
Waktu terus berjalan sekarang ini usia kehamilan Cessa sudah 9 bulan dan tinggal menghitung waktu. Ibu dan ayah dari Bram selalu mampir menemui putera mereka.
Membuat Cessa menghindar saat mertuanya datang ia seperti itu karena gugub.., dan Bram sudah menceritakan tentang Sonya pada ibu dan ayahnya. Itu yang buat Cessa takut.
Takut di salahkan atas perpisahan Sonya dan Bram, dan takut tidak di terima di keluarga Aditama. Saat ini Cessa sedang masak menyiapkan makan siang untuk suaminya setelah pulang dari kantor.
Dan Cessa selalu di kawal oleh Milan asistennya sekarang..., di bayar oleh suaminya itu. "Aku pulang..., Cessa "ujarnya.
"Mas duduk aku sudah masak "melepaskan jas Bram. "Hallo anak ayah..., kamu merindukan ayah mu ini nak, tinggal menuggu waktu lagi untuk kamu keluar dari perut ibu "mencium perut buncit istrinya.
"Kenapa dengan wajah istriku ini "mencium pipi Cessa. "Mas..., apaansih "malu Cessa. Mereka berdua tertawa.., dan tidak sadar jika ibu dan ayah sedang memperhatikan interaksi mereka dengan si cabang bayi maupun ibunya.
"Kalian tidak melihat kami.., jika bermesraan di tempat sepi "ketus Arana. "Eh.., ibu.., ayah masuk kita makan siang bersama "ajak Bram.
"Ayah juga sangat lapar..., "masuk ke dalam rumah. Setibanya di meja makan Cessa dan Milan menyiapkan makanan, Cessa langsung menyajikan nasi, ayam nugget, sambal mangga tumis kangkung dan ikan goreng nila.
__ADS_1
Bram menyantap nya dengan lahap dan Cessa menuangkan air putih di gelas suaminya dan ikut makan, namun Arana yang melihat itu sedikit tidak suka entahlah mungkin karena Bram dan Sonya pisah.
Di tengah-tengah makannya ia merasakan perutnya sakit dan ia merasakan ada yang merembes keluar, ia melihat ke bawah meja dan benar saja air ketuban nya pecah.
"Mas Bram..., air ketuban nya pecah "ringis Cessa. "Apa "kaget Arana, Bram dan Burhan.
"Saya siapkan mobil dulu "ujar Milan. Bram membantu Cessa berdiri dan Burhan menarik kursi.., Arana hanya diam dan cemas.
"Arana.., ayo bantu jangan diam saja "ucap Burhan. "I.., ya.., iya "jawab Arana. Bram membantu Cessa masuk ke dalam mobil, setelah ibu dan ayahnya sudah naik Milan menancapkan gas.
Ruangan persalinan....
"Tolong tenang bu.., tarik nafas.., buang "intrusi dokter. "Dok.., panggil ibu "pinta Cessa.
"suster "tatap dokter.
__ADS_1
"Baik dok "suster mengerti.
suster membuka pintu dan melihat orang yang duduk. "Apa ada ibu pasien.., tolong masuk pasien sedang membutuhkan semangat "ujar suster.
"Sus..., saya suaminya "Bram mendekati suster. "Maaf pak.., pasien hanya minta ibu "keukeuh Suster.
"Arana..., tolong mengertilah "ujar Burhan. "Bu..., Bram mohon temani istriku jangan benci cucu ibu "mohon Bram.
Arana menutup mata dan mengeleng lalu berdiri...."Bu "cegah Bram. Arana melepas tangan putranya dan masuk ke dalam ruang bersalin.
Bram dan Burhan lega melihat istri dan ibu mau menemani Cessa di dalam, kembali ke ruang bersalin Arana memegang tangan Cessa dan mengelus kepala menantunya dan Cessa mengemgam erat tangan ibu mertuanya.
"Bu..., "ringis Cessa melihat mata Arana. "Kamu bisa..., kamu kuat ayo berjuanglah ibu ada di samping mu "peka Arana.
"Maafkan aku "tangis Cessa. "Jangan menangis..,fokus kamu lahirkan cucuku ayo cepat.., ibu sudah melupakan nya "ucapnya.
__ADS_1