Bayi Rahasia Sang Model

Bayi Rahasia Sang Model
BRSM 44


__ADS_3

Berita tentang Rebecca yang telah diklaim hak milik oleh Reigner sampai di telinga Mario. Pria itu semakin emosi dan obsesinya tak terkendali. Dalam pikirannya muncul rencana jahat untuk bisa memisahkan Rebecca dan juga Reigner.


Mario sedang duduk di kursi kerjanya. Dia menghisap rokok sembari meminum sebotol Vodka. "Kalian pikir bisa berbahagia, tidak semudah itu. Aku tidak akan membiarkan kalian menikmati kebahagiaan. Aku akan menghancurkan kebersamaan itu. Tunggu saja tanggal mainnya," ucap Mario pelan dengan senyum seringainya.


Mario meneguk kembali minuman di botol itu hingga habis. "Rebecca, kamu sangat bodoh jika memilih dia, karena aku tentunya lebih baik dari pria itu."


Tak lama kemudian masuk lah asisten Mario. "Tuan saya sudah membeli rumah di sekitar Venesia dan semuanya juga sudah lengkap. Tuan tinggal menempatinya saja," ucap asisten Mario. Ia mendapat tugas untuk mencarikan sebuah rumah di Italia dan dia ingin tinggal di Venesia."


"Bagus, aku ingin kamu lakukan semua yang ku perintahkan dan jangan sampai ada kesalahan. Aku tidak ingin rencanaku ini gagal. Jadi bekerja lah dengan baik," perintah Mario pada asistennya.


"Siap laksanakan Tuan, kalau begitu saya permisi dulu." Asisten Mario pun pergi dari ruangan itu.


Di Tempat Lain.


Perusahaan Reigner sedang ramai membicarakan tentang postingan atasannya di media sosial. Mereka tidak menyangka jika selama ini bos mereka sudah menjalin hubungan dengan seorang wanita.


Hal Itu membuat Caroline meradang. Usahanya selama ini untuk mendekati Reigner sudah sia-sia. Caroline sedang marah-marah di dalam ruangannya. Dia merasa kesal karena Reigner tidak pernah menganggapnya.


"Aku tidak percaya kalau bocah itu adalah anak Reigner. Bukankah dia artis baru, sejak kapan mereka menjalin kasih. Pantas saja selama ini Reigner tidak pernah tertarik dengan wanita manapun. Sial, kalau begini aku tidak akan pernah mempunyai kesempatan lagi," ucap Caroline frustasi.


Tiba-tiba Manager Caroline masuk memberikan informasi. "Nona, Tuan Reigner sudah tiba. Seluruh karyawan diminta berkumpul di aula."


"Baiklah, aku akan segera turun. Kamu keluar dulu," jawab Caroline.


Manager Caroline ke luar dari ruangan. Setelah itu dia pun ikut keluar menuju ke aula. Sesampainya di bawah, Caroline melihat semua orang telah berkumpul. Dia juga melihat Reigner bersama dengan kedua anak kembarnya.

__ADS_1


Banyak orang memuji dan juga banyak orang yang iri, karena sebagian karyawan wanita mengagumi sosok Reigner. Caroline berdiri dan melihat Reigner dari kejauhan.


"Berdirinya saya di sini untuk menginformasikan kepada kalian semua. Bahwa saya Reigner Anverton telah memiliki sepasang anak kembar yang tampan dan juga cantik. Dalam waktu dekat, saya sudah merencanakan sebuah pernikahan dengan wanita yang aku cintai dan juga sayangi. Kami bertemu dalam ketidaksengajaan dan akan berakhir di pelaminan. Wanita itu adalah Rebecca Alveansa. Untuk merayakan kebersamaan kami, maka minggu depan akan ada pesta dan saya berharap kalian semua bisa hadir. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih."


Reigner telah mengumumkan pada seluruh karyawannya. Lalu, ada salah satu karyawan yang memberikan komentarnya. "Maaf Tuan. Saya ingin menyampaikan sesuatu. Pertama saya ucapkan selamat untuk anda yang tengah berbahagia. Kedua saya ingin berkenalan dengan putra dan putri anda. Mereka berdua sangat tampan dan juga cantik."


