
Rebecca berjalan dengan penuh keraguan. Dia sangat takut dan juga kebingungan. Sesampainya di luar, ada dua orang pria bertubuh kekar yang sudah menunggu. Mereka berjalan menghampiri Rebecca yang diam di tempat.
"Ayo cepat masuk ke dalam mobil," seru pria tersebut.
Rebecca tersadar dan ikut masuk ke dalam. Setelah itu mobil pergi dari pusat perbelanjaan tersebut. Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke jalan raya yang ramai.
Di Tempat Lain.
Reigner keluar dari toilet, dia berjalan menuju ke arah eskalator. Dia mengambil handphonenya yang berdering. Terlihat nama Edward dalam layar ponselnya. Reigner mengangkat panggilan itu, namun tiba-tiba saja ada orang yang menyenggolnya dari belakang hingga membuat handphonenya terjatuh dari ketinggian.
"Ohh, shiitt! Apa yang kamu lakukan?" sentak Reigner, akan tetapi orang itu tetap berjalan dan tidak menoleh sedikitpun.
"Sial, handphoneku hancur!" seru Reigner dengan melihat ke lantai dasar.
Reigner tetap turun ke bawah untuk mencari handphonenya hingga dia tak menyadari apa yang sedang terjadi. Sesampainya di bawah, Reigner memungut handphonenya yang sudah hancur, kemudian dia kembali ke atas untuk mencari Rebecca.
Dia kembali ke lantai atas dengan menggunakan lift. Setelah keluar dari lift, Reigner segera ke tempat Rebecca berdiri namun dia tidak mendapati siapapun.
"Kemana perginya, bukankah aku sudah menyuruhnya untuk tetap di sini. Oh, sial handphone ku rusak. Sebaiknya aku harus membeli handphone yang baru."
Reigner segera berlari menuju ke iPhone store. Dia segera membeli satu handphone dan segera mengaktifkannya.
"Tolong cepat, aku ingin handphone ini segera," ucap Reigner pada salah satu karyawan.
"Baik Tuan! Tunggu sebentar lagi!" jawab karyawan itu.
10 menit kemudian settingan handphone pun selesai. Reigner segera mengaktifkan kembali email agar semua data-datanya kembali. Hanya dengan lima menit semua data kembali seperti semula. Banyak pesan masuk dari Edward. Lalu dengan cepat Reigner menghubungi asistennya.
"Halo ada masalah apa?" ucap Reigner dengan suara panik.
__ADS_1
[Itu Tuan, Nona muda dan Tuan muda di culik. Sekarang Nyonya besar sedang ada di rumah sakit.]
"Apa? Baiklah aku akan segera ke sana." Reigner segera menutup teleponnya dan segera berlari menuju ke rumah sakit.
Reigner menuju ke mobil dan melajukannya. Dia terus menghubungi nomor Rebecca namun tidak aktif. "Becca kamu ada dimana? Kenapa tiba-tiba kamu menghilang?" gumam Reigner. Dia terus mengendarai mobilnya dengan penuh rasa khawatir.
Di Tempat Lain.
Rebecca masih di dalam mobil bersama 3 orang anak buah Mario. Tangannya mencengkram kuat drees dan penuh ketegangan. Tak lama kemudian, mobil itu pun sampai di sebuah villa yang sangat besar dengan pagar tinggi menjulang.
Setelah berhenti, salah satu anak buah Mario memintanya untuk turun. "Cepat turun dan masuk ke dalam sana."
Rebecca berjalan pelan dengan perasaan takut. Dia mendekati pintu itu dan segera masuk ke dalam. Setelah masuk pintu pun terkunci otomatis. Rebecca menoleh ke arah pintu kemudian melihat ke arah sekitar. Tiba-tiba suara Mario menyadarkan lamunannya.
"Welcome, Sayang! Aku sudah menunggu mu sejak tadi," ucap Mario dengan penuh kemenangan.
Melihat Rebecca yang emosi membuat Mario sangat senang. Dia tertawa dengan kerasnya. "Calm down, Baby! Mereka aman di tanganku. Asal kamu mau menurut dan jangan membuat masalah," ucap Mario mendekat ke arah Rebecca.
