Bayi Rahasia Sang Model

Bayi Rahasia Sang Model
BRSM 42


__ADS_3

Reigner berjalan menuruni anak tangga. Di bawah dia bertemu dengan Ibunya yang terlihat mondar-mandir keluar masuk rumah. "Ada apa Mom? Mana Excel?"


"Excel ada di luar, dia tidak mau masuk ke dalam. Mommy sudah membujuknya untuk masuk. Tetapi dia menggeleng tidak mau," jawab Teresa dengan kebingungan.


"Biar aku saja yang membujuknya," sahut Reigner pada Ibunya. Setelah itu Reigner keluar menemui Excel yang sedang duduk di teras depan. Dia duduk sendiri menatap ke langit yang gelap


"Halo Boy, sedang apa kamu di sini, Nak?" seru Reigner dari belakang. Lalu dia ikut duduk di samping putranya.


Reigner melihat wajah Excel, kemudian dia bertanya. "Apa kamu tidak ingin masuk ke dalam rumah, Sayang?"


Excel hanya diam dan tak menjawab. Bahkan dia tidak menoleh ke arah Reigner. Hal itu membuat Reigner sedikit bingung. Kalau dia mencoba untuk bertanya lagi.


"Mommy, menanyakan mu tadi Excel. Dia ingin melihat mu," ucap Reigner pada putranya.


Excel masih terdiam, dia sangat takut untuk masuk ke dalam rumah. Excel menoleh ke arah Ayahnya dan bertanya." Apa Mommy terluka parah? Aku tidak ingin masuk jika Mommy terluka."


Rasa peduli Excel terhadap ibunya sangat tinggi. Anak itu tidak bisa melihat ibunya menangis bahkan terluka, karena Excel sangat menyayangi Rebecca.


Reigner terharu dengan sifat peduli putranya. Pikiran Excel sangat dewasa sekali. "Mommy mu baik-baik saja. Sekarang dia ada di kamar dengan Evelyn. Hanya saja pergelangan kaki Mommy terkilir. Ayo masuk, Daddy temani kamu."


Excel masih terdiam, dia masih belum berani untuk masuk ke dalam. Dia menundukkan kepala sembari *******-***** ujung kaosnya.


"Ayo, Daddy temani masuk!"


Excel masih menggeleng dia tidak ingin masuk ke dalam. Wajahnya memerah seperti menahan sesuatu. Reigner tahu kalau Excel sedang menahan air mata.


Reigner memeluk putranya. "Menangis lah, Nak! Jangan kamu tahan, keluarkan air matamu. Keluarkan semua sampai kamu lega. Daddy akan jaga rahasia ini, Mommy dan Evelyn tidak akan tahu."


Akhirnya Excel menangis dalam pelukan sang Ayah. Dia meluapkan semua rasa khawatirnya. "Daddy aku tidak ingin terjadi sesuatu pada Mommy. Aku tidak bisa melihat Mommy bersedih."


Reigner males kepala Excel. Dia baru tahu dibalik sifat acuhnya, Excel mempunyai rasa peduli yang sangat tinggi.


"Jika sudah lega ayo kita masuk ke dalam. Agar Mommy melihat mu," ucap Reigner dengan lemah lembut.

__ADS_1


Excel melepaskan pelukannya. Lalu dia menghapus air mata dan tersenyum kepada Reigner. "Terima kasih Daddy sudah menyelamatkan Mommy. Mulai sekarang Excel akan memercayai Daddy. Maafkan sikap Excel yang kemarin ya, Dad."


"Daddy yang seharusnya minta maaf. Daddy Sudah terlambat untuk membahagiakan kalian. Tapi mulai sekarang, Daddy akan selalu ada untuk kalian. I Love you, jagoan Daddy!" ucap Reigner pada Excel.


Setelah itu mereka masuk ke dalam rumah untuk menemui Rebecca. Sesampainya di dalam, Evelyn tengah bermanja dengan ibunya. Excel masuk ke dalam dan langsung memeluk Rebecca.


"Sayang kamu kenapa, Nak? Hei, Kamu tidak usah khawatir terhadap Mommy. Kamu bisa lihat Mommy tidak apa-apa kan," ucap Rebecca sembari mengelus rambut putranya.


"Mommy jangan pergi lagi, Excel tidak mau berjauhan dengan Mommy. Aku sayang sama Mommy." Excel terus memeluk Ibunya, hingga membuat Rebecca meneteskan air mata.


