
Rayyan bingung dengan sikap istrinya, kenapa tiba tiba telepon menanyakan posisinya saat ini dan menutup teleponnya secara sepihak tanpa menunggu jawabannya terlebih dahulu.
Rayyan pun chat pada Fani memberi tahu caffe dimana dia berada.
Namun disela sela menunggu kedatangan sang istri, tiba tiba datang seorang perempuan cantik dengan berpakaian yang cukup seksi dan dimana mata para lelaki senang melihatnya.
Perempuan itu mengenakan dress ketat selutut berwarna merah yang dimana tercetak jelas bagian tubuhnya dengan memakai sepatu high hills, sungguh sangat indah dipandang, tapi tidak bagi Rayyan, dia sangat risih melihatnya.
"Sayang ya ampun gak nyangka banget bisa ketemu kamu disini" ucap perempuan tersebut sembari memeluk Rayyan tiba tiba. "aku sampai gak bisa berkata kata lagi saking bahagianya, karena tadi kamu menolak ajakan aku, tapi gak nyangka ya, jodoh memang gak bakal kemana." Ucap perempuan tersebut bernama Melisa, ya Melisa, wanita yang sudah membuat Fani tak baik baik saja saat ini.
Rayyan merasa risi dipeluk peluk seperti itu, dia sedikit mendorong tubuh perempuan itu supaya melepaskan rengkuhannya.
"Maaf, karena saking bahagianya." Ucap Melisa senang.
"Kamu selama ini kemana saja Ray, kenapa tiba tiba menghilang tanpa kabar, aku sedih lhoo selalu nungguin kamu, berharap ada kabar dari kamu, karena tiap aku telepon kamu, handphone kamu selalu tak aktif, kemana aja" tanya Melisa panjang lebar.
Rayyan diam sejenak memikirkan apa yang harus dia jelaskan kepada Melisa, ya dia salah karena memang telah meninggalkannya begitu saja tanpa kasih kabar sama sekali, sebenarnya Rayyan juga sudah lama jengah dan risi dengan hubungannya bersama Melisa, berkali-kali ia meminta melisa untuk sedikit sopan dalam berpakaian, tapi tak digubris perempuan tersebut, karena sudah senang dan nyaman dengan penampilannya yang seperti itu.
Fani dan Melisa memang orang yang sangat berbeda. Fani orangnya memang baik tapi sedikit judes, penampilan pun tertutup dan sangat menjaga marwahnya sebagai perempuan. Tapi Melisa dia sangat agresif, penampilan pun bak model yang selalu pakai pakaian ketat yang jelas mencetak bagian tubuhnya.
Maka dari itu Rayyan bersedia dijodohkan oleh ibunya, karena sedikit tau bagaimana perempuan yang akan bersanding dengannya yaitu Fani.
"Rayyan heyy.. kok bengong" ucap Melisa sembari menepuk pundak Rayyan.
"Aku baik baik saja Mel, dan tolong kamu gak usah dekat dekat aku lagi." Jawab Rayyan dan seketika perempuan itu mundur lalu duduk dihadapannya.
"Maksud kamu? Kenapa tiba tiba kamu ngomong seperti itu Ray?" Ucap Melisa dengan raut wajah sedikit kecewa.
"Aku... aku gak bisa melanjutkan lagi hubungan kita ini, kita... kita putus."
Sontak saja Melisa terkesiap mendengar jawaban Rayyan, bak telah menancapkan puluhan jarum kedalam hatinya, sakit perih itu yang Melisa rasakan saat ini. Bulir bening itupun akhirnya lolos dari sudut matanya.
"Sekali lagi maaf harus ku katakan sekarang, sebenarnya aku sudah lama jengah dengan hubungan kita, pasalnya dengan kamu Mel." Ujar Rayyan jujur.
"Tapi kenapa Ray, kenapa kamu berbicara putus, ada apa sebenarnya? Tolong jelasin sama aku, aku sakit, sangat sakit sekali mendengarnya. Bila aku ada salah aku akan perbaiki semuanya." isak Melisa sembari memegang dadanya dengan sebelah tangan. Merasakan sakit yang begitu dalam, karena kekasih yang sangat dicintainya memutuskannya begitu saja.
"Berkali-kali aku menasihati kamu supaya berpakaian sopan minimal sedikit saja, tapi kamu tidak mendengarkanku, malah lebih berani, aku risih dengan penampilan kamu yang selalu seperti itu. Dan aku tidak suka dengan wanita agresif sepertimu. Karena kita belum ada ikatan halal."
"Hanya karena itu? Baik, baik aku akan menuruti semua keinginan kamu. Aku akan merubah penampilanku. Aku akan merubah sikapku. Tapi tolong kamu tarik kata kata itu barusan."
