
Merasa diabaikan akhirnya, Reigner membawa pulang kedua anaknya. Dia tidak bisa membujuk Evelyn yang sedang merajuk. Di dalam mobil, Excel dan Evelyn saling berdiam diri. Tak ada obrolan apapun di antara mereka. Reigner juga tidak bisa berbuat banyak.
Tak lama kemudian, mereka sampai juga di rumah. Excel dan Evelyn langsung turun dari mobil lalu masuk ke dalam. Reigner menggelengkan kepala melihat sikap keras kepala dua anak kembarnya itu.
Di ruang santai terlihat Rebecca yang sedang mengobrol dengan Teresa. Melihat kedua buah hatinya pulang, membuat Rebecca senang. "Sayang kamu sudah pulang, Nak!" seru Rebecca pada kedua anaknya. Akan tetapi mereka semua diam dan membuat Rebecca bingung.
"Evelyn kamu tidak menjawab sapaan Mommy, Nak!" seru Rebecca namun tak didengarkan oleh Evelyn. Gadis kecil itu langsung masuk ke dalam kamarnya.
Excel menuju ke ruang santai, lalu duduk di samping Ibunya. Setelah itu, Rebecca langsung menanyai Excel. "Apa kalian bertengkar lagi? Kenapa adikmu terlihat sangat kesal."
"Mommy tanya Daddy saja, aku malas menjelaskan," sahut Excel cuek dan tidak peduli.
"Excel, Mommy sedang menanyaimu jadi kamu wajib menjawab Mommy! Sikapmu ini sangat tidak sopan, Nak," ucap Rebecca menegur putranya.
Tiba-tiba Reigner menyahutnya dari luar. "Evelyn sedang merajuk, tadi ada masalah kecil yang menyinggung perasaannya."
Rebecca menoleh ke arah Reigner dengan pandangan tak mengerti. "Ada masalah apa lagi? Belum pernah aku melihatnya sesedih itu."
"Excel, kamu belum menjawab pertanyaan Mommy. Ayo cepat jelaskan!"
Excel menarik nafas dalam, kemudian dia menjelaskan pada sang Ibu. "Tadi Daddy memperkenalkan aku dan Evelyn di depan karyawan kantor. Terus ada salah satu di antara mereka ada yang menawari Evelyn menjadi model Mom. Lalu, Evelyn tanpa persetujuan ku langsung saja menerimanya. Excel la tidak mau Mom. Terus Evelyn marah sama aku."
Rebecca terkekeh geli membuat Excel semakin kesal. "Why Mom? Apa ada yang lucu?"
"Bukan begitu Nak! Kamu tahu sifat adikmu kan? Kalau menurut Mommy tidak masalah jika kalian mencobanya. Kalau kamu tidak suka tidak apa-apa, Sayang itu hak kamu. Tapi kalau Evelyn pasti dia akan tetap pada pendiriannya."
"Benar Mom setuju! Kalau kamu tidak ada waktu untuk menemani Evelyn, biar Mom kawal dia. Pasti cucuku akan cantik sekali jika berakting dan berpose," sahut Teresa ikut menyetujui.
Reigner pun ikut memberikan pendapatnya. Dia duduk di samping Rebecca dan sangat dekat. "Apa kamu benar-benar akan menyetujui keputusan Evelyn?"
__ADS_1
Rebecca menjawab," Ya, aku tidak keberatan jika dia mencoba dunia modeling. Memang kenapa? Apa yang membuatmu keberatan?"
"No, nothing," jawab Reigner singkat karena ada keraguan di hatinya.
Kalau begitu biar Mom yang menyemangatinya biar cucuku terlihat ceria kembali," ucap Teresa, dia berdiri dari tempatnya untuk menemani Evelyn.
Excel pun ikut berdiri, dia mengikuti Neneknya ke atas. Kini tinggal Rebecca dan juga Reigner di ruang santai. Kegugupan mulai menyerang Ibu beranak dua itu.
"Aku sudah melihatmu saat memperkenalkan Excel dan Evelyn di depan.publik. Menurut ku sikapmu sangat berlebihan," ucap Rebecca tanpa menatap Reigner yang sedang melamun.
Reigner tersadar dia pun langsung menoleh. "Berlebihan? Aku? Why?"
"Ya itu menurutku, kamu langsung mengadakan pesta minggu depan tanpa membicarakannya dulu padaku," jawab Rebecca sembari menghidupkan televisi. Posisi itu masih terlalu canggung untuknya.
