
Evelyn berjalan dengan mengikuti petunjuk yang ada di setiap pohon. Dia berjalan dengan langkah yakin. Meski dalam hutan banyak suara binatang, tidak membuatnya takut sedikitpun. Tak lama kemudian, Evelyn sampai juga di tempat kakaknya.
"Kakak, aku kembali," seru Evelyn dari kejauhan.
Excel langsung menoleh ke arah adiknya. Dia sangat senang sekali Evelyn kembali dalam keadaan selamat. "Akhirnya kamu kembali juga, Evelyn. Aku khawatir sekali!" ucap Excel dengan raut wajah cemas.
Evelyn tersenyum, dia paling suka melihat raut wajah Excel yang sedang cemas itu. "Kakak, aku tidak apa-apa. Sekarang kita makan buah ini, selesai makan kita lanjutkan perjalanan sebelum malam hari datang."
"Kamu darimana mendapatkan semua ini, Evelyn?" tanya Excel heran.
"Buah ini dari bawah tebing sana, Kak! Kakak tahu sangat sulit sekali naik ke tebing!" sahut Evelyn dengan mulut penuh makanan.
Akhirnya Excel tidak bertanya lagi pada Evelyn. Dia ikut memakan buah itu dengan lahap, karena memang perutnya sangat lapar. Selesai makan Excel dan Evelyn istirahat sebentar. Evelyn memandani kakaknya dengan intens. Dia sedang memikirkan cara agar Excel bisa berjalan.
Excel sadar jika sedang dipandang. Lalu, Excel menyadarkan lamunan adiknya. "Evelyn kamu sedang memikirkan apa?"
Evelyn tersentak kaget, dan menarik nafas dalam. "Kakak mengagetkan aku saja. Aku sedang memikirkan bagaimana cara membawa Kakak turun ke bawah."
Excel langsung menundukkan kepalanya. Dia merasa bersalah, karena tidak berguna sama sekali. "Maafkan aku, aku tidak berguna untukmu, Evelyn!"
Gadis kecil itu menoleh, dia tahu perasaan kakaknya. "Sudah Kak, ayo naik ke punggung ku! Aku akan gendong Kakak lagi," ucap Evelyn berjongkok di depan Excel.
"Apa? Tapi apa kamu kuat menggendong ku Evelyn?"
__ADS_1
"Ck, Kakak cerewet sekali! Kalau aku tidak kuat, terus yang membawa Kakak ke tempat ini siapa? Sudah cepat naik ke punggung ku. Inilah kegunaan dari hobi makan ku. Jadi nanti kalau kita berhasil keluar dari sini, Kakak harus berhenti mengolokku!"
Evelyn berbicara dengan bibir mengerucut. Dia gemas sekali dengan sikap Excel yang cerewet menurutnya. Setelah berpikir beberapa saat, Excel pun bergerak. Dia mulai naik ke punggung adiknya.
"Mulai hari ini, aku tidak akan lagi mengolokmu Evelyn. Kakak akan selalu menyangimu, Kakak tidak akan lagi mengganggumu."
"Ya, ya! Kakak harus memegang janji itu ya."
Evelyn pun berjalan turun dari gunung. Kakinya sangat sulit untuk melangkah karena tubuh Excel yang cukup berat. Namun, gadis kecil itu tidak akan pernah menyerah sebelum misinya berhasil.
Di Tempat Lain.
Mario marah di ruang kerjanya. Dia murka mendengar bahwa anak yang diculiknya itu kabur. "Kalian memang bodoh, menjaga anak kecil saja tidak becus. Aku tidak mau tahu, secepatnya kalian harus menemukan dua anak kecil sebagai gantinya. Kalian harus mendapatkannya hari ini! Kalau tidak nyawa kalian yang akan menjadi gantinya."
Kedua bodyguard itu pun langsung pergi dari ruangan bosnya. Entah apa yang direncanakan Mario? Dia juga terobsesi pada Excel dan Evelyn.
Di dalam kamar luas dan mewah, Rebecca sedang menangis di bawah selimut. Dia ingin pergi dari rumah terkutuk itu. "Aku harus segera pergi dari sini, bagaimana caranya? Rumah ini begitu ketat penjagaannya. Rei, aku harap kamu sudah menemukan Excel dan Evelyn. Aku bisa menjaga diri di sini."
Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka. Mario masuk ke dalam kamar dengan membawa makanan. "Sayang, aku bawakan makanan untukmu. Aku tahu kalau kamu sedang lapar."
Rebecca diam tak menghiraukan, dia sangat muak dengan pria itu. Mario meletakkan nampan di meja. Dia membuka tirai yang masih tertutup. Cahaya masuk menyilaukan mata, Rebecca langsung menyembunyikan wajahnya di balik selimut.
Mario berjalan mendekati Rebecca, dia naik ke atas ranjang king size itu dan membuka selimut dengan paksa. "Makanlah atau kamu ingin aku memakan mu di sini?" ucap Mario dengan senyum seringai.
__ADS_1
Rebecca menoleh dan langsung duduk, dia mengambil makanan yang ada di meja itu. Lalu, dia memakannya dengan terpaksa. Mario tersenyum tipis, melihat Rebecca yang menurut membuat hatinya senang.
Mario duduk dipinggiran ranjang, dia memandang wajah Rebecca yang sangat cantik itu. "Menikahlah denganku! Aku akan menjadikan mu wanita paling bahagia di dunia."
Rebecca tersenyum sinis. Dia memalingkan mukanya ke arah jendela. "Apakah kamu ada kelainan pendengaran, Tuan? Bukannya pertanyaan itu sudah sering kali terucapkan! Daripada memaksaku, lebih baik kamu mencari wanita yang bisa menerimamu dengan senang hati. Menikah itu harus dua belah pihak, kalau sepihak saja namanya pemaksaan! Dan aku tidak ingin menikah karena paksaan. Apa kamu masih belum mengerti?"
Mario tergelak mendengar ungkapan Rebecca. "Sayangnya, aku sedang tidak menginginkan wanita lain. Kamulah yang aku inginkan Rebecca."
"Kalau begitu bermimpilah, karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah menikah denganmu. Kamu tidak bisa menggeser posisi Rei dihatiku," ucap Rebecca dengan lantang.
Mario menarik nafas dalam sembari memejamkan matanya. Moodnya menjadi buruk ketika mendengar nama Rei keluar dari bibir Rebecca.
"Jangan pernah menyebut nama itu di depanku. Apa kamu sedang menantang ku? Jangan kira aku tidak bisa berbuat kasar padamu, Sayang!"
"Kenapa? Memang benar itu kenyataannya sekarang. Aku hanya mencintai Rei, dan hanya dia yang boleh memiliki ku. Aku tidak akan menikah dengan siapapun, karena aku tidak sudi."
Mario mengepalkan kedua tangannya. Dia berdiri dan menampar pipi Rebecca dengan sangat keras. Mario emosi, dia mencengkeram pipi Rebecca dengan satu tangannya. "Aku sudah memperingatkan mu untuk tidak menyebutkan nama itu di depanku. Tapi ternyata kamu sama sekali tidak takut. Rebecca, kamu hanya mempunyai dua pilihan menikah denganku atau mati ditangan ku! Pikirkan baik-baik, karena aku tidak pernah main-main dengan ucapan ku!"
Mario melepaskan tangannya dan keluar dari kamar Rebecca. Tamparan keras itu membuat sudut bibir Rebecca mengeluarkan darah sedikit. Air matanya mengalir kembali. Sungguh dia tak tahu harus melakukan apa lagi.
"Mario, aku pastikan kamu tidak akan bisa menikah denganku. Lebih baik aku mati dari pada menikah dengan pria kejam seperti mu!" gumam Rebecca dengan memegang pipinya.
Di bawah Mario, sedang menahan amarahnya. Dia memerintahkan pada anak buahnya untuk mengeksekusi kedua anak kecil yang menjadi pengganti Excel dan Evelyn.
__ADS_1
"Kalian gantung kedua anak kecil itu! Kalian harus merekamnya kemudian, segera kirimkan video itu padaku! Mengerti!" Mario mematikan teleponnya. Lalu dia tersenyum penuh kelicikan.
"Kamu pikir bisa melawanku Rebecca, tidak semudah itu. Aku akan membuatmu bertekuk lutut."