Bayi Rahasia Sang Model

Bayi Rahasia Sang Model
BRSM 60


__ADS_3

Reigner beserta rombongannya tiba di villa Mario yang ada di Venesia. Semua orang turun dan mengepung villa tersebut. Reigner memerintahkan salah satu anak buahnya untuk masuk ke dalam.


Beberapa menit kemudian, anak buah Reigner keluar dan melaporkan bahwa villa dalam keadaan kosong. "Lapor Tuan, villa ini sudah dalam keadaan kosong."


Reigner tidak percaya jika dia sudah dipermainkan. Kedua tangannya mencengkram dengan kuat. "Siall! Dia membawa Rebecca kemana?"


Tiba-tiba Edward menyela ucapan Reigner. "Tuan sebuah laporan dari bandara, bahwa ada penerbangan ke California 20 menit yang lalu."


"Jadi mereka membawanya ke kembali ke sana. Edward atur segera penerbanganku ke California."


"Bisa saja Tuan, tapi kita belum mendapatkan kabar dari Tuan muda dan Nona muda," sahut Edward mengingatkan.


Reigner memijat kepalanya, dia bingung harus mendahulukan siapa?


"Bagaimana menurutmu Edward? Aku harus mendahulukan siapa?" tanya Reigner dalam dilema.


Edward terdiam dan berpikir. Dia harus memberi saran yang tepat untuk bosnya. "Maaf Tuan, menurut saya lebih baik kita gencarkan pencarian Tuan muda Excel dan Nona Evelyn dulu. Sebab kita belum tahu keberadaannya."


"Baiklah kamu kirim mata-mata ke California. Cari semua informasi tentang pria itu." Reigner membalikkan badan, dia kecewa karena tidak bisa menemukan Rebecca.


Pikiran Reigner sangat kacau sekali. Dia sangat mengkhawatirkan kondisi Rebecca dan juga kedua anak kembarnya. Setelah itu, Reigner kembali ke Roma untuk mencari kabar dari Excel dan Evelyn.


Di Hutan.


Evelyn terus menggendong sang Kakak menjauh dari tebing itu. Dia takut kalau tiba-tiba terjadi longsor. Excel masih dalam keadaan pingsan membuat Evelyn sangat kesulitan.


Tiga langkah berjalan, Evelyn berhenti sejenak untuk mengambil nafas. Setelah mendapat tenaga, Evelyn melanjutkan lagi langkahnya. Dia hanya mencari tempat yang aman karena hari sudah mulai gelap.


Cukup jauh melangkah, Evelyn memutuskan untuk berhenti di sebuah pohon besar yang sangat rindang. Akar kuat yang menyembul dapat dia gunakan untuk beristirahat sejenak.


"Kakak, kita beristirahat di sini ya! Aku sudah tidak kuat berjalan lagi," ucap Evelyn pada Kakaknya yang masih pingsan.

__ADS_1


Evelyn menyeka keringat yang membasahi pipi. Langit mulai gelap, dan mereka harus tidur dalam kegelapan dengan udara yang sangat dingin. Evelyn terus berjaga-jaga, dia khawatir kalau tiba-tiba saja ada binatang buas yang mendekat.


Excel pingsan ditambah lagi dengan badannya panas. Perut yang lapar juga menambah kegelisahan Evelyn. Dia berharap pagi segera datang, agar bisa melanjutkan perjalanannya kembali.


"Mommy, Daddy! Evelyn takut, Evelyn takut, Mommy!"


Evelyn bergumam dan berusaha untuk tidak tidur. Akan tetapi rasa lelah mengalahkan pertahanannya, gadis kecil itu pun tertidur dengan memeluk sang Kakak.


Keesokan harinya, Excel terbangun. Matanya terbuka karena silau dengan sinar matahari yang menyorot ke arahnya. Kakinya semakin bengkak dan sulit sekali digerakkan. Dia menoleh ke samping dan melihat Evelyn yang masih tertidur.


"Kenapa aku bisa sampai di sini? Apakah Evelyn yang menggendong ku sampai di sini?" gumam Excel dengan menatap lekat wajah sang adik.


Evelyn pun terbangun, dia melihat Excel yang sudah duduk dan menatapnya. "Kakak sudah sadar, syukurlah! Aku khawatir sekali kalau terjadi apa-apa sama kakak,"ucap Evelyn senang.


Mata Excel berkaca-kaca melihat wajah adiknya yang sangat kelelahan. Kaki dan tangannya lecet terkena semak belukar yang tajam. Evelyn heran dengan tatapan kakaknya yang tajam menghunus.


"Kak, Why? Ada yang ada yang salah denganku?"


"Terima kasih Evelyn, terima kasih sudah menyelamatkan kakak. Maafkan kakak yang tidak bisa melindungimu, maaf jika kakak merepotkanmu. Kakak memang tidak berguna. Maafkan kakak Evelyn, Maafkan kakak!"


