aku ke sana." Evelyn menggandeng tangan Neneknya menuju ke ruangan Reigner. Mereka masuk ke dalam lift dan Excel mengajak Rebecca untuk berganti baju.


Di dalam ruangan.


Caroline masih berusaha menarik perhatian Reigner. Dia masih belum pergi dari ruang kerja itu. "Rei, aku tidak bisa menerima penghinaan ini. Kamu tahu kalau wanita itu tadi menghinaku bahkan berbuat kasar padaku," seru Caroline yang berdiri di dekat Reigner.

__ADS_1


Reigner tertawa dengan keras, kemudian dia berkata, "Sedikitpun aku tidak percaya dengan kata-kata mu Caroline. Sebaiknya kamu menyerah saja, karena Minggu depan aku akan melamar Rebecca untuk ku jadikan istri."


"Rei, aku sudah bertahun-tahun bekerja di sini. Kenapa sedikit pun kamu tidak pernah menganggap ku. Aku cinta sama kamu Rei. Tidak bisakah kamu mempertimbangkan itu?"


"Mempertimbangkan apa?" seru Evelyn yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Hal itu membuat Reigner terkejut. "Honey, kamu sedang apa di sini?" tanya Reigner, dia segera berdiri dan menghampiri putrinya.


"Daddy, kenapa Bibi galak ini ada disini? Daddy sedang melakukan apa dengannya?" tanya Evelyn dengan sorot mata yang penuh dengan kecurigaan.


Teresa juga menatap tajam ke arah Caroline. Dia tidak suka dengan perilaku wanita itu yang terlalu berani.


Evelyn terus mendesak sang ayah untuk memberinya penjelasan. "Daddy apa sudah tidak menyayangi ku? Bukankah aku sudah meminta pada Daddy untuk memecatnya dari sini?"


"Hei, kamu tidak ada hak untuk berbicara seperti itu padaku, anak kurang ajar," sahut Caroline dengan nada tinggi.


Mata Teresa langsung melotot mendengar ucapan Caroline yang tengah memarahi cucunya. "Hei, apa kamu pikir kamu juga pantas meneriaki cucu kesayangan ku? Kamu harusnya sadar diri, putraku sudah mempunyai calon istri sebaiknya kamu tidak mengganggu hubungannya."


Caroline langsung diam, dia tidak sadar dan terlalu terbawa emosi. "Shiit, aku sampai tidak sadar kalau Ibunya Reigner ada di sini. Ini semua gara-gara anak kurang ajar itu," gumam Caroline dalam hati.


Mata Evelyn berkaca-kaca ingin menangis. "Daddy see! Bibi galak itu berani memarahiku lagi. Kalau Daddy tidak ingin memecatnya sekarang, aku berhenti berbicara dengan Daddy."


Caroline tersenyum senang, dia masih ada kesempatan untuk merebut Reigner karena dia masih terikat kontrak.


"Harus ada alasan apa lagi, Rei? Bukankah sudah jelas alasannya kalau kelakuan dia sungguh tidak baik. Kalau kamu tidak memecatnya, jangan pulang ke rumah malam ini," ucap Teresa sedikit mengancam.


"Iya, jangan harap juga Daddy menemui ku dan Mommy. Grandma ayo kita pulang, Daddy sudah tidak menyayangi ku." Evelyn menggandeng tangan Neneknya pergi dari ruangan itu.


"Sayang, dengarkan penjelasan Daddy dulu. Evelyn, tunggu!" Reigner terus berteriak memanggil putrinya. Namun, Evelyn tidak menghiraukannya.


Caroline mendekati Reigner yang duduk lemas di sofa. "Rei, terima kasih telah membelaku," ucap Caroline dengan melingkarkan tangannya di pundak Reigner.


Reigner tersenyum dan langsung menghempaskan tangan itu. "Besok, angkat kakimu dari sini. Aku akan memberikan kompensasi 2 kali lipat sebagai ganti rugi. Sekarang kamu keluar dari ruangan ku, aku ingin bekerja dengan tenang."


"No, Rei. Kamu tidak bisa memperlakukan aku seperti ini. Kamu tidak bisa memutuskan kontrak dengan sepihak," seru Caroline tidak terima.


"Ini sudah menjadi keputusan ku, kamu menerimanya atau tidak terserah. Sekarang keluar dari ruangan ku. Sebelum aku benar-benar marah," ucap Reigner menggertak Caroline.

__ADS_1


Caroline menghentakkan kakinya, lalu dia pergi dari ruangan itu. Dia sangat marah di pecat hanya karena seorang anak kecil. "Sial, aku tidak akan tinggal diam. Tunggu saja aku akan membuat perhitungan," gumam Caroline pelan, kemudian dia turun menuju ke bawah.


Sesampainya di lantai bawah, Caroline melihat Rebecca yang sedang berjalan menggandeng Excel. Dia langsung berjalan cepat dan dengan cepat tangannya menarik rambut Rebecca dari belakang.


"Berhenti kamu, wanita sialaan! Gara-gara kehadiranmu aku harus dipecat dari sini," seru Caroline terus menarik rambut Rebecca.


"Aww, apa-apaan kamu sudah tidak waras. Lepaskan rambutku."


Caroline tergelak. "Hahaha, kamu pikir aku akan melepaskannya. Kamu pantas mendapatkan ini. Rasakan!"


Rebecca melawan dengan menendang keras kaki Caroline. "Lepaskan tanganmu itu, wanita gila!"


Adegan itu menjadi tontonan seru bagi para karyawan. Caroline yang terus mengumpat kasar dan juga Rebecca yang tidak ingin meladeni. Dia masih menjaga sikapnya di depan Excel.


"Kamu wanita tidak tahu diri, bisa-bisanya datang dan langsung merayu. Pakai hamil di luar nikah segala, begitu murahannya kamu!"


Rebecca mengepalkan kedua tangannya. Dia ingin memukul Caroline tapi ada Excel di sampingnya. Excel yang melihat Ibunya dihina pun tidak terima. Anak itu langsung berlari dan menggigit tangan Caroline dengan keras.


"Jangan hina Mommy dihadapanku," teriak Excel keras, kemudian dia menggigit tangan Caroline.


"Awww, dasar anak kurang ajar. Pergi kamu!" Caroline kesakitan sehingga menampar wajah Excel dengan keras.


"Excel," teriak Rebecca refleks.


"Mommy," teriak Excel dengan memegang pipi kirinya.


Rebecca maju dan menampar balik Caroline. "Kamu boleh menghinaku tapi jangan sakiti anakku."


Caroline berdiri dengan memegang pipinya. Dia tidak terima dan masih ingin menyerang Rebecca yang sedang berjongkok menolong Excel.


"Aku tidak terima dengan semua ini! Wanita sialaan! Rasakan ini!" Caroline mengangkat tangannya tinggi dan ingin memukul Rebecca.


"Stop! Jika sampai tanganmu itu menyentuh orang yang sangat berharga bagiku, Caroline!" Reigner keluar dan berjalan mendekati mereka.


"Keamanan, kalian dimana? Kenapa tidak ada yang membela istri dan anakku di sini? Apa kalian semua sudah bosan bekerja di sini?"

__ADS_1


Suara Reigner menggema ke seluruh ruangan. Semua orang terdiam dan menunduk. Tidak ada yang berani menatap ketika Reigner sedang marah.


__ADS_2