Bayi Rahasia Sang Model

Bayi Rahasia Sang Model
BRSM 55


__ADS_3

Keesokan Pagi.


Reigner bangun pagi sekali, dia ingin membuat sarapan spesial hari ini. Semua orang masih tertidur. Hanya ada asisten rumah tangga, namun Reigner telah melarang untuk membantunya.


Setengah jam memasak, Rebecca bangun dan turun ke lantai bawah untuk minum. Lalu, dia mendapati Reigner sedang sibuk dengan penggorengannya.


"Rei, sepagi ini kamu sudah bangun untuk memasak?" seru Rebecca dari belakang.


Reigner menoleh dengan sebuah senyuman. "Morning, istriku! Aku hanya ingin membuatkan sarapan untukmu dan juga anak-anak. Kamu tahu, semalam aku tidak bisa tidur karena terlalu bahagia," bisik Reigner pelan.


Rebecca pun hampir tersedak minuman gara-gara mendengar ucapan Reigner. "Siapa juga istrimu?" sahut Rebecca dengan meninju pelan perut Reigner.


"Hei, jangan memancing ku di pagi hari ya!"


Rebecca meletakkan gelasnya lalu dia menuju ke meja makan untuk melihat masakan Reigner. "Sepertinya enak, boleh aku makan sekarang. Emm tidak jadi deh aku mau bangunin anak-anak dulu, terus mandi!" ucap Rebecca dengan terus memandang masakan di depannya.


Reigner pun ikut ke depan untuk meletakkan gorengan ikan salmon di meja makan. "Iya kamu mandi dulu nanti, anak-anak biar aku yang bangunkan."


"Baiklah, kalau begitu."


Tiba-tiba terdengar suara Teresa berdehem. "Ehem, ehem, sepertinya Mom melihat ada aura kebahagiaan di sekitar sini. Apa ya? Kalian tahu tidak? Rei, Becca?"


Reigner tersenyum, dia tahu maksud dari Ibunya. "Tentu saja Rei tahu, Mom! Aura itu terpancar dari sini!"


Reigner mencium pipi Rebecca dari samping. Hal itu membuat Rebecca kaget dan reflek menghindar.


Reigner pun langsung memprotes suka Rebecca. "Why, aku hanya memberikan morning kiss untukmu, istriku!"


Teresa terkekeh melihat wajah Rebecca yang memerah menahan malu. "Mom senang melihatnya. Semoga hubungan kalian penuh kebahagiaan. Mom berdoa semoga hal baik selalu menyertai keluarga kita."


"Semoga saja Mom. Terima kasih atas restunya," sahut Rebecca.


Teresa mendekat ke arah calon menantunya. "Iya Mom sangat bahagia sekali, karena kamu wanita hebat. Melahirkan kedua malaikat kecil yang pintar, cantik, dan juga tampan."


"Mom hari ini temani Excel dan Evelyn ke pemotretan ya. Aku ada acara dateting," ucap Reigner dengan mata melirik ke arah Rebecca.


"Oke, Mom akan temani mereka nanti! Kalian nikmatilah waktu bersama!"


Setelah itu, Reigner membangunkan kedua anak kembarnya dan Rebecca bergegas mandi. Sesampainya di atas, Reigner masuk ke dalam kamar anaknya dan Rebecca masuk ke dalam kamarnya sendiri.

__ADS_1


Setibanya di kamar, Reigner dikejutkan dengan Evelyn yang sudah bersiap dengan pakaian rapi. "Wow kesayangan Daddy sudah sudah bangun dan bersiap-siap ternyata. Hem rajin sekali!"


Evelyn tertawa girang. Dia berlari dan ingin memeluk sang ayah. Akan tetapi Evelyn berhenti di tengah jalan. "Stop!apa Daddy belum mandi? Kenapa Daddy bau sekali?"


Reigner terkekeh. "Daddy memang belum mandi Sayang. Daddy hari ini membuat sarapan spesial untukmu! Kalau kakakmu sudah selesai mandi, cepat ajak turun ke bawah. Kita sarapan bersama, Daddy akan mandi dulu."


"Oke Dad! Evelyn menyisir rambut dulu ya!"


"Iya Daddy keluar dulu! Jangan lama-lama ya!"


Setelah itu Reigner keluar dari kamar anaknya. Dia juga ingin membersihkan badan karena memang tubuhnya bau masakan.


Setengah jam kemudian semua orang sudah bersiap. Rebecca keluar dari kamarnya dan tak lama kemudian, Reigner juga menyusul dari belakang. Melihat Rebecca menuruni anak tangga membuat Reigner berlari. Lalu dengan cepat Reigner memeluk pinggang Rebecca dari belakang.


"Tunggu, aku Sayang!" bisik Reigner dekat telinga Rebecca.


Rebecca terkejut dan bicara dengan nada ketus. "Rei, kamu apa-apaan? sengaja yang buat aku kaget, kalau aku jatuh dari sini gimana?"


"Maaf Sayang, aku hanya ingin menunjukkan kepada anak-anak kalau kita sudah resmi berhubungan," jawab Reigner dengan cengengesan.


Reigner pun merangkul pinggang Rebecca sampai di meja makan. Sesampainya di sana Excel dan Evelyn terkejut melihat Rebecca berpelukan dengan Reigner.


"Ya sayang, sebentar lagi Mommy akan menjadi istri Daddy. Daddy juga akan memindahkan status kalian dan kewarganegaraan kalian untuk tinggal di sini. Bagaimana tidak apa-apa kan jika kalian tinggal di Italia?" tanya Reigner dengan menarik kursi ke belakang.


