Bayi Rahasia Sang Model

Bayi Rahasia Sang Model
BRSM 56


__ADS_3

Reigner telah siap, dia menghampiri Rebecca ke kamarnya. "Sayang, kamu sudah siap! Ayo kita berangkat!"


"Wait, sebentar. Aku ke toilet dulu," seru Rebecca dalam kamarnya.


"Baiklah aku tunggu di bawah ya!" sahut Reigner.


Reigner pun turun ke bawah untuk menunggu Rebecca. Dia menghidupkan ponselnya dan mengirim pesan untuk Edward. Dia menanyakan apakah semuanya sudah siap?


Beberapa menit kemudian, Rebecca turun dari lantai atas. Dia berjalan anggun dengan high heels di kakinya.


"Ayo kita berangkat!" seru Rebecca dengan menenteng tasnya.


Reigner tersenyum dan mengulurkan tangannya. Rebecca langsung meraih tangan itu dan menggenggamnya erat. "Mau kemana kita? Tadi kamu belum memberitahuku Rei," ucap Rebecca keluar rumah.


"Nanti kamu juga akan tahu," jawab Reigner singkat.


Reigner dan Rebecca berjalan menuju ke garasi, kemudian mereka masuk ke dalam mobil. Reigner menghidupkan mobilnya lalu keluar dari garasi. Setelah itu dia mengemudikan mobilnya menuju ke pusat perbelanjaan untuk fitting baju.


Di Kantor.


Teresa dan kedua cucunya telah tiba di kantor. Mereka masuk ke dalam dan langsung menuju ke ruang pemotretan. Hari ini ada dua kali pemotretan yang bertema indoor dan outdoor. Tentu hal ini sudah mendapatkan persetujuan dari Reigner.


"Pagi Nona dan Tuan muda. Ayo kita masuk ke dalam ruang ganti, karena fotografernya sudah siap, "seru Elley pada si kembar. Dia ditugaskan oleh Rebecca untuk menghandle segala yang dibutuhkan Excel dan Evelyn.


"Grandma kita masuk dulu ya!" seru Evelyn pada Neneknya.


"Iya Sayang, Grandma tunggu di tempat biasa ya," jawab Teresa, lalu dia pergi ke belakang untuk menunggu kedua cucunya.


15 menit kemudian, Excel dan Evelyn sudah siap dengan make up dan juga baju yang sesuai dengan tema pemotretan. Evelyn berpose duluan, karena pengambilan gambar berkonsep gadis kecil yang ceria.


Setelah selesai, kini giliran Excel yang berpose. Pengambilan gambar Excel kali ini, berkonsep style masa kini yang mengutamakan ekspresi dalam menunjukkan gaya. Dia harus bergaya cool dan elegan.


Di luar kantor.


Caroline sedang berdebat dengan dua satpam yang berjaga. Dia dilarang masuk oleh satpam itu dan diusir pergi.

__ADS_1


"Aku ke sini hanya mau mengambil semua barangku yang tertinggal. Apa kalian mau mengambilkannya untukku? Barang aku sangat tanya jadi aku membawa orang untuk membawakannya. Setelah mengambil aku akan segera pergi," ucap Caroline dengan nada emosi.


Caroline datang dengan membawa 2 orang pria bertubuh kekar. Dia ingin masuk ke dalam kantor untuk mengambil barangnya yang tertinggal. Setelah lama berdiskusi akhirnya Caroline diizinkan masuk oleh kedua satpam itu.


"Baiklah kami izinkan anda masuk, dalam waktu 15 menit anda harus segera keluar," jawab satpam itu.


Caroline tersenyum smirk, setelah itu dia berjalan masuk ke dalam kantor menuju ke ruangannya. Sesampainya di dalam Caroline segera masuk ke dalam ruangan bersama dengan kedua pria itu.


10 menit kemudian mereka keluar dengan membawa barang-barang dalam kardus.


Setelah itu dia menunggu lift untuk turun ke bawah. Beberapa menit kemudian pintu lift pun terbuka. Di dalam lift tersebut ada Teresa dan juga kedua cucunya. Caroline tersenyum dan masuk ke dalam lift tersebut.


Tak ada sapaan di dalam lift itu. Teresa terlalu malas untuk menegurnya. Apalagi Excel dan Evelyn, mereka bahkan tidak menoleh sedikitpun.


Sesampainya di bawah mereka semua keluar. Teresa dan kedua cucunya langsung menuju ke mobil untuk pergi menjalani pemotretan yang kedua secara outdoor. Begitu juga dengan Caroline dia masuk ke dalam mobil bersama kedua pria tersebut


Setelah itu mobil yang dinaiki Teresa berjalan. Mobil Caroline mengikutinya dari belakang. Entah itu secara kebetulan atau tidak.


