Bayi Rahasia Sang Model

Bayi Rahasia Sang Model
BRSM 63


__ADS_3

Edward berjalan cepat dengan petunjuk yang ditinggalkan oleh Excel. Mereka mengikuti setiap goresan yang ada di pohon-pohon itu.


"Tuan muda, apakah jaraknya masih jauh?" tanya Edward pada Excel.


"Sebentar lagi, Uncle! Setelah ada pohon besar nanti kita akan sampai. Aku menyembunyikan Evelyn di balik pohon itu."


Mendengar penjelasan dari Excel membuat Edward berjalan lebih cepat lagi bersama tim SAR yang mengikutinya dari belakang. Beberapa menit kemudian, mereka sampai di tempat Evelyn berada. Edward menurunkan Excel, lalu dia berjalan ke balik pohon dan menemukan Evelyn dengan kondisi yang sangat buruk.


Evelyn menggigil dan bibirnya semakin membiru. Excel syok melihat sang adik yang keadaannya semakin parah. "Evelyn, bertahanlah. Kakak sudah mendapatkan bantuan. Uncle cepat tolong Evelyn!"


Tim SAR langsung memeriksa kondisi Evelyn. "Maaf Tuan, sepertinya anak ini mengalami keracunan makanan. Apa sebelumnya kalian memakan sesuatu dari hutan ini?" tanya salah satu tim SAR pada Excel.


Excel terdiam sejenak lalu dia ingat dengan buah yang kemarin dibawa oleh adiknya. "Ya kami memakan buah, kata Evelyn buah itu dia temukan di bawah tebing. Kemarin Evelyn memakan banyak sekali."


"Jadi Tuan muda hanya memakannya sedikit?" tanya Edward menimpali.


"Ya Uncle aku hanya makan sedikit, karena aku tidak begitu suka," jawab Excel dengan menunduk sedih.


"Ayo sebaiknya kita harus cepat! Dari kondisi, sepertinya sudah sangat parah. Semoga ada keajaiban nanti saat tiba dirumah sakit, " jelas tim SAR itu.


Excel terkejut mendengar kondisi adiknya. Tiba-tiba saja kepalanya pusing dan matanya pun berkunang-kunang. Setelah itu Excel pun pingsan, dia tidak bisa menahan tubuhnya yang sangat kelelahan.


"Tuan muda, Tuan muda!" seru Edward menangkap tubuh Excel yang lemas.


"Ayo kita segera pergi dari sini."


Setelah itu mereka semua pergi dari hutan itu dengan naik helikopter tadi.


Malam Hari di California.


Rebecca sedang memasak di dapur. Dia memasak makan malam untuk Mario. Semenjak ada Rebecca di rumah, Mario selalu pulang awal. Dia tidak pergi kemana-mana bahkan dia membatalkan perteman bisnisnya di luar negeri.


"Hello Baby, kamu sedang memasak apa?" seru Mario dengan memeluk Rebecca dari belakang.


Rebecca terkejut dan kaget. "Mario kamu mengagetkan ku! Apa jadinya kalau minyak ini tumpah?"


Mario terkekeh. "Kamu tampak seksi, jika sedang memasak. Membuat ku semakin jatuh cinta!"


Mario terus bergelayut manja di pundak Rebecca hingga membuatnya sangat risi. "Mario, bisakah kamu membiarkan aku memasak dulu?"


"Oke baiklah, aku tidak akan mengganggumu. Cepatlah memasak karena aku sudah lapar," ucap Mario di telinga Rebecca. Setelah itu dia pergi menuju ke kamarnya.


Rebecca menghembuskan nafas lega. "Sial, kalau bukan karena ingin kabur malas sekali melihat kelakuannya. Menjijikkan!" umpat Rebecca kesal.




Di tempat lain, Reigner sedang berkumpul di sebuah rumah yang disewanya. Dia berdiskusi dengan anak buahnya untuk melancarkan rencana. Reigner melakukan penyerangan pada dini hari nanti. Dia meminta polisi untuk membantu masalahnya.



