Berawal Dari Keterpaksaan

Berawal Dari Keterpaksaan
Kedatangan Melisa


__ADS_3

Keesokan paginya, Rayyan bersiap untuk pergi bekerja, setelah usai sarapan, ia pun pamit pada sang istri.


"Mas, kerja dulu ya, nanti siang Mas balik lagi antar kamu ke rumah sakit untuk periksa ulang." pamit Rayyan.


"Iya Mas, hati-hati." jawab Fani.


Sebelum keluar. Rayyan mengecup kening istrinya sambil membungkukkan badan, karena Fani masih duduk dikursi roda.


Fani menatap kepergian suaminya. "Sampai kapan aku seperti ini." gumamnya pelan.


Tak berselang lama, ketukan dipintu terdengar. Membuat Fani memencet tombol otomatis yang ada dikursi rodanya agar jalan mendekati pintu.


Setelah pintu dibuka, terlihat berdiri seorang perempuan membelakangi dirinya. Lalu ia pun balik badan dan menatap tersenyum pada Fani.


Fani sampai menghela napas melihat siapa yang datang.


"Hai, bagaimana kabarmu Fani?" sapa Melisa dengan senyuman yang dibuat-buat.


"Untuk apa kamu datang kesini?" tanya Fani.


"Woooww so good, aku tanya apa, kamu jawabnya apa." kekeh Melisa.

__ADS_1


Namun Fani mundur dan hendak menutup pintu kembali lalu dicegah oleh Melisa.


"Tunggu sayang." kekeh Melisa tersenyum. "Aku datang kesini untuk menagih jawabanmu, bagaimana? Bersedia punya adik madu?" tanyanya.


"Kalau hanya ingin tau soal itu, baiknya kamu pergi sekarang juga, jangan pernah datang lagi kesini." timpal Ajeng.


"Lalu, apa kamu tega membiarkan suami kamu sendiri tersiksa karena kebutuhan biologisnya tak terpenuhi?" tanya Melisa.


"Itu bukan urusanmu, urus saja hidup kamu sendiri yang bisanya mengganggu kehidupan orang lain." tekan.


"Sudah mulai berani kamu ya!" umpat Melisa.


"Apa yang harus aku takutkan dari kamu?"


"Lalu? Apa yang akan kamu lakukan padaku?" Fani menantang.


"Rasakan ini." seketika Melisa mendorong kursi roda itu membuat Fani jatuh tersungkur.


"Hahahaha." Melisa tertawa dengan cukup keras.


"Lihat! Kamu sendiri memang lemah Fani, bisa apa kamu yang hanya duduk dikursi roda setiap hari, lalu beraninya kamu menantang aku dan tidak takut sama aku? Hah?"

__ADS_1


Fani berusaha untuk tetap tegar, tidak menangis didepan Melisa, padahal ia sendiri sesak. Karena Melisa benar, ia tidak bisa melakukan apa-apa selain menyusahkan.


"Ayo berdiri, bisa gak?" tantang Melisa.


"Diam kamu." Fani berteriak. "Pergi kamu dari sini sekarang juga, pergi."


"Baiklaaahhh aku akan pergi, tapi setelah aku bertemu Rayyan."


"Dia sudah pergi." bentak Fani.


"Apa aku harus percaya?"tanya Melisa. "Rayyan sayang, dimana kamu sayang? Aku Melisa datang, siap untuk kamu, untuk memenuhi kebutuhan biologis kamu." panggil Melisa.


"Pergi Melisa." kembali Fani berteriak dengan napas menggebu.


"Oke, kurasa suami kamu memang sudah pergi, aku akan menemuinya sekarang, palingan ke restonya." ucap Melisa lalu melangkah pergi dari sana.


"Mas, apa kamu akan bertahan denganku? Sementara Melisa semakin gencar untuk mendekatimu. Apa kamu akan kuat saat didekati dia? Apalagi Melisa itu memang cantik dan seksi. Apalah aku yang memiliki wajah dan tubuh tak seindah dirinya." gumam Fani tak percaya diri.


Sementara itu. Melisa mendatangi resto milik Rayyan. Ia masuk dan langkahnya langsung tertuju pada ruangan milik Rayyan. Para karyawanpun sudah tidak berani karena jika dilarang pasti akan bertindak brutal seperti yang sudah-sudah.


Karena yang berani pada Melisa hanya Kinan seorang, tapi dia dibagian dapur, jadi tidak tau akan kedatangan Melisa.

__ADS_1


Gadis itu pun masuk, dan langsung memeluk Rayyan dari belakang yang sedang membelakanginya karena sedang berdiri mengambil berkas yang ada dilemari.


__ADS_2