Mario ingin membelai wajah Rebecca. Namun dengan cepat Rebecca menepis tangan itu. "Jangan menyentuhku sembarangan. Tanganmu tidak pantas untuk itu."
Pria itu semakin tergelak dan juga sangat gemas. "Bukankah larangan itu adalah sebuah perintah? Sekarang menurutlah, Sayang! Kemarilah biarkan aku memelukmu. Aku sangat merindukanmu, Rebecca!"
"Menjauh dariku! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah sudi berhubungan denganmu. Kamu terlalu menjijikkan!" umpat Rebecca dengan sangat kasar.
"Oh jadi kamu lebih suka dengan pria itu? Pria yang telah memperkosamu, ataukah memang kamu yang menawarkan diri untuknya. Kalau benar adanya, kamu tidak lebih dari seorang jallaang yang munafik, Rebecca."
"Kenapa diam? Apa ucapan ku sangatlah benar? Kalau begitu kemarilah, aku bisa memberikan semuanya untukmu. Rumah, mobil, perhiasan, uang yang banyak. Semua akan ku berikan untukmu, Rebecca. Come on, Baby!"
Mario terus berjalan mendekati Rebecca. Namun, Rebecca terus menghindar mundur sehingga membuat kesabaran Mario habis. Pria itu tersulut emosi dan menarik tangan Rebecca dengan kasar.
__ADS_1
"Mario lepas, lepaskan aku, Mario!" Rebecca terus berontak ketika tangannya di tarik oleh Mario.
Tangan Rebecca pun terlepas dan dia langsung menampar wajah Mario dengan keras. Mario memegang pipinya yang sakit namun tidak terasa. Dia menata dalam Rebecca yang semakin ketakutan.
"Jadi kamu sudah berani padaku? Sepertinya kamu sangat mengabikan ucapanku Rebecca. Baiklah, aku akan menelepon anak buahku untuk menembak mat! anakmu,"
Mario membalikkan badannya dan mengambil handphone. Dia berpura-pura menghubungi anak buahnya agar bisa membuat Rebecca tunduk.
Rebecca langsung panik dan segera memohon pada Mario agar tidak melakukannya. "Mario, please! Jangan aku mohon! Jangan lakukan itu! Baiklah aku akan menuruti perkataan mu," ucap Rebecca dengan terpaksa.
Mario menyunggingkan senyuman. Dia merasa menang bisa mengendalikan Rebecca. "Kalau begitu, lepaskan dress yang kamu pakai dan cepat layani aku!"
Rebecca membelalakkan matanya, dia terkejut dengan perintah Mario.
"Kenapa apa kamu tidak mau melakukannya?"
Rebecca menggelengkan kepalanya. "Maaf aku tidak bisa melakukan itu karena aku sedang datang bulan."
Mario memicingkan matanya. Dia berjalan menghampiri Rebecca kemudian mencengkeram kedua pipi itu dengan sangat kuat. "Oke baiklah, kali ini kamu bisa lepas. Tapi tidak untuk lain kali, kamu harus mau melayani ku tanpa alasan lagi. Kalau tidak, kamu akan tahu akibatnya."
Mario menghempaskan tubuh Rebecca hingga dia terduduk di sofa. Tubuh Rebecca langsung lemas tak bertenaga."Aku harus keluar dari sini, akan aku gunakan waktu ini untuk mencari cara agar aku bisa kabur. Aku harus bisa menghubungi Reigner," gumam Rebecca dalam hati.
Di Rumah Kosong.
Mobil yang membawa Excel dan Evelyn berhenti di sebuah rumah kosong yang terdapat di tengah hutan. Setelah itu, Excel dan Evelyn keluar dari mobil itu dengan keadaan pingsan. Mereka di gendong oleh salah satu anak buah Mario.
Sesampainya di dalam, Excel dan Evelyn di masukkan ke sebuah ruangan. Mereka duduk di sebuah kursi, kemudian anak buah Mario mengikat tangan dan kaki mereka.
Setelah terikat, mereka pun meninggalkan Excel dan Evelyn sendirian dalam ruangan itu. Anak buah Mario langsung menghubungi bosnya untuk melaporkan bahwa penculikan telah berhasil, kemudian mereka semua kembali ke dalam mobil dan pergi dari hutan itu.
__ADS_1