Bayi Rahasia Sang Model

Bayi Rahasia Sang Model
BRSM 53


__ADS_3

Mobil yang dinaiki Caroline telah sampai di sebuah villa yang cukup besar dan juga mewah. Para pria bertubuh kekar itu memintanya untuk keluar kemudian masuk ke dalam villa tersebut.


"Kalian mau membawaku kemana?"tanya Caroline bingung.


"Diam dan jangan banyak tanya," sentak salah satu pria itu.


Caroline pun terkejut dan langsung menutup mulut. Da harus menurut karena di antara mereka ada yang membawa senjata api. Setelah itu Caroline masuk ke dalam villa tersebut. Dia digiring ke sebuah ruangan yang cukup besar.


Di dalam sana ada seorang pria yang sedang duduk dengan memegang segelas red wine di tangannya. Pria itu duduk di kursi besar dan tengah menghadap ke sebuah lukisan. "Selamat datang, Nona," ucap pria itu dia membalikkan badan dan menyambut kedatangan Caroline.


Caroline menatap dengan pandangan bingung. "Siapa kamu? kenapa membawaku ke sini?" tanya Caroline gugup.


"Kamu tidak perlu tahu aku siapa? yang pasti, ada sebuah alasan untuk keberadaanmu di sini," jawab pria itu.


Caroline masih dengan tatapan bingung. Dia tidak mengerti dengan maksud pria yang ada di depannya itu. "Apa maksudmu sebenarnya? Kenapa sangat berbelit-belit sekali? Asal usul mu saja tidak jelas berani-beraninya kamu menculik ku, Ha?"


Pria itu pun menyunggingkan senyum. Ia menatap Caroline dengan tatapan tajam sembari menunjukkan sebuah foto. "Kamu mengenal wanita yang ada di dalam foto ini tidak?"


Mata Caroline membulat, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Apa kamu juga mengenal wanita itu?" tanya Caroline penasaran.


"Kamu tidak perlu tahu aku mengenalnya atau tidak, yang pasti aku mempunyai penawaran menguntungkan untukmu. Apa kamu bersedia?"


Caroline memalingkan wajahnya. Dia menjawab dengan sangat angkuh. "Apa kamu pikir bisa semudah itu memanfaatkan ku? atas dasar apa kamu mempunyai pikiran yang sangat mustahil itu?"


Sikap Caroline yang keras kepala membuat pria itu mulai gemas dan tidak sabar. Lalu dia memerintahkan pada anak buahnya untuk bertindak. Salah satu bodyguard itu memutar sebuah video di dalam laptop, lalu menunjukkannya pada Caroline.


Di dalam video terlihat seorang wanita yang sedang berada di bawah kungkungan pria tua. Caroline pun terkejut melihat video tersebut, karena wanita yang ada di dalam video itu adalah dirinya sendiri.

__ADS_1


"Bagaimana bisa kamu mendapatkan video itu?" seru Caroline dengan muka pucat.


"Kamu begitu meremehkanku, Nona. Apa kamu tidak tahu aku siapa?" sahut pria itu dengan sinis.


"Mana aku tahu? kamu saja tidak bilang apa-apa padaku."


Pria itu tergelak, dia semakin kesal dengan sikap Caroline. "Kamu hanya mempunyai dua pilihan menyetujui penawaran ku, atau video itu viral dan karir mu akan hancur. Aku tahu kalau kamu baru saja dipecat dari sebuah perusahaan. Benar kan?"


"Apa keuntungan yang kamu berikan jika aku memenuhi permintaanmu?" tanya Caroline.


"Pilih saja apa yang kamu mau, dengan catatan kamu berhasil melakukannya. Tugasmu sangatlah mudah hanya menjadi perantara saja untukku. Bagaimana kalau kamu bersedia akan aku beritahu syarat dan juga tugasnya."


"Baiklah aku menyetujui penawaranmu, sekarang apa katakan tugasku?" sahut Caroline.


Pria itu pun berbisik di dekat telinga Caroline untuk memberitahu tugas yang harus dilakukan. Mata Caroline membulat dia tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Jadi kamu ingin aku melakukan hal itu? Lalu, apa kamu juga akan melindungi aku jika dalam bahaya? Kalau tidak aku menolaknya karena terlalu beresiko," jawab Caroline tegas.