Evelyn tersenyum mendengar pernyataan sang kakak. Dia juga ikut terharu. "Kakak tidak usah berterima kasih, karena itu sudah kewajibanku untuk membantu Kakak. Kita ditakdirkan untuk saling membantu, Kak."


"Sekarang bagaimana keadaan kaki Kakak? apakah masih sakit?" Tanya Evelyn dengan melihat pergelangan kaki kakaknya.


Excel mengangguk sembari meringis menahan rasa sakit di kakinya. "Sepertinya aku tidak bisa berjalan, Bagaimana kamu bisa kuat menggendong, Evelyn?"


Evelyn terkekeh mendengar pertanyaan Kakaknya. "Apakah kakak masih meremehkan kekuatanku? aku ini sangat kuat, Kak. Buktinya aku bisa menggendong Kakak dan sampai sini," ucap dengan tenang.


"Kakak lapar tidak? aku akan mencarikan sesuatu untuk Kakak. Nanti kita lanjutkan perjalanan, aku ingin cepat turun dari gunung ini, Kak!"


Excel heran dengan pertanyaan adiknya. "Ini hutan Evelyn kamu mau mencari makanan dimana?"

__ADS_1


"Aku mau cari di sekitar sini, Kak. Nanti kalau tidak ada, aku akan kembali," ucap Evelyn tanpa rasa takut.


"Tapi Evelyn, itu sangat berbahaya. Nanti kalau kamu tidak bisa kembali ke sini atau kamu tersesat, bagaimana?" Excel melarang adiknya karena dia sangat khawatir sekali.


Evelyn berdiri dan dia tetap nekat untuk mencari makanan. "Kakak aku tidak mungkin tersesat, karena aku akan meninggalkan jejak di setiap langkahku. Aku ada pisau kecil ini, nanti pisau kecil ini akan aku gunakan untuk menandai pohon-pohon yang aku lewati. Bagaimana? Bukankah adikmu ini sangat smart!"


Meski dalam keadaan yang sulit Evelyn tetap menghibur kakaknya. Dia tidak ingin patah semangat, dia harus bisa keluar dari hutan itu.


"Baiklah tapi jangan lama-lama ya! kalau tidak ada makanan cepat kembali!"


"Baik Kakak aku pergi dulu. Kakak juga jangan kemana-mana, oke!"


Evelyn berjalan menuruni ke area tebing yang sedikit landai. Dia ingin mencari buah untuk bisa dimakan dan mengganjal perutnya lapar. Evelyn tidak mempunyai rasa takut sama sekali. Dia terus berjalan dengan yakin tanpa memikirkan sesuatu buruk terjadi.


Seperti yang dikatakan tadi, setiap langkah dia menandai pohon dengan pisau kecil yang di bawahnya. Jadi dia tidak perlu bingung untuk kembali ke lokasi dimana sang kakak berada.


15 menit berjalan Evelyn menemukan pohon buah di bawah tebing. Evelyn turun dengan pelan-pelan untuk menuju pohon buah tersebut.


"Syukurlah aku bisa mendapatkan pohon buah di sini. Buah-buah ini cukup untuk mengganjal perutku dan Kakak, "ucap Evelyn dengan mengutip buah-buah yang berserakan di tanah.


Dia menggunakan kaosnya untuk wadah buah tersebut. Setelah semua terpungut Evelyn kembali ke atas. Namun dia mengalami kesulitan ketika ingin naik ke atas tebing. Kakinya selalu terpeleset ketika menginjak tanah.


"Kenapa sangat sulit sekali? bagaimana caranya aku naik?"


Evelyn terdiam sejenak dia memikirkan sesuatu agar bisa naik ke atas. Dia mendapatkan sebuah ide, Evelyn lepaskan kaosnya dan membungkus buah tersebut. Setelah itu dia melemparkan buah yang sudah terbungkus itu ke atas tebing.


Dua kali mengayunkan buah tersebut sampai juga di atas. Kini giliran Evelyn lah yang naik. Dia menancapkan pisau kecilnya di akar kecil yang merambat di sekitar tebing. Setelah itu dia naik secara perlahan dengan meraih rumput maupun semak belukar yang ada di sekitar tebing itu.


Setelah berusaha akhirnya Evelyn bisa naik ke atas. Keringatnya mengucur karena dia sangat kesulitan sekali.


"Huh, akhirnya bisa juga! Tidak ada salahnya ikut ekstrakulikuler di sekolah, jadi aku bisa mengatasi kesulitan ini dengan mudah!" gumam Evelyn dengan hati yang senang.

__ADS_1


Setelah itu Evelyn kembali menuju ke tempat Kakaknya dengan membawa buah yang cukup banyak.


__ADS_2