"Kalian nanti ikuti instruksi dari dia. Jangan khawatirkan aku, karena aku akan masuk dengan caraku sendiri," ucap Reigner pada semua anak buahnya.



Semua orang mengangguk, setelah itu mereka bersiap-siap menuju ke villa Mario yang terletak di dekat pantai. Reigner juga sudah menghubungi polisi untuk berjaga-jaga. Salah satu alasan Reigner membawa polisi adalah untuk mengungkap kejahatan Mario.



Perjalanan dari hotel ke villa membutuhkan waktu setengah jam. Reigner sudah melakukan pemantauan sebelumnya jadi dia sudah tahu lokasi villa tersebut seperti apa.



Kini jam sudah menunjukkan pukul 23.00. Reigner sampai juga di sekitar villa Mario. Semua anak buahnya turun, dan segera berpencar. Setelah semua berpencar, Reigner memantau dari kejauhan dan anak buahnya tersebar untuk mengeliminasi villa Mario.



Reigner berkeliling, Villa tersebut dihalangi oleh pagar besi dan tembok yang tinggi. Dia sedikit kesulitan untuk mengintai, namun ada satu keuntungan yang sangat mudah. Reigner bisa mengatur strateginya di luar pagar.



Reigner berdiri dan mengamati salah satu balkon di villa itu. Dia menatap tajam kamar yang tertutup tirai tipis. Beberapa saat kemudian, Reigner dikejutkan dengan kemunculan Rebecca yang keluar dari kamar itu.



Reigner senang bisa melihat kembali wanita yang dicintainya. Dia langsung melambaikan tangannya berharap Rebecca melihat.



Di atas balkon, Rebecca sedang menghirup nafas panjang. Dadanya terasa sesak karena harus berakting dihadapan Mario. Tiba-tiba matanya menangkap bayangan seseorang yang sedang melambaikan tangan.



"Reigner, kamu datang?" ucap Rebecca pelan.



Reigner langsung meletakkan jari telunjuknya di bibir. Dia mengisyaratkan Rebecca untuk tetap diam dan tenang. Lalu, Reigner juga meminta Rebecca untuk masuk ke dalam. Rebecca pun mengerti, dia mengangguk lalu masuk kembali ke dalam kamar.



Rebecca menutup pintu dan merapatkan tirainya. Tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka dan muncullah Mario di depannya. "Kamu darimana, Sayang?" tanya Mario penasaran.



"Emm, itu aku hanya menutup pintu angin malam sangat dingin. Kamu belum tidur? Bukankah besok kamu ada rapat di luar negeri," jawab Rebecca mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1



"Aku ingin tidur denganmu malam ini. Aku harap kamu tidak akan menolaknya. Kemarilah! Aku ingin menikmati malam ini denganmu! Come on Baby!"



Rebecca mendekat ke arah Mario, dia ingin mengalihkan perhatian pria itu agar Reigner bisa masuk ke dalam tanpa halangan. Rebecca berjalan dengan tatapan sensual. Baju tidur tipis membuatnya terlihat sangat seksi.



"Apa kamu benar mengingatkanku Mario?" tanya Rebecca ketika tiba di depan Mario.



Mario tersenyum. "Bukankah kamu sudah tahu sejak awal, Baby! Tatapanmu itu membuat ku semakin bernapsu."



Mario menarik pinggang Rebecca, dia mulai menjamah perut hingga dada. Rebecca mencekal kedua tangan Mario, lalu menunjukkan senyuman nakal. "Biar aku saja yang bermain malam ini. Kamu tidak keberatan kan?" bisik Rebecca di dekat telinga Mario.



"Tentu saja tidak, Sayang! Ayo bermainlah, aku ingin melihat seberapa lincahnya dirimu."



