Bayi Rahasia Sang Model

Bayi Rahasia Sang Model
BRSM 52


__ADS_3

Mendengar panggilan Reigner, kedua satpam langsung datang di tempat keributan. "Saya tuan," ucap kedua satpam itu.


"Kemana saja kalian? Apa yang kalian lakukan ketika ada keributan, ha?" teriak Reigner sangat marah.


"Apa kalian minta dipecat juga dari sini? Aku menggaji kalian untuk mengamankan jika terjadi keributan, dan sekarang yang terjadi anak istriku sedang dirundung. Tapi kalian hanya diam saja dan ikut menonton."


"Ma-maafkan kami, Tuan."


Semua orang tetap diam, tak ada satupun yang berani berbicara. Setelah itu Reigner menolong Rebecca untuk berdiri. Lalu Reigner memerintah kan kedua satpam itu untuk mengusir Caroline.


"Bawa wanita itu keluar dari kantorku, dan besok aku akan melakukan pembersihan karyawan. Sudah tidak ada keseimbangan di kantor ini. Aku sering melihat kalian mengabaikan peraturan. Maka dari itu lebih baik kalian bersiap untuk angkat kaki, karena besok aku akan memilih siapa saja yang harus keluar."


Kedua satpam itu segera menangkap Caroline. "Ayo ikut kami keluar dari sini."


"No, lepaskan tangan kalian," seru Caroline, dua tangannya dipegang oleh satpam tersebut.


Caroline terus memberontak dan berkata, "Reigner ingat! aku tidak akan melupakan penghinaan ini. Camkan itu!"


Reigner tidak menghiraukan perkataan Caroline, dia lebih memilih untuk membawa pergi Rebecca dan juga Excel. "Ayo sayang kita pergi dari sini! Excel wajahmu tidak apa-apa kan?"


Excel menggelengkan kepalanya dan Rebecca terus menggandeng tangan putranya itu keluar dari kantor. Sesampainya di luar, Reigner langsung masuk ke mobilnya lalu diikuti oleh Rebecca dan juga Excel.


"Maaf atas kejadian ini aku sudah memecat wanita itu," ucap Reigner.


"Kamu terlalu santai menghadapi masalah ini, Rei! Dia sudah berani kasar dengan anakku, mulut kotornya itu sungguh tidak bisa ditolerir lagi."


Reigner tidak menjawab ucapan Rebecca. Dia takut salah menjawab. Mereka hanya fokus mengemudi agar cepat sampai di rumah. Kesalahannya hari ini sangat fatal. Belum juga dia meredakan amarah Evelyn, dan dan kini dia harus menghadapi sikap dingin Excel dan juga Rebecca.

__ADS_1


Tak lama kemudian, mobil Reigner sampai juga di rumah. Rebecca turun dengan Excel dan meninggalkan Reigner yang belum keluar dari mobilnya. Mereka langsung masuk ke dalam rumah.


"Sial aku harus menghadapi empat orang sekaligus. Bagaimana cara aku menghibur mereka semua," gumam Reigner dalam hati setelah itu dia ikut masuk ke dalam rumah.


Sesampainya di dalam, Rebecca langsung disambut oleh Teresa dan Evelyn yang sedang bersantai di ruang tamu.


"Becca, kamu sudah pulang?" tanya Teresa, kemudian dia terkejut melihat pipi Excel yang kemerahan. "Oh God! Kenapa dengan pipimu sayang?"


"Tadi di kantor ada wanita gila yang marah-marah pada kita berdua, Mom,"jawab Rebecca pada Teresa.


"What? Wanita itu berani-beraninya menampar cucuku. Awas aja nanti akan aku buat perhitungan," sungut Teresa, dia sangat kesal sekali.


Setelah itu Reigner masuk dan ikut bergabung di ruang tamu. Teresa langsung mengultimatum anaknya. "Rei, apa kamu sudah mengusir wanita g!la itu? Kalau kamu belum mengusirnya cepat keluar dari rumah ini. Jangan harap kamu bisa masuk untuk menemui cucu-cucuku. Kamu lihat wajah tampan cucuku ini menjadi merah seperti ini hanya karena wanita g!la itu."


