Bayi Rahasia Sang Model

Bayi Rahasia Sang Model
BRSM 64


__ADS_3

Setelah kejadian hari itu, reigner dibawa ke rumah sakit. Dia terluka parah bahkan nyawanya pun terancam. Berita penculikan dan pembunuhan pun diketahui publik. Mario di adili dan dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku di California.


Tubuh Rebecca tidak ditemukan, entah dia masih hidup atau sudah meninggal tidak ada yang tahu. Tim besar sudah melakukan pencarian namun hasilnya nihil. Sehingga pencarian dihentikan dan Rebecca dinyatakan meninggal.


Regal dirawat di rumah sakit di negaranya sendiri. Dia sekarang satu rumah sakit dengan kedua anak kembarnya, Excel dan Evelyn.


Sejak kejadian di hutan, Excel dan Evelyn dirawat secara intensif di rumah sakit. Keadaannya sempat kritis karena keracunan dan telat penanganan, sedangkan sang kakak mengalami luka ringan di kaki. Jadi Excel lebih cepat sembuh.


Teresa sangat terpukul melihat musibah yang di dialami keluarganya. Dia hampir kehilangan cucu dan juga calon menantunya. Teresa bingung harus menjelaskan apa? pada Excel juga Evelyn.


Tadi saya masuk ke dalam ruangan Evelyn. Gadis kecil itu tergolek lemah dan belum sadarkan diri. Air mata Teresa selalu menetes setiap melihat keadaan Evelyn yang menyedihkan.


"Evelyn maafkan, Grandma! Setelah ini Grandma berjanji akan memberimu kebahagiaan yang penuh," ucap Teresa dalam hati.


Setelah itu terasa mencium pipi Evelyn dengan penuh kasih sayang. Tak lama kemudian tangan Evelyn bergerak perlahan dan dia membuka matanya. "Mommy. Grandma, dimana Mommy?"


"Sayang, kamu sudah bangun? Syukurlah Grandma sangat khawatir sekali, Nak!"


"Mommy, aku ingin Mommy, Grandma!" Evelyn terus memanggil dan mencari keberadaan sang ibu. Teresa hanya bisa berbohong untuk sementara waktu.


"Sayang tenang ya. Mommy lagi keluar membeli sesuatu," jawab Teresa dengan gugup.


"No, aku ingin Mommy sekarang grandma!"


Terasa semakin bingung, lalu dia berpura-pura keluar untuk menghindari pertanyaan cucunya.


"Baiklah, Grandma akan mencari Mommy mu. Kamu kembali istirahat ya, Sayang!"


Teresa keluar dari ruang rawat cucunya, dia menangis sejadi-jadinya di luar pintu. "Kenapa harus terjadi pada keluargaku? Tuhan aku ingin engkau mengembalikan keluargaku. Kasihan sekali cucu-cucuku."


Teresa terus terisak, dia berjalan menuju ke tempat Reigner.


Di Kamar Lain.


Excel sedang duduk di ranjangnya. Dia hanya menunggu kakinya pulih saja, karena tidak ada ya luka yang serius. Merasa bosan, Excel menyalakan televisinya. Dia mengganti saluran televisi untuk mencari acara kesukaannya.


Tiba-tiba dia melihat satu berita yang memperlihatkan wajah Ayah dan juga ibunya. Di dalam berita itu menyiarkan tentang penculikan seorang model. Excel kaget melihat berita itu. Dia tahu kalau di dalam berita itu menyebutkan bahwa Rebecca Alveansa seorang model dari California dinyatakan hilang dan belum ditemukan.


Excel terdiam dan tidak bisa berkata-kata. Setelah itu dia sadar dan berteriak histeris. "Mommy, Mommy. No, Mommy pasti masih hidup. Berita itu pasti bohong. Mommy dimana Mommy ku. Kenapa Mommy belum menjenguk Excel? Mommy aku ingin Mommy!"


Langkah Teresa langsung berhenti ketika melewati ruangan Excel. Dia segera berlari masuk untuk melihat Excel yang terdengar berteriak-teriak.


"Excel kamu kenapa Sayang?" tanya Teresa mendekati sang cucu.

__ADS_1


"Aku ingin Mommy. Dimana Mommy ku? Berita itu pasti bohong, berita itu pasti bohong!"


Teresa langsung merengkuh tubuh Excel dalam pelukannya. "Tenang, Nak! tenang kamu harus tenang, Sayang!"


