
Kanita berlalu dari ruangan itu. Sungguh hatinya belum bisa menerima sepenuhnya atas apa yang terjadi. Ia pergi ke taman rumah sakit untuk menenangkan diri.
Sementara didalam kamar rawat. Hanya menyisakan dua manusia yang kini saling diam. Meresapi apa yang selama ini mereka lalui.
"Kenapa kamu gak bilang kalau kamu hamil?" Tanya Dio menoleh dan menatap Kinan.
"Aku juga baru tau kalau aku hamil. Lagian juga kalaupun tahu duluan. Kamu gak bakal tanggungjawab kan?" Ujar Kinan membalas tatapan Dio.
"Setidaknya kamu untuk berhati-hati. Bayi kecil itu tidak berdosa." Ujar Dio.
"Untuk apa kamu peduliin dia. Dia adapun percuma karena ayahnya gak mau tanggungjawab."
"Sejahat-jahatnya aku. Aku gak setega itu sama anak kecil. Aku bisa mengurusnya meski gak menikahi ibunya."
Lalu Kinan membuang pandangannya sambil menyeka sudut matanya. Begitu tak berhargakah ia dimata Dio.
"Sudah cukup. Kalau kamu terus-terusan ingin menyalahkan aku. Silakan keluar dari ruangan ini." Ujar Kinan sambil jari telunjuknya terhulur mengarah kepintu. Namun wajahnya tetap memalingkan padangannya.
"Baik. Aku harap kita gak usah bertemu lagi. Dan aku pastikan ini yang terakhir kalinya. Sudah cukup aku menderita karena ulahmu. Aku kehilangan wanita yang sangat aku cintai." Ujar Dio. Kemudian ia keluar meninggalkan Kinan seorang diri.
Sementara itu. Rayyan sudah berada direstorannya setelah mengecek rumah yang akan dia beli untuk ditinggali dengan sang istri tercinta. Ia berencana akan memberitahu Fani juga sang mertua dalam waktu dekat ini.
Drrrtt
Drrrtt
Ponsel Rayyan berdering. Dan disana tertulis nama sang istri. Rayyanpun tersenyum. Lalu segera mengangkatnya.
"Hallo sayang Assalaamu'alaikum." Ucap Rayyan.
"Waalaikumsalam mas."
"Mana sayangnya?"
"Ihhh emang harus ya?"
"Ya harus dong. Supaya mas tau kalau istri mas ini cinta sama mas." Kekeh Rayyan.
"Semalamkan sudah dibuktikan."
"Masih kurang. Ayoo bilang sayang."
"Iya sayang." Kekeh Fani.
__ADS_1
"Gitu dong. Mas kan senang dengernya."
"Udah ah mas. Aku telepon juga ingin minta ijin sama mas. Aku udah janji mau datang ke acara ulangtahunnya tante Shera ibunya Nindy. Ini aku juga udah beli kado buat tante Shera."
"Jam berapa memangnya?"
"Nindy bilang sih sekitar jam duaan."
"Yasudah mas ijinkan. Tapi janji. Setelah acara selesai langsung pulang ya? Jangan kemana-mana."
"Iya."
"Sayangnya?"
"Iya mas sayang." Kekeh Fani.
"Tunggu mas pulang kerja. Dan bersiap didalam kamar." Goda Rayyan.
"Au ah. Udah dulu ya Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam." Rayyanpun terkekeh mendengar jawaban istrinya. Karena selalu mengalihkan bahasan jika itu mengarah ke hal reproduksi. Ia tahu istrinya sangat malu. Makanya ia senang menggodanya dengan hal seperti itu.
Diluar terdapat seorang perempuan bertubuh seksi. Ia membuat keributan karena memaksa untuk bertemu dengan sang pemilik restoran. Ya... dia adalah Melisa. Ia sengaja datang karena ingin bertemu dengan Rayyan.
Sedangkan Rayyan jika sudah didalam ruangannya. Tidak boleh ada satupun yang mengganggunya. Kecuali hal darurat dan sangat penting.
"Apa hakmu memarahi karyawanku? Siapa kamu?" Tanya Rayyan yang sudah mendekat dan berdiri dibelakang Melisa.
Melisa membalikkan badannya mendengar siapa yang bicara barusan. Ia pun segera menghampiri Rayyan dan tangannya terentang untuk memeluknya. Namun Rayyan memberikan kelima jari tangannya. Sebuah isyarat agar tidak memeluknya. Memeluk suami orang.
"Untuk apa kamu datang kesini?" Tanya Rayyan menatap Melisa yang kini wajahnya berubah sendu.
"Aku hanya ingin ketemu kamu Ray. Aku siap untuk jadi yang kedua. Asal aku bisa bersama sama kamu." Ucap Melisa sendu.
"Itu gak mungkin."
"Aku janji. Aku gak akan minta kamu untuk pisah sama istri kamu."
