
Mendengar sang ayah yang sedang memanggilnya, Evelyn pun berbisik pada Teresa. "Grandma, Daddy ada di luar. Aku harus bagaimana, Grandma?"
"Terserah kamu sayang, Grandma ikut saja permainanmu!"
Evelyn terdiam sejenak dan berpikir. Setelah berpikir akhirnya, Evelyn memutuskan untuk membuka pintu. Di luar Reigner terus mengetuk tanpa henti, hingga akhirnya pintu pun terbuka.
"Sayang akhirnya kamu membukakan pintu untuk Daddy juga, Nak! Daddy minta maaf, Sayang. Daddy salah sama kamu!" ucap Reigner dengan memeluk putrinya.
"Daddy harus janji tidak akan mengulanginya lagi," sahut Evelyn ketus.
Reigner mengurai pelukannya, dia berjongkok sembari tersenyum senang. "Ya Daddy janji sama kamu tidak akan mengalaminya lagi."
"Oke baiklah, aku terima permintaan maaf Daddy. Kalau begitu gendong aku keluar kamar," ucap Evelyn datar.
Reigner terkekeh, lalu dia berdiri dan menggendong putrinya. "Memang tuan putri yang satu ini tidak ada tandingannya. Mommy saja kalah."
"Sudah jangan memujiku lagi, Daddy! Aku lagi tidak butuh pujian," sahut Evelyn seakan tak peduli.
"Ya, ya, ya! Daddy mengerti." Setelah itu Reigner membawa Evelyn ke kamarnya sendiri.
Sesampainya di depan pintu, Reigner menurunkan Evelyn. Lalu, mereka masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar ada Excel yang sedang sibuk dengan laptopnya. Reigner membawa Evelyn ke tempat tidur, lalu dia menanyai putranya. "Excel, kamu sedang apa, Nak?"
"Laptopku mati, Dad! Tiba-tiba saja dan tidak bisa hidup lagi," jawab Excel dengan raut wajah serius.
Reigner melangkah mendekati Excel. Dia mengambil laptop itu dan mencoba untuk memperbaiki. "Sepertinya ini harus di servis, Nak! Tapi tidak apa-apa, besok Daddy akan belikan laptop baru untukmu, dan semua data di sini akan di pindai nanti selesai di servis. Bagaimana?"
Excel menganggukkan kepalanya. Setelah itu dia membuka buku dan membacanya kembali.
"Excel maafkan Daddy ya!"
"For what?" ucap Excel bertanya-tanya.
"Kamu tidak marah sama Daddy?"
__ADS_1
"No, tidak ada yang marah sama Daddy! Aku hanya malas bicara saja," sahut Excel dengan santainya.
Reigner tertegun sesaat, sedangkan Evelyn sedang tertawa geli menertawainya. Reigner menarik nafas dalam karena terjebak dalam drama yang dibuatnya sendiri.
"Dimana Mommy mu?"
"Mommy di kamarnya, Dad. My be, Mommy sedang marah sama Daddy," jawab Excel dengan serius membaca bukunya.
"Baiklah kalau begitu, 2 masalah sudah terselesaikan. Kini tinggal masalah satunya lagi. Evelyn, Daddy keluar dulu. Cepat tidur ya! Kamu juga Excel, cepat tidur ini sudah malam!"
Reigner mencium pipi kedua anak kembarnya. Setelah itu dia keluar dari kamar menuju ke kamar Rebecca. Dia pun melangkah dengan yakin.
Di dalam kamar Rebecca sedang tegang di depan laptopnya. Dia syok melihat berita viral di sosial media. "Kenapa bisa ada foto-foto ini? Sejak kapan dia menyimpan semua foto-foto memalukan itu. Rebecca menggeser kursor laptopnya dengan tubuh gemetar.
Reigner yang sudah sampai di depan pintu pun langsung masuk ke dalam, karena pintu dalam keadaan sedikit terbuka.
"Becca kamu belum tidur?" seru Reigner dari belakang. Akan tetapi tak di dengar oleh Rebecca.
Reigner berjalan mendekat, kemudian dia melihat foto-foto mesra Rebecca di layar laptop. "Apa maksud foto-foto ini?" ucap Reigner hingga membuat Rebecca terkejut.
"Apa foto ini real? Apa itu kamu?" tanya Reigner penasaran.
Rebecca mengangguk mengiyakan, bibirnya berat untuk menjawab pertanyaan itu.
Reigner memegang pundak Rebecca dengan kedua tangannya. "Becca, jujur sama aku! Apa kamu pernah melakukan hal itu bersamanya?"