"Tidak Mel. Kamu terlambat."
"Maksud kamu?"
Sementara itu dari kejauhan Fani sudah berada tak jauh dari mereka berdua, dia terkejut melihat suaminya berduaan dengan seorang wanita, terlebih wanita itu sangat cantik. Putih dan seksi, bak seorang model yang sangat digemari kaum adam. Ya Fani akui itu.
Belum sempat Rayyan menjawab pertanyaan Melisa, dia dikejutkan dengan kehadiran sang istri yang sudah berada di dekatnya.
"Mas" sapa Fani
"Siapa perempuan ini mas?" Tanya Fani sembari melirik ke arah perempuan yang sedari tadi duduk terisak dihadapan suaminya.
__ADS_1
Melisa yang sadar akan kedatangan seorang perempuan pun menoleh dan menatapnya lekat lekat.
"Siapa kamu?" Tanya Melisa sembari berdiri.
"Seharusnya aku yang tanya siapa kamu?" Ucap Fani. Lalu menoleh pada Rayyan berharap Rayyan mengatakan wanita ini hanya temannya boleh jadi saudaranya.
"Jawab siapa kamu?" Ucap Melisa dengan sedikit nada tinggi.
"Aku... istrinya. Ya kenalkan namaku Fani Rosmala istri dari Rayyan Adhiwitama." Ucap Fani percaya diri sembari mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat.
Namun Melisa menepis tangan itu dengan kasar.
"Maksudnya apa ini?" Tanya Melisa menoleh ke arah Rayyan.
"Ya aku istrinya. Kita sudah menikah sebulan lebih." jawab Fani jujur karena tidak tau ada masalah apa antara suaminya dan perempuan ini.
"Kurang ajar"
Melisa hendak melayangkan satu tangannya ke arah pipi Fani. Namun Rayyan sigap, dia berdiri dan berhasil mencegat tangan itu dan dia genggam kuat kuat sampai Melisa merasakan sakit di pergelangan tangannya.
"Lepasin Ray, dia harus ku hajar, karena telah merebut kamu dari aku, lepasin" teriak Melisa sembari mencoba melepaskan cekalan tangan Rayyan. Sampai pengunjung yang ada disana pun menoleh ke arah mereka karena mendengar teriakan yang cukup keras itu.
"Tidak akan, aku tidak akan melepaskannya sampai kamu berjanji tidak akan menyakiti istriku"
"Jadi benar dia istri kamu?" Teriak Melisa.
"Ya"
"Jadi selama ini kamu menghilang karena telah menikahinya. Begitu?"
"Kenapa kamu tega melakukan semua ini sama aku Ray. Kenapa?" Ucapnya sembari terisak menahan sakit yang begitu dalam dihatinya.
Tangan Melisa pun sudah Rayyan lepaskan.
"Dan kamu. Kamu tau siapa aku?" Ucap Melisa sembari melayangkan jari telunjuknya mengarah ke wajah Fani dengan penuh emosi. Sedangkan Fani hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku Melisa kekasihnya Rayyan dari dulu hingga sekarang" ucap Melisa Lantang.
Mendengar pengakuan dari perempuan tersebut, membuat Fani mundur perlahan. Hatinya sakit mendengarnya, jadi perempuan ini yang tadi pagi telepon suaminya. Dia tak menyangka Rayyan telah memiliki kekasih sebelum menikah dengannya, bahkan sesudah menikahpun Rayyan belum juga memutuskan hubungannya, yang itu berarti artinya sama dengan dirinya, sama sama punya seseorang yang spesial dihati masing masing, tapi kenapa Rayyan tidak menunjukkan gelagat mencurigakan, Rayyan seolah benar benar mencintainya. Dan tidak ada wanita lain dihatinya. Selain dirinya sang istri.
"Fan ini semua tidak seperti yang kamu lihat." Ucap Rayyan hendak mendekat sembari mengulurkan tangannya.
"Kenapa? Kamu kaget. Hah?" Tanya melisa sembari mendongakkan kepalanya dengan berjalan mengitari tubuh Fani yang sedari tadi hanya berdiri. Karena tinggi Fani sedikit tinggi dari Melisa.
Melisa terus berputar perlahan dengan sesekali menatap intens dari bawah lalu keatas lalu kebawah lagi. Melihat penampilan yang dikatakan sebagai istri dari kekasihnya tersebut. Lalu berhenti tepat dihadapan Fani.
"Beginikah kelakuan orang yang berhijab, diluar boleh saja syar'i, tapi... kelakuan murahan. Dasar wanita perebut" umpat Melisa yang emosinya sudah berada di ubun-ubun.
