Bayi Rahasia Sang Model

Bayi Rahasia Sang Model
BRSM 37


__ADS_3

Acara variety show berjalan dengan lancar. Tepat pukul 7 malam, mereka keluar dari gedung tersebut. Rebecca membawa daya tarik tersendiri terhadap produk terbaru yang diluncurkan oleh Reigner.


"Ayo kita pergi dinner, anggap saja sambutan spesial dariku," ucap Reigner pada wanita yang ada di sampingnya.


Rebecca menoleh dan tersenyum tipis."Bilang saja ini salah satu trik mu untuk menarik perhatianku. Bukan begitu!"


Reigner terkekeh. "Right, anggap saja begitu."


Setelah itu, Reigner menjalankan mobilnya untuk menuju ke restoran. Dalam perjalanan obrolan di antara mereka semakin lancar. Rebecca sering tertawa ketika Reigner bicara.


"Becca, aku sangat penasaran. Kamu termasuk model yang berbakat dengan wajahmu yang cantik. Selama ini apakah ada pria yang mendekatimu selain aku?" tanya Reigner serius.


Rebecca tersenyum tipis. "Sepertinya kamu sangat ingin tahu tentang kehidupan ku," jawab Rebecca datar.


"Ya, karena modal dasar membuka hatimu adalah mencari tahu semua tentang kehidupanmu. Baik itu masa lalu atau yang terjadi sebelum bertemu denganku," sahut Reigner penasaran.


Rebecca memalingkan wajahnya ke arah jendela. Kemudian dia menjawab,"Aku kasih jawaban nanti kalau perutku sudah terisi. Pertanyaan mu seperti wartawan saja. Membuatku kesal."


"Ha ha ha, baiklah. Aku akan membawamu ke restoran paling enak di Italia," ucap Reigner dengan semangatnya.


Reigner melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai di restoran. Dia sudah tidak sabar untuk mendengar jawaban Rebecca. Kurang lebih 20 menit mobil Reigner sampai di restoran.


Mobil berhenti di parkiran dan Reigner keluar untuk membukakan pintu mobil untuk Rebecca. Setelah itu mereka masuk ke restoran bersama. Reigner langsung menuju ke ruangan VIP yang biasa dia gunakan untuk acara pertemuan.


Sesampainya di dalam, Reigner segera memesan menu kesukaannya. Sembari menunggu pesanan datang, Reigner menagih jawaban Rebecca. "Baiklah, sekarang mulailah bercerita. Aku siap mendengarkan," ucap Reigner dengan penuh harap.


Rebecca menatap mata Reigner yang menunjukkan rasa penasarannya. "Pertanyaannya apa ya tadi. Aku sedikit lupa," ucap Rebecca mengalihkan pembicaraan.


"Apa kamu sengaja mengulur waktu? Atau kamu belum siap bercerita?"


Rebecca tersenyum. "Sangat tepat, aku belum siap untuk bercerita semuanya padamu," jawab Rebecca santai dan membuat Reigner sedikit kecewa.


"Oke, aku mengerti dan tidak akan memaksamu. Aku tunggu inisiatif mu saja untuk bercerita."


Rebecca mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, tak lama kemudian makanan yang di pesan pun datang. Ada berbagai menu mewah tersaji di meja.


"Wah, kamu sengaja ingin membuatku gemuk? Semua makanan ini terlihat sangat berat," ucap Rebecca dengan menelan ludahnya.

__ADS_1


"Ya, semua ini spesial untukmu. Makanlah semuanya."


Rebecca menarik nafas dalam. "Aku tidak bisa memakan semuanya. Kamu tahu aku selalu menjaga pola makan agar berat badanku tetap ideal. Aku bisa makan banyak, tapi setelah itu aku harus banyak berolahraga agar lemak itu tidak tinggal."


Reigner memegang piring kemudian dia mengambilkan salad untuk Rebecca. "Ini buat makanan pembuka mu. Kamu tahu, aku sudah berlangganan di sini. Terus, semua masakan ini di masak oleh koki profesional jadi kandungan lemak juga kalorinya telah diatur. Don't worry oke!"


Rebecca kembali tertegun. Dia tak menyangka kalau Reigner adalah sosok pria yang lembut dan juga perhatian.


"Apa ada sesuatu di wajahku? Atau kamu terpana melihat ketampanan ku?" ucap Reigner menggoda Rebecca.


Wanita itu langsung memutar bola matanya. "Cih, sangat percaya diri sekali," sahut Rebecca sembari memakan saladnya.


Reigner terkekeh. "Bukankah itu suatu realita? Kamu bisa lihat duplikat ku di Excel. Ketampanan ini menurun padanya."


"Iya Tuan, Excel sudah mewarisi gen anda," sahut Rebecca dengan nada malas.