Reigner merasa terganggu dengan sikap Rebecca yang mencoba untuk tidak bertatapan dengannya. Reigner meraih remote televisi itu dan membuangnya ke sofa.
"Apa yang kamu lakukan?" seru Rebecca dengan jantung yang berdebar.
"Mencium mu, apa kamu tidak tahu? Sehingga kamu harus bertanya padaku?" jawab Reigner dengan tatapan m3sum.
Rebecca menjadi semakin salah tingkah. Sedangkan Reigner menjadi semakin senang menggoda calon istrinya itu. Reigner semakin mendekatkan dirinya ke tubuh Rebecca. Lalu dia meraih tangan wanitanya itu. Reigner mencium lembut tangan Rebecca.
"Aku ingin secepatnya menikahimu, Rebecca. Aku tidak ingin lagi kehilangan mu. Aku harap kamu bisa secepatnya membuka hati untukku. Agar aku bisa menyempurnakan langkahku untuk membahagiakan mu. Aku mencintaimu, sejak pertama kali aku mendapatkan kehormatan mu!"
Ucapan tulus Reigner membuat Rebecca tertegun. Dia tidak tahu perasaan apa yang ada dalam hatinya saat ini.
"Aku ingin jawabanmu, tapi tidak sekarang. Aku ingin kamu menjawabnya ketika pesta nanti. Aku akan melamar mu dihadapan semua orang. Aku ingin kamu bisa menerimaku," ucap Reigner tulus dari dalam hati.
Reigner dan Rebecca saling bertatap mata, semakin lama semakin dekat hingga mengikis jarak diantara mereka. Reigner menyingkirkan anak rambut yang menggangu pandangannya saat ini kebelakang telinga, lalu jari jemari besar itu bergerak meraih tengkuk Rebecca Perlahan tapi pasti, bibir keduanya bertemu. Rebecca memejamkan matanya dan tiba-tiba. "Mommy, Daddy!"
__ADS_1
Suara Evelyn memecahkan keheningan. Rebecca langsung tersadar dan mendorong tubuh Reigner secara kasar. Reigner menepuk jidatnya dan berkata dalam hati. "Shiiit! Hampir saja aku mendapatkanya."
Rebecca menjawab panggilan putrinya. "Ya Sayang, kemarilah!" ucap Rebecca dengan senyum canggung. Mata Rebecca melirik ke arah Reigner yang terlihat sangat frustasi.
Evelyn menuju ke ruang santai, dia duduk di antara Ayah dan Ibunya."Mommy, Evelyn ingin meminta maaf atas kejadian tadi," ucap Evelyn dengan muka melas.
"Tidak apa-apa Sayang! Mommy mengerti kok. Mommy akan selalu mendukung apapun yang kamu lakukan, Nak! Asal kegiatan itu positif, its okey!"
Evelyn tersenyum dan memeluk Ibunya dengan penuh kasih sayang. Setelah itu, Evelyn juga meminta maaf pada Ayahnya. "Daddy, Evelyn juga minta maaf pada Daddy, karena tadi membantah ucapan Daddy."
Reigner mengangkat tubuh mungil Evelyn ke pangkuannya. Dia mengecup kepala putrinya. "Tidak masalah Sayang. Daddy juga minta maaf, jika ucapan Daddy terlalu kasar. Daddy juga akan mendukung kreativitas mu, Honey!"
"Terima kasih Daddy, Terima kasih Mommy. I love you!"
"I love you too, Sayang," jawab Reigner dan Rebecca
Evelyn memeluk kedua orangtuanya. Akhirnya Rebecca dan Reigner memberikan kesempatan pada Evelyn untuk mengembangkan potensi bakatnya. Mereka tidak ingin mengekang kreativitas yang dimiliki putrinya.
"Oh ya, Daddy tadi mau melakukan apa pada Mommy. Apa Daddy tadi ingin mencium Mommy?"
Rebecca terkejut mendengar ucapan Evelyn. Lalu dengan cepat dia menyangkal pertanyaan itu. "Tidak Sayang, tadi mata Mommy kemasukan debu. Jadi Daddy membantu Mommy untuk membersihkannya."
Evelyn mengerutkan alisnya. "Benarkah itu Daddy?"
Reigner tersenyum tipis. "Ya Baby, mata Mommy tadi kelilipan. Kamu ini dari mana tahu berciuman?"
"Dari Kak Excel, Daddy!" jawab Evelyn.
"Excel?" Rebecca terkejut ketika Evelyn menyebut nama Kakaknya.
__ADS_1