Rebecca melepas kaos yang dikenakan oleh Mario lalu membuangnya ke lantai. Dia meletakkan tangannya di pinggang pria itu dan menggiringnya menuju ke ranjang. Setelah itu, Rebecca mendorong tubuh Mario hingga terlentang di atas ranjang.



Rebecca tersenyum manis, dia menggigit bibir bawahnya agar tampak menggemaskan. Lalu, dengan perlahan dia merangkak dan duduk diatas perut sixpack Mario. Rebecca mulai menyentuh bagian dada lalu membelainya ke bawah.



Mario menikmati sentuhan itu hingga dia merasa terbuai. "Come on, Baby! Jangan buatku menunggu terlalu lama. Aku sudah tidak tahan!"



Rebecca tersenyum. "Kamu mau aku bagaimana? Dan kamu ingin memulainya dari mana?" tanya Rebecca mengulur waktu.



"Mulailah dari bawah, ayo cepatlah Baby," des4h Mario penuh g4irah.



Di bawah, Reigner sudah berhasil masuk ke dalam. Dia dihadang oleh anak buah Mario yang berjaga di dalam. Reigner menghajar mereka semua. Sebelum polisi datang dia harus segera melumpuhkan sebagian dari mereka.



"Kalian hadang mereka aku ingin naik ke atas!" seru Reigner pada anggotanya.




"S!al jangan halangi langkah ku," teriak Reigner pada bodyguard yang menyerangnya.



"Kita tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja."



Bodyguard itu masih menyerang Reigner. Tentu saja, hal itu membuat Reigner kewalahan. Beberapa kali dia terjatuh dan bangun lagi. Setelah itu, Reigner dibantu oleh anggotanya yang lain.



"Tuan silakan naik ke atas, mereka biar kami yang menghadapi," ucap salah satu anggota Reigner.



Reigner mundur dan langsung naik ke atas untuk mencari Rebecca.



Di dalam kamar, Rebecca sedang berada di bawah kungkungan Mario. Dia telah memberanikan diri untuk melukai tubuh Mario dengan pisau yang dibawanya. Meski pada akhirnya gagal.



"Kamu pikir, aku bisa terkecoh dengan trik bodohmu itu, Rebecca! Tidak semudah itu, ternyata kamu sudah bosan hidup. Beraninya kamu bermain-main denganku. Kamu tidak tahu apa konsekuensi dari perbuatannmu ini?" ucap Mario dengan mengunci kedua tangan Rebecca.



"Kamu manusia paling menjijikkan, Mario. Aku lebih baik mati daripada harus melayani napsumu." Rebecca meludah ke wajah Mario.



Mendapat penghinaan itu membuat Mario terdiam, dia langsung berdiri dan mengambil handphone dari sakunya. Rebecca bangun dan menghindar, dia ingin lari dari ranjang akan tetapi suara di video menghentikan langkahnya.



"Mommy, tolong aku Mommy!" Rebecca terdiam lalu menoleh ke arah Mario yang sedang memutar video di handphonenya.



"Kamu tahu dia siapa? Karena perbuatan bodohmu itu harus membuat nyawa mereka melayang. Lihat dengan jelas video ini."

__ADS_1



Di dalam video, ada 2 anak kecil dengan kepala dibungkus kain. Mereka duduk di kursi, lalu ada salah satu anak buah Mario yang mendekat dengan membawa sebuah pistol. Kemudian, ia menembak dengan brutal hingga kedua anak itu terbunuh.



Rebecca membelalakkan matanya melihat kedua anak itu mati dengan cara yang mengenaskan. Kakinya gemetar dan dia pun terduduk di lantai.



"Excel, Evelyn, maafkan Mommy! Excel, Evelyn. Tidak, tidak!" Rebecca berteriak dengan keras.



"Kamu pria jahanam, akan ku bunuh kamu!" Rebecca berdiri dengan membawa vase bunga. Dia ingin menyerang Mario namun, pria itu dengan cepat mencengkeram leher Rebecca dengan kuat.