Makan malam itu berlangsung secara alami. Rebecca mulai terbiasa dengan kehadiran Reigner yang bisa menacairkan suasana.


Akhirnya tepat jam 9 malam, makan malam itu selesai. Reigner membayar tagihan kemudian keluar bersama Rebecca menuju ke mobil. Mereka harus segera pulang karena Excel sudah marah-marah.


Kurang lebih setengah jam, Reigner sampai di rumah Rebecca. Mereka turun dari mobil dan segera masuk ke dalam. Evelyn yang mendengar suara pintu yang terbuka pun langsung berlari.


"Hai, Honey kesayangan Daddy. Kenapa belum tidur?"


"Aku menunggu Daddy dan Mommy pulang. Terus Evelyn tidak mau tidur seseorang yang pemarah sekali," ujar Evelyn dengan wajah imutnya.


"Siapa yang pemarah, Sayang?" sahut Rebecca.


"Kakak, Mommy! Dia dari tadi marah-marah terus sama aku. Padahal kan aku sudah jadi anak yang baik, tetap saja Kakak memarahi ku, "jawab Evelyn dengan bibir mengerucut.


Rebecca menarik nafas dalam. Dia sudah tahu sepak terjang kedua anak kembarnya itu. "Kakakmu itu tidak akan marah kalau kamu tidak mengganggunya."


"Jadi Mommy tidak percaya sama aku. Ya sudah, Mommy bujuk saja Kakak. Biar aku bersama Daddy saja. Hanya Daddy yang tidak memarahiku. Ya kan Dad?" ucap Evelyn dengan manja.


"Heih kalian ini, baru datang sudah berdebat. Mom sendiri tidak tahu Excel kenapa? Wajahnya murung, Mom menanyainya tapi dia hanya diam saja. Saat Evelyn yang bertanya, dia marah-marah. Mom masih bingung bagaimana cara meluluhkan hati cucu tampanku itu," ucap Teresa pada Rebecca.


"Maafkan Excel, Mom. Excel memang begitu karakternya. Semua ini karena kesalahan ku yang terlalu keras dalam mendidiknya. Aku harap, Mom tidak memasukkan dalam hati," jawab Rebecca, dia merasa tidak enak.

__ADS_1


Teresa tersenyum sembari memeluk calon menantunya itu. "Mom, mengerti. Mom akan selalu berusaha untuk menggapai hatinya Excel. Ya sudah sekarang bujuk anak itu biar tenang."


"Iya, kalau begitu aku ke atas dulu Mom."


Rebecca naik ke lantai atas untuk membujuk putranya. Sedangkan Reigner dihadapkan dengan putrinya yang paling cerewet.


"Apa kamu ingin di gendong terus seperti ini anak manis?"


"Ya, aku rindu Daddy. Oh ya, tadi sore aku lihat Daddy bersama Mommy di TV. Gara-gara Daddy lukisanku jadi rusak."


"What? Gara-gara Daddy, why?"


"Ya, gara-gara aku melihat Daddy, lukisan ku jadi tercoret dengan kuas."


Reigner tergelak. "Sayang, bukan8itu salahmu sendiri. Kok Daddy yang kamu salahkan?"


"Pokoknya gara-gara Daddy. No coment!"


"Oke-oke, Daddy salah dan minta maaf," ucap Reigner dengan mengecup pipi Evelyn.


Teresa menghampiri cucunya. "Sayang kamu harus tidur, hari sudah malam. Besok Grandma ke sini lagi."


Evelyn terdiam dan menunjukkan wajah sedih. "Jadi Daddy dan Grandma harus pulang? Kenapa tidak menginap di sini saja Grandma?"


"Kesayangan Daddy dengar ya. Untuk saat ini Daddy belum bisa tinggal bersama Mommy. Tunggu Daddy menikahi Mommy dulu ya."


Kapan Daddy menikahi Mommy?" tanya Evelyn dengan muka polosnya.


"Secepatnya Baby, karena Daddy juga tidak suka menunggu. Kamu ikut bantu dan dukung Daddy. Biar kita bisa selalu bersama-sama," jawab Reigner yakin.


"Baiklah, Evelyn mengerti maksud Daddy. Kalau gitu gendong aku ke kamar Daddy. Aku malas berjalan," ucap Evelyn sangat manja. Dia terus bergelayut di pundak sang Ayah.


"Siap Tuan putri, ajudan siap mengantarkan putri kemana saja."


Evelyn tertawa geli. "Daddy, Daddy lucu sekali. I Love You Dad!"


"Love you too, Honey!"

__ADS_1


Reigner mengantarkan putrinya untuk masuk ke kamar. Setelah itu dia berpamitan pulang. Ada rasa ingin tinggal, akan tetapi Reigner tahu kalau belum saatnya.


__ADS_2