Bayi Rahasia Sang Model

Bayi Rahasia Sang Model
BRSM 40


__ADS_3

Di Bandara.


Edward sedang mengamati pintu masuk bandara. Dia meminta anak buahnya untuk memperketat penjagaan. Dia selalu menginformasikan kepada Reigner kondisi bandara.


Di luar, Mario turun dari mobil dengan menarik tangan Rebecca. Dia berjalan masuk ke dalam untuk terbang kembali ke California.


"Ayo cepat jalan, jangan membuat drama lagi," tegas Mario pada Rebecca.


Rebecca berjalan dengan tertatih karena sedang memakai sepatu high heel. Mario tidak memberinya kesempatan untuk berjalan pelan.


"Mario, pelan-pelan. Kakiku sakit sekali," ucap Rebecca dengan nafas tersengal.


Mario tak menghiraukan perkataan Rebecca. Dia harus cepat, karena Mario tahu ada seseorang yang sedang mencari Rebecca. Langkah pria itu semakin cepat dan Rebecca tidak bisa mengimbanginya.


Akhirnya, Rebecca terjatuh dan kakinya pun terkilir. " Aww, kakiku. Stop Mario, aku tidak bisa berdiri," ucap Rebecca dengan meringis kesakitan.


Mario menghentikan langkahnya, dia membalikkan badan dan langsung menggendong Rebecca. Mario menatap wajah cantik itu. "Kalau aku tidak Sayang, sudah aku lempar kamu!"


Mario menggendong Rebecca menuju ke ke ruang tunggu. Namun sebelum melangkah jauh, ada seseorang yang menghentikannya dari depan.


"Berhenti Tuan! Saya minta anda menurunkan Nona Rebecca," ucap Edward dihadapan Mario.


Rebecca senang melihat Edward di depannya. "Ada Edward, pasti ada Reigner di sekitar sini," ucap Rebecca dalam hati.


"Anda siapa? Beraninya menghentikan langkahku. Apa anda sudah bosan hidup?" sahut Mario dengan angkuh.


"Kamu lah yang bosan hidup." Terdengar suara lantang dari belakang. Ternyata Reigner lah yang datang. Dia berjalan dengan beberapa anak buah di sampingnya.


Mario menoleh dengan posisi masih menggendong Rebecca. Dia melihat Reigner dengan tatapan sinis.


"Turunkan dia sekarang juga dan jangan membuat keributan di sini,"ucap Reigner dengan suara tegas.


Mario tertawa keras. "Memangnya anda siapa? Berani-beraninya menyuruh ku sembarangan. Wanita ini adalah milikku dan aku ingin membawanya kembali,"jawab Mario dengan sangat angkuh.

__ADS_1


"Wanita itu adalah calon istriku karena dia adalah ibu dari anakku. Jadi jangan coba-coba untuk membawanya pergi." Reigner mempertegas ucapnya terhadap Mario.


"Sepertinya anda belum tahu hukum di negara ini. Sikap anda mengarah ke kriminalitas, tentu saja bisa merugikan diri sendiri. Anda bisa di deportasi secara langsung atas tindakan yang tidak menyenangkan. Pilihan ada di tangan anda sendiri, lepaskan dia atau saya laporkan ke pihak berwajib," ucap Reigner dengan ancaman.


Mario terdiam, lalu dia mulai menurunkan Rebecca. Pria itu tahu kalau Reigner bukanlah orang biasa. Bisnisnya hampir satu level jika disandingkan dengan bisnis Reigner.


"Baiklah, aku mengaku kalah kali ini. Tapi aku tidak akan tinggal diam. Asal kamu tahu bahwa aku tidak akan melepaskan apa yang seharusnya menjadi milikku. Aku akan mencobanya lain kali."


Rebecca pun terlepas dari Mario. Perlahan dia berjalan menuju ke arah Reigner. Namun sebelum sampai tempatnya, Mario kembali menarik tangan Rebecca. Dia mencium bibir Rebecca dengan kasar.


Rebecca menjerit dan mulutnya pun terbungkam. Rebecca mendorong dada Mario dengan seluruh tenaganya. Namun, pria itu semakin memperdalam ciumannya.


Reigner pun terkejut dan segera menarik tangan Rebecca hingga ciuman itu terlepas. "Brengsek, jauhkan tanganmu darinya," umpat Reigner pada Mario.


Mario tergelak, sembari mengelap air liurnya. "Kamu tahu bibirnya sangat manis sekali. Membuatku candu."


"Ingatlah selalu ciuman itu, Baby! Kita bertemu lagi nanti. Tunggu aku pasti datang menjemputmu lagi," ucap Mario dengan senyum seringai.