"Dimana Daddy? Kenapa Daddy tidak melindungi Mommy? Padahal dia sudah berjanji untuk selalu menjaga Mommy. Daddy berbohong padaku, Mommy meninggalkan aku sendirian. Mommy aku ingin Mommy. Lepas, aku ingin mencari Mommy. Mommy, jangan tinggalkan Excel, Mommy. Mommy."


Excel terus berteriak memanggil ibunya. Dia menangis dan sangat histeris sekali. Hatinya hancur mendengar berita itu. Di saat dia mulai merasakan kebahagiaan dan kehangatan. Kini Excel harus dihadapkan dengan kenyataan. Dia harus berpisah dengan sang ibu yang sangat dicintainya.


"Excel, kamu harus sabar Sayang. Kamu tenang ya, Nak!" ucap Teresa menenangkan cucunya.


"No, Grandma keluar dari sini. Aku tidak butuh siapapun aku hanya menginginkan Mommy. Mommy, jangan tinggalkan Excel Mommy. Mommy!"


Teresa menjauh karena Excel tidak mau dipeluknya. Dia menangis sejadi-jadinya. Beberapa saat kemudian, Reigner masuk ke dalam ruangan Excel. Dia duduk di kursi roda dan didorong oleh Edward.


Kondisinya sangat parah, kepalanya di perban dan juga dada bekas tembakan. Excel yang melihat ayahnya masuk ke dalam langsung emosi. Dia melompat turun dari tempat tidur menghampiri Reigner.


"Daddy, dimana Mommy? Daddy, jawab aku! Jangan diam saja, dimana Mommy, Dad," teriak Excel dengan sekuat tenaga.


Reigner menangis melihat putranya yang sangat terpukul. "Maafkan Daddy, Daddy gagal menjaga kalian. Maafkan Daddy, Nak! Daddy telah gagal!"


"No, katakan padaku kalau berita itu salah. Berita itu pasti salah, ya kan Dad! Mommy masih hidup kan? Mommy pasti baik-baik saja. Mommy, aku ingin Mommy. Mommy jangan pergi, Mommy!" Excel menangis hingga terduduk di lantai. Dia terus menyeka air matanya.


"Aku benci Daddy, aku sangat membencimu, Daddy. Aku benci, kamu telah berbohong padaku. Daddy bilang akan menjaga Mommy. Tapi sekarang, mana buktinya. Mommy pergi Dad! Mommy pergi untuk selamanya. Aku benci Daddy!"


Reigner tersentak ketika Excel mengucapkan kata benci. "Excel, sini peluk Daddy. Sini Daddy ingin memelukmu."


Excel berdiri dan berlari keluar menuju ruangan adiknya. Reigner memanggil namun tak dihiraukannya. Teresa pun segera mengejar cucunya.


"Excel tunggu, stop kamu jangan ganggu Evelyn dulu. Adikmu belum pulih, Nak!"


Excel terus berlari, dia tidak menghiraukan panggilan Neneknya. Sesampainya di sana, Excel langsung masuk ke ruangan sang adik.


"Evelyn, ayo ikut Kakak pergi. Kita harus mencari Mommy, Mommy dalam bahaya! Kamu harus lihat ini." Excel menyalakan televisi yang menayangkan berita Rebecca.


Evelyn melihat berita itu dan dia pun terkejut. "Mommy, berita itu bohong kan Kak? Berita itu pasti bohong. Mommy tidak akan meninggalkan kita."


"No, itu nyata Evelyn. Mommy menghilang. Ini semua karena Daddy. Ini semua karena Daddy."


Evelyn menggelengkan kepalanya. "No, Daddy tidak akan melakukan hal itu Kakak. Daddy sangat menyayangi kita."


Teresa yang tiba di dalam ruangan itu hanya bisa diam dan terpaku. Dia sedih melihat cucunya saling berdebat.


"Ayo kita pergi, Evelyn. Kita cari Mommy bersama. Mommy pasti menunggu kita!" Excel menarik tangan adiknya yang masih diinfus.

__ADS_1


"Excel adikmu masih sakit, kamu lihatlah dia masih terlihat lemah sekali," ucap Teresa menasehati cucunya.


"Evelyn kamu ikut Kakak tidak? Come on kita cari Mommy! Mommy sedang menunggu kita."