Caroline tersenyum puas dengan syarat yang dijanjikan. "Baiklah, kalau begitu aku setuju. Kita bekerja sama sekarang. Kalau boleh tahu siapa namamu?"


"Panggil aku Mario. Pasti kamu pernah mendengar nama itu, jika memang kamu seorang model yang terkenal."


Caroline berpikir sejenak, sepertinya dia pernah mendengar nama itu di suatu tempat. "Mario, oh ya aku ingat! Kamu adalah pemilik dari Golden management dan juga Ameera Fashion dari California."


"Smart, kamu benar. Apa kamu masih meragukan kemampuan ku? Setelah kamu mengetahui identitas ku yang sebenarnya?" sahut Mario dengan menaikkan satu alisnya.


Caroline tersenyum ramah sembari menundukkan badan. "Maafkan kelancangan ku tadi, Tuan. Aku benar-benar tidak tahu siapa anda? Kalau begitu aku akan melakukan tugas dengan baik. Tuan juga harus mengingat dengan janji yang sudah diucapkan."

__ADS_1


"Kamu tidak usah khawatir, aku akan memenuhi semua janjiku. Jika tugasmu itu berjalan dengan sempurna. Sekarang pergilah dan rahasiakan pertemuan kita hari ini, " jawab Mario dengan penuh keyakinan.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan!" Caroline berjalan keluar dengan diantar oleh salah satu bodyguard Mario.


Sebelum itu Mario bateriak dengan keras. "Ingat Nona setelah ini aku akan mengawasi seluruh gerak-gerik mu. Jadi semua aktivitasmu dalam pantauanku, karena aku tidak ingin rencanaku ini gagal. Kalau rencanaku ini gagal ada resiko yang harus kamu tanggung. Jadi bekerjalah dengan sebaik-baiknya, karena aku tidak suka dengan sebuah kegagalan."


"Oke aku mengerti," sahut Caroline dari depan pintu.


Mario kembali duduk di kursi besarnya. Dia kembali menuangkan red wine ke dalam gelas. Dia itu meneguk minumannya dengan penuh semangat. Mario sangat yakin rencananya kali ini akan berhasil.


"Rebecca tunggulah permainanku kali ini. Aku yakin kamu pasti akan menyukainya. Aku ingin melihatmu memohon dan merengek dihadapanku. Sungguh aku sangat menantikan wajah cantikmu itu memelas di depanku," ucap Mario pelan.


Di Tempat Lain.


Malam tiba, Reigner masih duduk termenung dalam kamar. Dia resah karena Evelyn yang terus mendiamkannya. Reigner menarik nafas dalam, sembari berpikir cara menarik perhatian putrinya.


"Apa yang harus aku lakukan. Harus dengan cara apalagi aku membujuk putriku sendiri."


Reigner memijat kepalanya yang pusing. Dia rela meninggalkan pekerjaan yang penting demi bisa membujuk Evelyn.


Di kamar lain, Evelyn sedang tertawa bersama dengan Teresa. Gadis kecil itu menertawakan ayahnya. "Grandma, bagaimana aktingku di meja makan tadi? Apa sangat sempurna?"


Teresa terkekeh. "Sangat sempurna, Sayang. Sikapmu cukup membuat Daddy mu frustasi. Kamu tahu, Grandma belum pernah melihat Daddy mu sefrustasi itu, Nak!"


"Benarkah itu Grandma? Tapi aku kasihan melihat Daddy jadi sedih, tapi aku sangat kesal karena Daddy tak menghiraukan perkataan ku waktu itu."


Evelyn terus meluapkan rasa kesalnya. Di meja makan tadi, dia sengaja mengabaikan Reigner. Gadis kecil itu menolak semua perhatian yang diberikan Ayahnya. Bahkan semua perkataan Reigner pun dijawabnya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, pintu kamar terketuk kembali. Suara Reigner terdengar dari balik pintu. "Mom, apa Evelyn ada di dalam. Biarkan Rei masuk ke dalam, Mom! Evelyn jangan siksa Daddy seperti ini, Honey. Rasanya sangat sedih sekali. Evelyn maafkan Daddy!"


Reigner terus memohon pada Ibunya untuk membukakan pintu. Akan tetapi tak ada yang menanggapi keinginannya.


__ADS_2