"Sudah-sudah Mommy tidak apa-apa. Mulai sekarang kita tidak di sini kamu mau kan, Nak?" tanya Rebecca pada Excel.


"Ya Mommy, aku mau tinggal di sini bersama Daddy," seru Excel dengan semangat.


Rebecca terkejut lalu menoleh ke arah Reigner. Setelah itu dia kembali memandang wajah Excel yang tampak berbinar. "Daddy? Kamu sudah bisa menerimanya, Nak?"


"Ya Mommy, aku akan menjadi anak yang baik untuk Mommy dan Daddy," sahut Excel senang.


Rebecca tersenyum, baru kali ini dia melihat wajah Excel yang sangat berbeda. "Ternyata beban selama ini aku alami dirasakan oleh anakku sendiri. Lalu bodohnya aku tidak mengerti sifat dan watak putraku yang sangat peka ini," gumam Rebecca dalam hati.


"I love you too, Mommy!" seru Excel dan Evelyn.


"Bolehkah Daddy ikut berpelukan? Rasanya tak adil jika Daddy tidak bisa ikut," seru Reigner dari depan pintu. Dia merasa terharu dengan momen tersebut.


"Boleh, Daddy ke sini saja," sahut Evelyn.


"No, Daddy tidak boleh memeluk Mommy. Daddy boleh ikut ke sini tapi harus memeluk aku dan Evelyn. Kalau Daddy ingin memeluk Mommy harus dapat izin dariku. Daddy mengerti?" ucap Excel mengultimatum sang Ayah.


"Ya, Daddy mengerti. Daddy akan sabar menunggu momen indah itu, Sayang!" Reigner berjalan menuju ke ranjang, dia ikut berpelukan. Meski begitu Reigner tetap bahagia karena berhasil membentuk keluarga kecilnya.


"Daddy," panggil Evelyn.


"Ya, Honey. Ada apa?"

__ADS_1


"Daddy harus cepat menikah dengan Mommy."


Mata Rebecca membulat mendengar kata-kata putrinya. Reigner tersenyum senang, lalu dia menggunakan kesempatan untuk menggoda Rebecca.


"Tentu Sayang, Daddy akan secepatnya menikah dengan Mommy. Kalau Daddy dan Mommy sudah menikah, apa kamu menginginkan seorang adik bayi lagi, Evelyn?" tanya Reigner dengan bibir tersenyum.


"Ya aku ingin, aku ingin," seru Evelyn kegirangan.


"No, aku tidak mau. Punya adik sangat cerewet sekali. No, aku tidak ingin adik bayi," sahut Excel protes.


Rebecca mencubit perut Reigner dengan keras. Sehingga membuat pria itu kaget. "Apa yang kamu lakukan Becca? Membuatku terkejut saja," seru Reigner dengan terkekeh geli.


"Sayang, lihat Mommy! Mommy mencubit perut Daddy," bisik Reigner pada putrinya.


Evelyn pun membalas bisikan Ayahnya."Itu tandanya, Mommy menyukai Daddy. Soalnya Mommy sering juga mencubit aku, Dad!"


Rebecca semakin gemas melihat dua orang yang sedang kompak menggodanya. "Evelyn, sepertinya kamu malam ini tidak ingin tidur bersama Mommy?"


"Ya, benar Mommy! Evelyn ingin tidur bersama Daddy! Bolehkan Daddy?" tanya Evelyn dengan mengedipkan matanya.


"Tentu boleh, Sayang! Kamu boleh tidur di kamar Daddy."


"Yee, terima kasih Daddy."


"Sama-sama, Honey!"


Setelah itu, Evelyn dan Reigner keluar dari kamar. Rebecca sedikit kesal dengan Reigner yang menggodanya.


Di Tempat Lain.


Mario sedang membanting semua barang yang ada di rumahnya. Dia sangat marah karena gagal membawa Rebecca pulang.


"Shiitt, aku tidak akan membiarkan kamu lolos begitu saja Rebecca. Aku akan melakukan apapun agar bisa mendapatkan mu kembali. Sepertinya kamu sangat menyayangi anakmu itu. Jadi akan sangat mudah untuk membawamu kembali ke dalam pelukan ku."

__ADS_1


Mario sangat marah dan ingin kembali mendapatkan apa yang diinginkannya. Entah cara apa lagi yang akan dia lakukan untuk menaklukkan Rebecca.


__ADS_2