"Kita bisa lihat siapa disini yang murahan Nona. Lihat saja penampilanmu. Dan aku tekankan. Jangan sekali-kali kamu mengotori mulutmu lagi dengan mengatakan seolah olah orang yang berhijab itu salah ketika ada cela yang mereka perbuat meski itu tidak mereka lakukan. Karena hijab itu wajib bagi seorang muslim terlebih orang itu jahat sekalipun."
Dengan santainya Fani menjawabnya sembari melihat juga penampilan Melisa dari atas kebawah.
__ADS_1
"Dan aku katakan, aku bukan wanita perebut seperti yang kau tuduhkan padaku. Aku sama sekali tidak tahu kalau Rayyan masih memiliki kekasih meskipun telah menikah denganku." Ucap Fani lalu menoleh ke arah Rayyan dan tersenyum kecut. Sementara Rayyan hanya menundukkan kepalanya.
"Dasar kurang ajar, kamu harus aku kasih pelajaran wanita murahan" umpat Melisa sembari menarik kerudung Fani dengan kuat.
Fani berusaha memegang kerudungnya agar tidak terlepas. Rayyan pun mencoba melerai keduanya tapi tangan Melisa begitu kuat mencengkram dan menarik kerudung Fani.
Hingga sekarang rambut Fani yang ada didalam kerudung pun ikutan ketarik.
"Tolong lepasin."
"Tidak akan, aku tidak akan melepaskannya, aku ingin kamu merasakan sakit seperti aku yang sakit hati karena kalian. Dasar wanita perebut."
"Sudah aku katakan. Aku bukan wanita perebut, tolong lepasin. Sakiiiit" isak Fani karena merasakan sakit dikepalanya.
"Melisa lepasin" teriak Rayyan dengan sorot mata penuh emosi. Lalu Rayyan tarik tangan Melisa dengan sedikit kesulitan karena tangan itu benar-benar kuat.
Namun sekuat kuatnya tangan seorang perempuan, pasti lebih lemah dibandingkan tangan seorang lelaki.
Akhirnya tangan itu terlepas dari kerudung dan rambut Fani. Fani segera membenarkan kerudungnya yang sudah acak acakan.
Kemudian Rayyan mendorong Melisa dan hampir saja Melisa limbung kebelakang.
"Kamu baik baik saja sayang?" Tanya Rayyan menatap sendu pada istrinya lalu memeluknya.
Rayyan ikut merasakan sakit yang kini dirasakan oleh istrinya juga. Semua ini karena salah dirinya, seharusnya Rayyan tidak mengadakan pertemuan di caffe ini. Seharusnya dia jujur dari awal pada Fani dan juga memutuskan hubungannya dengan Melisa. Sungguh Rayyan telah menyesalinya.
"Sungguh adegan yang romantis" ucap Melisa tersenyum sembari bertepuk tangan.
Rayyan pun melerai pelukannya lalu berbalik menghadap Melisa.
Plakk
Satu tamparan melekat dipipi putih melisa.
"Sekali lagi kamu menyakiti istriku. Kamu akan tau akibatnya."
"Ray kamu! Hanya karena wanita ini kamu sampai berani menamparku?" Isak Melisa sembari mengusap pipinya yang sakit terkena tamparan lelaki yang begitu ia cintai.
"Sangat disayangkan Rayyan Adhiwitama seseorang yang terkenal lemah lembut tapi kini berubah seperti monster." Ucap Melisa dengan menarik bibirnya kesamping.
"Dan kamu." Tunjuk Melisa lagi kearah Fani.
"Ini semua gara gara kamu, kamu telah merebut dia dariku. Dan kamu yang telah membuat kekasihku jahat seperti ini, aku sangat membencimu. Dan jangan harap hidupmu bisa tenang setelah ini."
"Cukup Melisa" teriak Rayyan geram sembari mengepalkan kedua tangannya.
"Tampar. Ayo tampar aku lagi sayang, itukan yang kamu mau Hah?" Umpat Melisa sembari menunjuk pipinya.
"Ada apa ini? Tolong jangan bikin keributan disini, ini tempat umum, kalau kalian tidak mau berhenti saya terpaksa panggilkan satpam." ucap pemilik caffe tersebut karena salah satu karyawannya ada yang melapor.
"Tidak usah pak, terimakasih, kami juga akan segera pergi." Ucap Rayyan lalu meraih tangan Fani mengajaknya keluar dari caffe tersebut. Dan membiarkan Melisa seorang diri.
__ADS_1
"Heyy jangan pergi kalian" teriak Melisa.
Melisa kembali terisak mengingat apa yang dikatakan Rayyan beberapa menit yang lalu. Melisa diputuskan begitu saja oleh Rayyan. Ia tidak terima. Sehingga akan membalas atas sakit hatinya sekarang ini.