Mario mencekik Rebecca dengan seluruh kekuatannya. "Bukankah kamu ingin mati, maka aku akan mengantarmu ke surga, Rebecca Sayang."



Di luar, Reigner sedang mendobrak semua pintu. Lalu dia tiba di kamar terakhir, di kamar itulah Rebecca berada dan dia sedang meregang nyawa. Reigner mendobrak pintu itu, dengan lima kali dobrakan pintu itu pun terbuka.



Dia melihat Rebecca sedang dicekik oleh Mario. "Rebecca," teriak Reigner.



Dia langsung menyerang Mario dan memukulnya keras. "Lepaskan tanganmu brengsek."



Reigner menghajar Mario dengan brutal. Dia menendang dan menginjak alat vitalnya dengan keras. Mario tergeletak dengan memegangi juniornya yang mungkin akan kehilangan masa depannya.



Reigner segera menolong Rebecca yang pingsan dengan mata melotot dan mulut menganga. "Rebecca bangun, kamu harus kuat."



Reigner berdiri dengan mengangkat tubuh Rebecca. Dia ingin membawanya ke rumah sakit.



Sebelum Reigner pergi, Mario berteriak dengan keras. "Kamu tidak akan bisa menolongnya karena dia sudah mati. Hahaha, kamu itu pria bodoh yang tidak cocok untuk Rebecca. Sayang nasibnya harus berakhir di sini."



Reigner menurunkan tubuh Rebecca, dia berdiri dan membalikkan badan. Lalu dia menodongkan senjata ke arah Mario. Reigner ingin menarik tuas tersebut namun polisi datang dan menghentikan aksinya.



"Turunkan senjata atau kami juga menangkap anda," ucap Polisi itu.



Reigner menurunkan senjatanya lalu, mengangkat kembali tubuh Rebecca. Dia berlari untuk membawanya ke rumah sakit.



Sesampainya di bawah dia langsung menuju ke mobil. Dia meletakkan tubuh Rebecca di kursi belakang. Lalu, Reigner segera memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Reigner terus fokus mengemudi dia harus cepat agar sampai di rumah sakit tepat waktu.



Beberapa menit berjalan, ada satu mobil yang mengikutinya dari belakang. Mobil itu mengejar mobil yang di kendarai oleh Reigner.



Ada orang yang muncul dari mobil asing itu. Dia mengeluarkan senjata dan bersiap untuk menembak. Mereka mengincar ban mobil Reigner. Dua kali tembakan, ban mobil Reigner pun pecah.



"Sial, siapa mereka?" seru Reigner dengan menabrakkan mobilnya di pembatas jalan.



Reigner terluka parah, kepalanya terbentur. Lalu dia dipaksa keluar oleh orang yang sudah menembaknya tadi.



"Cepat keluar sekarang atau aku ledakkan mobil ini," ucap Bodyguard itu dengan keras.



Reigner tidak menuruti mereka, kemudian bodyguard itu memecahkan kaca mobil Reigner dan membuka unlock pintu mobil belakang. Mereka mengangkat tubuh Rebecca keluar. Reigner pun berteriak dan ingin menghalanginya namun, bodyguard itu menembakkan peluru di dada kiri Reigner. Akhirnya Reigner terjatuh dan Rebecca dibawa pergi oleh penjahat itu.



"Rebecca, jangan pergi!" Reigner pingsan tergeltak di aspal jalan.



Para bodyguard tadi langsung menuju ke tebing pantai. Mereka berniat untuk membuang tubuh Rebecca ke laut. Semua itu atas perintah Mario. Pria itu tidak ingin Reigner menyelamatkan Rebecca.


__ADS_1


Beberapa menit berjalan, akhirnya mereka sampai di tebing pantai yang tinggi. Mereka mengeluarkan tubuh Rebecca dan membawanya di pinggir tebing. Setelah itu mereka mengayunkan tubuh Rebecca dan melemparkannya ke laut.


__ADS_2