Di Mall.


Rebecca sedang bergelayut menjadi lengan Reigner. Dia berjalan sembari tertawa dengan sangat senang. "Gaun tadi sangat indah, Rei! Apakah itu desainmu sendiri?" Tanya Rebecca pada Reigner.


Rebecca tersenyum lalu bertanya, "Apakah aku adalah yang pertama bagimu, Rei?"


Reigner menoleh dan menjawab, "Bukankah sudah pernah aku bilang kalau kamu itu adalah yang pertama bagiku. Rebecca kamu itu adalah yang pertama dan akan menjadi yang terakhir untukku."


Rebecca semakin tersenyum lebar, dia merasa terharu dan terlihat sangat bahagia. Tiba-tiba Reigner menghentikan langkahnya. "Sayang, aku pergi ke toilet dulu ya. Kamu tunggu saja di sini!"


Rebecca mengangguk mengiyakan. "Baiklah aku akan menunggumu di sini jangan lama-lama ya!"


Setelah itu Reigner pergi menuju ke toilet. Rebecca berdiri sembari memainkan handphonenya. Tak lama kemudian ada satu panggilan masuk ke dalam handphone-nya. Rebecca langsung mengangkat telepon tersebut.


"Halo!" Rebecca menyapa penelpon itu.


[Halo Baby, bagaimana kabarmu?]

__ADS_1


Mata Rebecca membulat mendengar suara penelpon itu. "Mario," ucapnya pelan.


[Sepertinya kamu sangat bahagia sekali, Baby. Senyumanmu itu membuat aku kesal.]


Rebecca masih diam tak bergeming. Tiba-tiba kakinya terasa kaku dan tidak sanggup untuk berjalan. Rebecca melihat handphonenya dan ingin mematikan panggilan tersebut. Namun, suara Mario kembali menegurnya.


[Jika kamu matikan panggilan ini maka nyawa seseorang akan melayang.]


Mendengar itu Rebecca langsung menjawab dengan refleks. "Apa maksudmu Mario? Jangan mengancamku dengan ancaman murahan."


Mario tergelak di tempatnya, lalu dia menjawab ucapan dari Rebecca.


[Baby, apakah aku pernah bermain dengan ancamanku? Mungkin kamu akan percaya setelah mendengar ini.]


Di tempat yang tak terlihat Mario memutar sebuah rekaman suara dan diperdengarkan kepada Rebecca. Dalam rekaman itu terdapat suara anak kecil yang sedang memanggil Ibunya. "Mommy, Mommy."


Rebecca langsung terperanjat kaget dari tempatnya. Dia sangat mengenali suara itu. Rebecca langsung panik dan ketakutan. "Mario kamu jangan macam-macam dengan anak-anakku. Jangan kamu sakiti mereka!" ucap Rebecca dengan kaki gemetar.


Mario kembali tergelak di tempatnya. Dia sangat senang melihat Rebecca yang sangat ketakutan.


[Aku tidak akan menyakiti kedua anakmu, asal kamu bisa menurut padaku.]


"Aku tidak akan lagi menuruti kata-katamu, Mario!" sahut Rebecca tegas.


[Kalau begitu bersiaplah melihat kedua anakmu mati di tanganku, Baby. Kamu coba saja, aku tidak pernah main-main dengan perkataanku. Atau ku buat video ketika aku mengeksekusinya, agar kamu bisa melihat kematian anakmu dengan jelas.]


Rebecca menggelengkan kepalanya. Dia tidak tahu harus melakukan apa?


"Jangan Mario, Jangan kamu sakiti mereka. Lepaskan mereka, Mario. Aku mohon!"


[Kalau begitu kamu pergi dari tempat itu dan segera ke tempatku. Aku sudah menyiapkan mobil di luar nanti anak buahku yang akan menjemputmu. Cepat sekarang pergilah! Jangan coba-coba kamu menghubungi pria itu, karena aku sedang mengawasi mu dari suatu tempat.]


Rebecca langsung menoleh ke segala arah untuk mencari keberadaan Mario. Ingin rasanya dia berlari mencari Reigner, namun dia takut kalau Mario benar-benar membunuh anaknya.


Mario pun geram melihat Rebecca yang terlihat sangat ragu. Dia pun segera membentak Rebecca agar segera pergi dari tempat itu.

__ADS_1


[Aku hitung sampai tiga. Kalau kamu tidak pergi dari tempat itu maka aku akan menelpon anak buah ku untuk segera mengeksekusi anak kesayanganmu.]


"Baiklah aku keluar sekarang. Jangan sakiti mereka." Rebecca membalikkan badan dan pergi dari tempat itu. Dia tak berdaya mendengar ancaman Mario yang sangat meyakinkan.


__ADS_2