Evelyn pun ikut memicingkan matanya ke arah Reigner. Dia masih kesal dengan kejadian tadi.


Reigner menarik nafas dalam. Dia benar-benar menyesal karena telah mengabaikan ucapan Evelyn waktu itu. "Aku sudah memecatnya Mom dan dia tidak akan bekerja di kantorku lagi."


"Becca, bawa anak-anak ke dalam suruh mereka istirahat. Pasti mereka sangat lelah hari ini," seru Teresa dengan melirik Reigner.


Setelah itu Rebecca membawa Excel dan Evelyn masuk ke dalam kamar. Reigner pun terduduk lesu di sofa. Dia mencoba memanggil Evelyn namun gadis kecil itu tidak menghiraukan sang ayah.


"Evelyn kamu tidak ingin bicara dengan Daddy, Sayang? Evelyn maafkan Daddy, Nak!" seru Reigner membujuk putrinya.


Evelyn tetap diam dan dia masuk ke kamar tanpa menoleh sedikitpun. Sesampainya di atas Evelyn melihat sang ayah dari lantai atas. Sebenarnya dia tidak tega pada Ayahnya. Akan tetapi, Evelyn sangat kesal. Jadi dia terpaksa melakukan itu.


"Daddy, Maafkan Evelyn. Aku terpaksa melakukannya, Dad. Daddy sangat menyebalkan," gumam Evelyn pelan. Setelah itu dia masuk kamar untuk beristirahat.

__ADS_1


Di tempat lain.


Caroline sedang mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sepanjang perjalanan dia terus mengumpat dalam hati.


"S!al, s!al, s!al. Aku tidak percaya kalau karirku akan tamat seperti ini. Ini semua gara-gara wanita itu. Anak sama ibu sama saja, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan membalas perlakuan kalian! Tunggu saja."


Mobil sport itu melaju dengan kecepatan tinggi. Bahkan dia tidak sadar kalau sedang diikuti oleh seseorang. Ada satu mobil hitam yang selalu mengikuti Caroline, sejak dia keluar dari kantor Reigner.


Mobil itu pun semakin dekat dan semakin memepet mobil Caroline. Akhirnya dia menyadari dan memutuskan untuk meminggirkan mobilnya.


"Shiit, apalagi ini? Siapa yang berani mencari masalah denganku?" ucap Caroline di dalam mobilnya.


Caroline masih bertahan di dalam mobil. Dia belum ingin keluar. Tak lama kemudian, ada komplotan pria kekar dengan pakaian serba hitam keluar dari mobil tersebut. Mata Caroline membulat, tiba-tiba dia merasa takut.


"Si-siapa mereka? Kenapa mereka datang menghadangku?" ucap Caroline dengan gemetar.


Pria bertubuh kekar itu pun mengetuk pintu mobil Caroline dengan kasar. Mereka berteriak untuk menyuruh Caroline keluar dari mobilnya.


"Hei, keluar kamu! Kalau tidak peluru ini akan men3mbus kepalamu," ucap pria bertubuh kekar itu dari luar jendela.


Caroline langsung membuka pintu mobilnya dengan tangan yang gemetar. "Ba-baiklah aku akan keluar," ucap Caroline.


Setelah itu Caroline pun keluar untuk menemui pria tersebut. Sesampainya di luar keempat pria itu langsung menggiring Caroline ke mobilnya. "Cepat jalan dan masuk ke mobil kami. Tidak usah membantah jika ingin selamat!"


"I-iya, aku akan jalan mengikuti kalian." Caroline pun menuruti perintah pria tersebut. Dia masuk ke dalam mobil tanpa perlawanan.


Setelah Caroline masuk, mobil itu pun segera pergi dari tempat itu. Di dalam mobil, Caroline diam membisu. Dia tidak berani memberontak karena para pria itu memegang senjata api di tangannya.

__ADS_1


"Siapa mereka? Kenapa mereka menangkapku?" ucap Caroline dalam hati.


Mobil itu pun terus melaju dan keluar dari kota tersebut. Entah apa maksud mereka membawa Caroline pergi.


__ADS_2