"Meskipun aku belum menikahpun. Aku gak akan menikahi kamu."
"Sebenci itukah kamu sama aku. Padahal aku gak salah. Kamu jahat Rayyan kamu jahat." Teriak Melisa.
"Ya aku jahat. Terus kenapa kamu masih saja ngejar aku." Tekan Rayyan.
__ADS_1
"Karena aku begitu mencintai kamu." Ucap Melisa dengan nada tinggi.
"Itu ambisi bukan cinta. Seorang yang ingin memiliki dengan cara apapun, itu namanya ambisi. Cinta itu jika melihat orang yang dia cintai bahagia. Ia juga akan ikut bahagia. Meski orang itu bersama orang lain." Ujar Rayyan.
"Aku tak peduli itu. Aku akan tetap melakukan segala cara apapun itu." Ucap Melisa menyeka sudut matanya. Iapun berlalu dari hadapan Rayyan.
Rayyan tak peduli akan tindakan apa yang akan dia terima dari Melisa. Ia hanya ingin mengenang kebersamaan manis dengan istrinya. Ia pun meraih ponsel lalu menghubungi sang istri. Namun tak juga diangkatnya. Rayyan mengerti mungkin Fani sedang sibuk dengan acara ulangtahun ibu temannya tersebut.
Rayyan pun memilih pergi kesebuah toko bunga untuk dia kasihkan kepada sang istri. Mengingat kemarin gagal. Maka hari ini iapun membelinya lagi. Lalu setelahnya. Ia pergi ke sebuah tempat perbelanjaan. Berniat membeli hadiah untuk sang istri. Sebuah gaun untuk dinas malam. Namun pada saat ingin memasukinya. Rayyan bertabrakan dengan seorang lelaki berwajah putih dan memiliki tubuh lebih pendek dari Rayyan. Ia adalah Dio. Dan Rayyan mengetahuinya. Apalagi ia pernah memergoki sang istri bersama dengan lelaki dihadapannya.
Sehingga bunga itu kembali terjatuh. Dan Rayyan dengan segera mengambilnya kembali.
"Kalau jalan hati-hati doong." Ucap Dio.
Rayyan memilih untuk tidak berdebat. Dan meninggalkannya begitu saja. Ia ingin tau, Dio mengenalinya atau tidak.
"Tunggu." Ucap Dio. Rayyan yang hendak melangkahpun ia urungkan. Lalu kembali membalikkan badannya. "Apa begini seorang lelaki yang tidak tahu diri. Bukannya minta maaf. Tapi malah pergi seenaknya."
"Maksud anda?"
"Kamu yang salah. Jadi harus minta maaf." Ujar Dio.
"Tapi disini kita sama-sama lagi berjalan lalu tak sengaja bertabrakan. Jadi...impas bukan? Dan saya harus segera pergi."
"Saya tidak mau tahu. Kamu harus minta maaf." Ujar Dio. Namun sebuah foto terjatuh dari saku celananya saat ia mengambil sebuah ponsel karena ponsel itu bergetar.
Mata Rayyan menangkap siapa yang ada difoto tersebut. "Siapa dia?" Tanya Rayyan yang hatinya terasa diiris merasakan cemburu yang begitu dalam karena sang istri masih diinginkan lelaki lain, terlebih Dio adalah mantannya.
Dio baru tersadar bahwa foto itu terjatuh. Iapun segera mengambilnya lalu sempat memandangi foto itu dengan tersenyum, sebelum foto itu kembali kedalam saku celananya.
Melihat hal itu. Rayyan memalingkan pandangannya dan mengepalkan kedua tangannya.
"Kamu mau tau siapa dia? Dia adalah wanita tercantik. Wanita yang sampai saat ini aku masih mencintainya sampai kapanpun." UcapĀ Dio sambil melamun mengingat kenangan manis bersama Fani.
"Apa dia sudah bersuami?" Tanya Rayyan yang sebenarnya ia tengah mati-matian untuk tidak berbuat sesuatu terhadap Dio.
"Ya. Dia telah bersuami. Sayangnya aku tidak mengetahui siapa suaminya." Ucap Dio menoleh.
Sudah Rayyan duga bahwa Dio tidak mengenalinya. Tapi baguslah. Bahkan sampai kapanpun. Dio tahu atau tidak, itu gak penting.
"Lalu kenapa anda masih mengejar wanita itu? Dia berhak bahagia. Dan mungkin kalian gak berjodoh." Ujar Rayyan.
"Kenapa kamu yang jadi ngatur saya? Kamu siapanya?"
__ADS_1
"Saya hanya mengingatkan. Biasanya yang sudah-sudah. Bila mencintai istri orang, hidupnya gak akan tenang."
"Kamu jangan so' nasihati saya! Kalau bukan ditempat ramai. Sudah kuhabisi kamu."