"No, Kakak. Aku masih sakit, lihatlah bahkan untuk bangun saja tidak bisa! Kakak, jangan pergi dari sini ya. Kita bisa mencari Mommy dengan Daddy." Evelyn terus membujuk sang kakak agar tetap tenang.


"Oke Fine, aku akan mencari Mommy sendiri. Selamat tinggal, Evelyn." Excel ingin keluar namun dicehah oleh Neneknya.


"Excel jangan pergi, Nak. Keluarga mu di sini. Ada Grandma dan juga Daddy, nanti kita cari Mommy bersama-sama ya?"


"No, aku membenci kalian. Aku tidak ingin tinggal disini." Excel terus menangis, dia sangat sedih sekali.


Di luar ruangan, Reigner yang masih lemah. Terus menekan dadanya yang sakit. Dia tidak bisa menahan amarah putranya. Reigner merasa bersalah sekali.


Tiba-tiba di belakang datanglah Abrein dan juga Paulina. Dia segera terbang ke Italia sejak berita itu viral. Mereka meminta izin masuk ke dalam ruangan. Setelah meminta izin, Abrein dan juga Paulina pun masuk. Mereka melihat cucu asuhnya itu.


"Tuan muda, Nona muda. Kakek dan Nenek datang," ucap Paman Abrein dengan menahan air matanya.


Excel langsung menoleh, dan segera memeluk mereka. "Kakek, ayo bawa aku pergi dari sini Kakek. Gara-gara aku datang ke sini, Mommy pergi meninggalkan aku, Kek. Kakek ayo pergi! Ayo!" Excel terus menarik tangan Kakeknya. Dia sangat ingin pergi dari Italia.


"Tuan muda masih mempunyai keluarga di sini."


"No, aku tidak ingin keluarga ini. Mereka semua pembohong. Mereka tidak bisa menjaga Mommy. Ayo Kek bawa aku pergi dari sini. Aku ingin mencari Mommy, aku ingin mencari Mommy."


Mendengar Excel yang tak berhenti menangis, Reigner pun masuk ke dalam. "Bawalah pergi Excel, Paman! Turuti keinginannya. Aku tidak ingin merusak mentalnya. Aku titipkan Excel pada, Paman."


Teresa terkejut dengan ucapan Reigner. Dia tidak menyangka kalau Reigner, akan mengizinkan Excel pergi.


"Excel, Daddy minta maaf sama kamu. Daddy tidak bisa menepati janji Daddy. Daddy minta maaf, Nak!


"Aku tidak akan memaafkan, Daddy. Aku membenci Daddy. Aku benci! Ayo Kakek kita pergi dari sini," ucap Excel dengan terus menarik tangan Kakeknya.


Evelyn yang mendengar pun tidak tahan, dia mencoba bangun dan duduk. "Apa Kakak akan meninggalkan ku d sendirian? Kakak juga sudah berjanji padaku, saat kita di hutan. Aku berjuang menyelamatkan Kakak. Kita bersama-sama menghadapi penculik itu Kak. Kakak bilang tidak akan meninggalkan aku, Kakak bilang akan menuruti semua keinginanku. Tapi sekarang Kakak ingin pergi! Apa Kakak sudah tidak menyayangi ku?"


Semua orang menangis melihat kesedihan dua anak kembar itu. Mereka akan dipisahkan oleh takdir.


"Kakak, tidak bisa menepati janji itu. Jika kita masih tinggal di sini, Evelyn! Kamu ikutlah Kakak, nanti aku pasti akan menepati janjiku."


"Aku masih ingin bersama Daddy Kak. Jadi aku tidak bisa ikut," ucap Evelyn lirih dengan mata yang berkaca-kaca.


"Oke, kalau begitu kita berpisah di sini Evelyn. Jaga dirimu baik-baik. Kamu harus ingat, aku tidak akan pernah kembali ke sini lagi." Excel melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Dia keluar tanpa menoleh ke arah siapapun.


Teresa mencoba untuk mencegah cucunya pergi. "Excel jangan pergi, Nak! Jangan tinggalkan Grandma. Excel, Jangan pergi."

__ADS_1


"Rei, cegah anakmu pergi. Kenapa kamu membiarkannya pergi."


"Percuma mencegahnya Mom. Sifat Excel tidak akan bisa memaafkan ku. Dia sudah sangat membenciku. Semua ini memang salah ku!"


__ADS_2