Setelah Mario pergi. Reigner mulai membantu Rebecca berdiri. "Kamu tidak apa-apa?"


"Kakiku terkilir, rasanya sakit sekali," jawab Rebecca dengan memegang pergelangan kakinya.


Reigner segera menggendong Rebecca dan berjalan keluar dari bandara. Reigner menatap Rebecca yang wajahnya sedikit pucat. Lalu dia melihat dua tanda merah di dada dan juga leher wanitanya.


"Shiit! Berani sekali dia melakukan hal itu. Aku harus lebih berhati-hati sekarang. Sepertinya dia lawan yang tidak mudah," gumam Reigner dalam hati.


Reigner menurunkan Rebecca dan memintanya untuk masuk ke dalam mobil. Setelah itu dia ikut masuk dan segera menjalankan mobilnya untuk pulang ke rumah utama. Reigner ingin Rebecca dan kedua anak kembarnya tinggal bersama agar lebih aman.


Rebecca terus meringis kesakitan. Kakinya terasa sakit sekali. Reigner juga sedikit khawatir. Ingin sekali membawanya ke rumah sakit, akan tetapi ada keraguan di hatinya.


"Apa perlu kita ke rumah sakit?" tanya Reigner.


Rebecca menggelengkan kepala. "Tidak usah, aku ingin cepat pulang. Kasihan Excel dan Evelyn pasti sangat khawatir padaku. Bagaimana Evelyn apa kamu sudah bertemu dengannya?"

__ADS_1


"Evelyn menelepon ku dengan menangis. Dia sangat khawatir sekali padamu. Begitu juga Excel, dia tampak tegang dan berusaha untuk tidak menangis," jawab Reigner dengan pandangan fokus ke depan.


"Aku ingin membawamu ke rumah ku. Aku harap kamu tidak menolaknya. Ini demi kebaikan kalian, aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi. Aku yakin orang itu pasti akan kembali mengejarmu lagi," ucap Reigner dengan memandang wajah Rebecca.


Rebecca terdiam, dia memikirkan ancaman Mario. Setiap kali dia mengingat itu, tubuh Rebecca gemetar dan ketakutan.


"Kamu kenapa Becca? Are you okay?"


"Nothing, aku hanya capek saja. Badanku sakit semua," sahut Rebecca dengan gugup.


"Baiklah sebentar lagi sampai, kamu tenang ya. Jangan takut lagi, karena aku akan selalu melindungi mu dan juga kedua anak kita."


Rebecca kembali menoleh ke arah Reigner. Senyuman itu mampu mencairkan ketegangan yang dirasakannya. Rebecca pun mengangguk dia akan mulai memercayai pria yang ada disampingnya itu.


Sepuluh menit kemudian, Reigner sampai juga di rumah utama. Dia turun dari mobil dan berjalan menghampiri Rebecca. Dia membuka pintu, kemudian merengkuh tubuh Rebecca untuk digendongnya lagi.


Reigner senang, akhirnya Rebecca bisa luluh dan percaya padanya. Dia akan menggunakan kesempatan itu untuk memperdalam lagi hubungannya. Kini Reigner telah sampai di dalam. Reaksi Rebecca sama dengan Evelyn, mereka terpana dengan kemewahan rumah Reigner.


"Kamu tahu, reaksi mu saat ini sama seperti reaksi Evelyn pada waktu itu," ucap Reigner membuyarkan lamunan Rebecca.


"Ya, wajar karena rumahmu ini sangatlah mewah."


"Sebentar lagi juga akan menjadi rumahmu. Tinggal menunggu tanggal mainnya saja." Reigner mulai menggoda Rebecca. Hal itu mampu membuat wanita itu salah tingkah.


Tak lama kemudian, sampailah Reigner di sebuah kamar. Dia meletakkan pelan tubuh Rebecca di atas kasur. Lalu dia menghubungi dokter untuk datang ke rumah. Kaki Rebecca semakin bengkak dan kemerahan.


"Aku tinggal sebentar ke bawah, Excel dan Evelyn sedang perjalanan kemari. Aku menyuruh Edward untuk menjemput mereka semua," ucap Reigner dengan membuka kancing lengannya.


"Terima kasih, sudah berbuat banyak untukku."


"Sudah menjadi kewajiban ku untuk melindungi calon istriku. Bukankah begitu?" Reigner tersenyum lalu pergi keluar kamar.


Rebecca menarik nafas panjang dan mulai merebahkan tubuhnya. Dia mencoba menenangkan jantungnya yang selalu berdegup kencang.

__ADS_1


__ADS_2