"It's oke, Daddy. Aku tidak apa-apa jika harus tinggal di Italia. Kurasa Kak Excel juga setuju. Ya kan, Kak?" Evelyn dengan mata melirik ke arah Excel.


Excel hanya hanya mengganggukan kepalanya. Dia terlalu malas untuk menjawab pertanyaan Evelyn.


"Baiklah jadi Mommy juga akan mengurus pemindahan sekolah kalian," sahut Rebecca dengan menyendok salad.


"Ya Mommy," jawab Excel dan Evelyn.


Teresa ikut mengemukakan pendapatnya. "Kalau untuk sekolah lebih baik cucuku dimasukkan ke sekolah favorit di Italia. Reigner dulu juga sekolah di sekolah itu dan sekolah itu sudah terakreditasi menjadi sekolah internasional terbaik di negara ini."


"Kalau untuk itu terserah Mom saja aku mengikut sebagaimana baiknya," ucap Rebecca.


"Baiklah Mom senang kalau begitu!"


Reigner juga ikut senang karena Rebecca setuju dengan semua yang dilakukannya. "Evelyn nanti kamu pergi ke pemotretan dengan Grandma ya! Daddy dan Mommy ada sedikit urusan!"

__ADS_1


"Oke Dad," jawab Evelyn.


Sarapan pagi berlangsung dengan hati yang senang. Reigner dengan senang hati melayani keluarga kecilnya. Dia menjadikan Rebecca ratu di hatinya dan sudah memantapkan diri untuk melakukan apapun demi kebahagiaan mereka.


20 menit kemudian, semua orang telah selesai sarapan. Teresa dan kedua cucunya berangkat duluan ke kantor dengan diantar sopir.


Evelyn dan Excel berpamitan kepada ayah dan ibunya. "Daddy, Mommy, aku dan kak Excel berangkat dulu ya!" ucap Evelyn pada ibunya.


Rebecca berjongkok dan menjawab,"iya hati-hati ya! Jangan nakal menurut dengan ucapan Grandma! Excel jaga adik kamu ya, Nak!"


"Ya Mommy," jawab Excel dengan muka datarnya.


Rebecca mencium pipi kedua anaknya. Setelah itu mereka berangkat untuk menjalani pemotretan sebagai model cilik. Excel dan Evelyn menjadi trending di majalah fashion anak-anak. Popularitas mereka didukung oleh wajah cantik dan tampan yang mereka miliki.


Bahkan Excel telah menjadi idola baru di dunia model. Sikap datarnya mampu menarik para fotografer dan para desainer untuk melakukan kerjasama. Namun demi kebaikan mereka Reigner membatasi hubungan kerja sama di luar kantor.


Setelah kedua anaknya berangkat, Rebecca masuk ke dalam rumah. Lalu dia mencari Reigner untuk bertanya sesuatu. Rebecca menghampiri Reigner dalam kamarnya. "Kamu mau mengajakku ke mana Rei?" tanya Rebecca di depan pintu.


Reigner pun menoleh, dia sedang memakai jasnya. Reigner diam dan menarik tangan Rebecca agar masuk ke dalam kamarnya. "Sini masuklah! Tidak sopan berbicara di depan pintu."


Rebecca langsung masuk ke dalam. Dia duduk di ranjang milik Reigner. Dia melihat ke sekeliling ruangan. Kamar yang cukup luas dengan interior yang serba mewah. "Kamarmu luas sekali, dan desainnya bagus," ucap Rebecca dengan melihat ke seluruh ruangan.


Reigner tersenyum tipis, dia berjalan menghampiri Rebecca yang tengah duduk di ranjangnya. "Sebentar lagi kamar ini juga akan menjadi kamarmu. Kita akan mengulang malam yang kelam itu di atas ranjang ini. Aku harap kamu mempersiapkan diri dengan baik," bisik Reigner tepat di depan wajah Rebecca.


Lagi-lagi dada Rebecca berdegup dengan kencang. Dia selalu tersipu malu ketika Reigner menggodanya. Untuk menghindari tatapan Reigner, Rebecca mendorong pelan tubuh pria itu agar menjauh darinya.


"Minggirlah tidak usah berpikiran macam-macam. Sebaiknya kita berangkat sekarang!" ucap Rebecca ingin pergi dari kamar itu. Namun, Reigner langsung menarik tangan Rebecca hinga jatuh ke dalam pelukannya.


"Stop, siapa yang menyuruhmu kabur,"bisik Reigner dengan sangat pelan.


"Aku ingin segera menikah denganmu, Sayang. Aku ingin hari itu segera tiba!"


Rebecca melepas tangan Reigner yang memeluknya. "Bersabarlah kita masih mempunyai banyak waktu! Sekarang kita nikmati saja dulu waktu ini. Lepas ya, aku mau ke kamar mengambil tas!"


Reigner melepaskan pelukannya. Lalu dia memandang Rebecca yang ingin keluar dari kamarnya. Di luar kamar, Rebecca memegangi dadanya yang berdegup kencang.


"Oh, jantungku kenapa selalu berdebar ketika dia berbisik-bisik seperti itu. Suaranya terdengar seksi sekali. Oh tidak, akhirnya aku bisa memujinya setelah sekian lama," gumam Rebecca pelan.


"Aku akan mengulang masa mudaku yang tertunda. Menikmati sensasi berpacaran ketika aku masih berumur 20 tahun dulu."

__ADS_1


Rebecca terus berbicara dengan hati yang senang. Hidupnya semakin berwarna ketika dia memulai membuka hati yang sempat terkunci.


__ADS_2