Reigner pun memberikan kesempatan untuk karyawan yang ingin berkenalan."Silahkan jika ingin berkenalan! Sayang, ada yang ingin mengenal kalian. Jawab ya pertanyaan dari mereka," ucap Reigner pada kedua anaknya.


"Oke Daddy," jawab Evelyn ramah.


Karyawan itu pun langsung bertanya pada Excel dan juga Evelyn. "Siapa nama Tuan dan Nona muda?"


"Namaku adalah Evelyn Alvenlina Marseille, aku berumur 7 tahun. Ini Kakakku dia bernama Excel Alvenlino Martin, maaf Kakakku ini sedikit tidak ramah Uncle. Jadi aku saja ya yang bicara," jawab Evelyn dengan wajah ramah.


"Begini Nona Evelyn pertama kali melihat wajah anda berdua membuat saya tertarik. Kebetulan Di pekerjaan saya sedang mencari visual anak kembar untuk launchingnya produk. Saya ingin menjadikan anda berdua sebagai model saya. Apakah anda bersedia?"


Reigner langsung menoleh ke arah karyawan tersebut. Dia sedikit tersinggung dengan pertanyaan itu. "Jadi maksud kamu ingin menjadikan kedua anakku ini sebagai modelmu?"


"Iya, Tuan jika anda mengizinkan," jawab Karyawan itu.


"Kamu pikir anakku ...."


"Ya aku mau Uncle. Aku dan Kakak mau jadi model Uncle," sahut Evelyn memotong ucapan Ayahnya.


"Evelyn," seru Excel dan Reigner bersamaan.

__ADS_1


*Why? Kakak harus mau dan tidak boleh menolak. Daddy harus mengizinkan aku untuk menjadi seorang model," seru Evelyn dengan percaya diri.


"Terima kasih Nona. Anda sangat baik sekali." Karyawan itu pun sangat senang karena Evelyn mau menjadi partner kerjanya.


Reigner langsung membubarkan kerumunan tersebut. "Baiklah, cukup sampai di sini saja pertemuan hari ini. Semua mulai bekerja masing-masing. Untuk kamu ikut ke ruangan saya untuk membicarakan soal idemu itu," ucap Reigner tegas. Setelah itu semua orang pun bubar.


Di sudut ruangan, Caroline merasa sangat kesal. Dia tidak terima dengan keputusan Reigner. "Sial gara-gara anak itu aku jadi tersingkir dari perusahaan ini. Pasti mereka semua tidak lagi menganggap ku, dan juga setelah ini mereka semua pasti akan berani terhadap ku," gumam Caroline pelan. Kemudian dia pergi dari tempat itu untuk kembali ke dalam ruangannya.


Di Tempat Lain.


Excel sedang berdebat dengan adiknya. Dia tidak mau menuruti kemauan Evelyn. "No Evelyn, aku tidak mau menjadi model. Kalau kamu ingin sendirian saja, jangan ajak Kakak."


"Kakak harus mau, please! Aku ingin mencoba hal baru Kak. Kakak please mau ya, temani aku," ucap Evelyn dengan muka memelas.


"No sekali no, tetap No. Jangan paksa Kakak okey!"


Reigner memijit kepalanya melihat dua anaknya berdebat. "Stop, jangan berdebat lagi! Evelyn stop! Kamu boleh menjadi model, berekspresi sesuka mu Sayang. Tapi kamu tidak bisa memutuskannya sendiri, kamu wajib bertanya dengan Mommy. Keputusan itu ada di tangan Mommy. Oke! Jangan berdebat lagi dengan Kakakmu."


Evelyn langsung diam dan tak berbicara lagi. Kali ini sang Kakak yang menang. Gadis kecil itu langsung membalikkan badan dan duduk di sofa. Mukanya murung, matanya berkaca-kaca hampir menangis. Hanya itulah jurus andalannya ketika sang Kakak menentang keinginannya.


Melihat putrinya bersedih membuat Reigner menjadi serba salah. Lalu dia mencoba untuk mendekati Evelyn dan menasehatinya lagi.


"Honey, bukan maksud Daddy menentang keinginanmu, Nak! Daddy hanya ingin membicarakan ini dengan Mommy. Kamu mengerti kan?"


Evelyn tetap diam, dia mengabaikan nasehat Ayahnya. Reigner melihat ke arah Excel namun putranya itu cuek dan tidak mau tahu dengan drama yang sedang dibuat oleh Adiknya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2