Rebecca terkejut dengan pertanyaan Reigner. "Aku tidak pernah melakukan hal itu dengannya. Meski beberapa kali aku mendapatkan pelecehan darinya, tapi aku belum pernah melakukan hal itu sama siapapun? Aku masih takut dan trauma dengan kejadian masa lalu," ucap Rebecca menjelaskan. Matanya berkaca-kaca jika membayangkan hal itu.
Reigner langsung merengkuh tubuh Rebecca ke dalam pelukannya. "Maaf, maafkan aku telah melakukan hal itu padamu. Mulai sekarang aku tidak akan membiarkan siapapun jahat padamu. Aku tidak peduli jika dia menyimpan foto-foto itu, karena sekarang hanya aku yang akan memiliki dan menjagamu seutuhnya."
Reigner menatap mata Rebecca, dia melihat ketakutan yang sangat dalam di mata itu. "Tenang ya! Jangan takut lagi, kamu bisa menggunakan aku sebagai pelindungmu! Aku tidak mau lagi kehilanganmu Rebecca!"
Rebecca terharu dengan sikap lembut Reigner. Dia kembali memeluk Reigner dengan sangat erat. "Akhirnya aku mempunyai tempat berlindung. Selama ini aku bertahan demi Excel dan Evelyn. Mereka tidak tahu kalau pekerjaanku selama ini di bawah kendali seseorang. Bahkan aku sering berbohong pada mereka jika aku ada kegiatan diluar."
__ADS_1
"Iya, aku akan buktikan semua di pesta nanti. Aku akan mengumumkan pada dunia jika kamu adalah milikku," ucap Reigner dengan sangat yakin.
Reigner melepaskan pelukannya, lalu dia berjongkok dan berkata, "Rebecca, maukah kamu menikah denganku? Jadilah istriku, mungkin ini waktu yang belum tepat. Tapi aku tidak sabar menunggu jawaban mu. Aku ingin mendengarnya sekarang, agar aku bisa lebih yakin lagi untuk kedepannya."
Rebecca terdiam menatap mata Reigner yang penuh kesungguhan. Setelah berpikir sejenak dia pun memutuskan untuk menerima lamaran Reigner. "Iya aku bersedia menikah denganmu. Aku juga bersedia menjadi istrimu. Aku ingin hidup bahagia bersama anak-anak ku. Hidup tenang dengan sebuah keluarga. Aku bersedia Rei, aku bersedia menjadi istrimu."
Reigner tersenyum senang, akhirnya dia bisa meyakinkan hati Rebecca. "Terima kasih, kamu telah menerimaku Becca. Aku akan berjanji untuk menjagamu dan kedua buah hati kita dengan segenap jiwaku."
"I love you," ucap Reigner dengan menatap mata Rebecca. Dia berharap mendapatkan balasan atas ungkapan perasaannya itu.
Rebecca terdiam sejenak kemudian dia tersenyum manis. "Love you too," ucap Rebecca membalas ucapan Reigner.
Reigner tersenyum senang, lalu gerak cepat dia meraih dagu Rebecca dan mengecup bibirnya dengan lembut. Rebecca pun langsung memejamkan matanya merasakan kecupan itu.
Setelah beberapa detik, Reigner melepaskan tautan bibirnya. Rebecca tersenyum dan tersipu malu.
"Why? Apa yang membuatmu tersipu?" Reigner bertanya pada Rebecca.
"Nothing, aku hanya tidak percaya akan ada hal ini."
"Berterima kasih lah pada dua malaikat kecil itu, berkat mereka aku bisa menemukanmu dan kita bisa bersama."
"Iya, ternyata mereka lebih peka dan lebih pintar dariku," sahut Rebecca dengan perasaan lega.
Reigner menyelipkan rambut Rebecca ke belakang telinga. "Tidurlah, besok aku akan mengajakmu jalan-jalan. Kita quality time bersama, aku ingin merayakan hari ini besok berdua tanpa anak-anak."
"Apa kamu yakin bisa lolos dari mereka? Kenapa aku tidak yakin, apalagi sifat Evelyn yang seperti detektif itu."
Reigner terkekeh. "Aku heran, kenapa bisa mempunyai putri yang sepintar itu. Kamu tahu, kalau waktu di meja makan tadi dia hanya berakting mendiami ku."
"Itulah bakatnya, bahkan aku sering kali dibuat kesal olehnya. Sifat manjanya itu melebihi siapapun."
"Tapi aku sangat menyayanginya, Excel dan Evelyn adalah belahan jiwaku. Lalu posisi mu sekarang adalah sebagai nyawaku Rebecca," ucap Reigner dengan mengecup lembut tangan Rebecca.
__ADS_1
Rebecca hanya menanggapi dengan senyuman. Hatinya begitu damai dan tenang seperti tanpa beban lagi.