
"Mas punya sesuatu buat kamu".
"Apa itu?".
Rayyan berjalan kebelakang Fani. Kemudian ia ambil kotak merah itu dari dalam saku celananya. Lalu sebuah untaian kalung berwarna putih yang sangat cantik itu Rayyan perlihatkan didepan mata Fani. Lalu Rayyan kenakan dileher sang istri dengan menggeser rambutnya ke sisi. Kemudian dirapikan lagi rambut itu. Ia kecup rambut Fani dari belakang dan tangan itu kembali memeluknya dengan erat.
Fani meraih kalung itu yang ada dilehernya. Ia menundukkan kepalanya. Melihat kalung yang dipakaikan sang suami. Sungguh hatinya saat ini merasa bahagia. Kebahagiaannya kali ini terasa datang bertubi-tubi setelah ia mau menerima suaminya karena memang hatinya sudah terkunci oleh sesosok suami yang sangat baik itu.
Fani kecup kalung itu sambil memejamkan matanya. "Makasih sayang. Kalung ini sangat cantik. Aku begitu menyukainya".
"Seperti kamu yang selalu tampil cantik dimataku".
"Aku sangat bahagia mas. Sangat bahagia". Ujar Fani berbinar. Tak kuasa menahan rasa harunya mendapatkan suami yang begitu menyayanginya.
"Aku pastikan kamu tidak akan menangis lagi karenaku. Aku sayang kamu istriku".
"Aku juga sayang kamu mas. Sangat sayang kamu". Keduanya kini menatap dari pantulan cermin dengan saling tersenyum menatap wajah pasangan keduanya.
Fani membalikkan badannya. "Udah ah mas, sayang sayangan aja gak akan kenyang. Ayo sarapan dulu. Aku udah buatkan nasi goreng special hanya untuk suamiku tercinta". Ucap Fani sambil meraih tangan Rayyan mendekati meja untuk sarapan. Tapi justru Fani yang ditarik suaminya. Hingga keduanya tak ada jarak dan saling pandang.
"Sejak kapan istriku ini mencintai suaminya?"
Fani yang ditatap sedemikian rupa oleh suaminya itu pun menelan paksa salivanya. Sungguh kali ini dia baru menyadari akan pesona suaminya ini.
"Sebenarnya belum lama ini sih. Tapi aku baru menyadarinya semenjak kamu bertemu perempuan itu. Aku.... benar benar cemburu". Ucap Fani menunduk.
"Hikmah dibalik pertemuan". Kekeh Rayyan.
Fani seketika mengangkat wajahnya menatap Rayyan "Jangan bilang mas mau ketemu dia lagi. Alih-alih agar dapat hikmah lagi". Cebik Fani yang dibalas ketawa oleh suaminya.
"Iihh mas ini. Lagi serius juga". Fani memanyunkan bibirnya.
"Lagian istriku ini ada-ada saja. Udah yukk sarapan. Tapi suapin ya?" Kekeh Rayyan.
"Udah gede disuapin".
"Sebelum istriku ini suapin malaikat kecil. Jadi yang gedenya dulu". Kekeh Rayyan merangkul sang istri.
Keduanya kini menikmati sarapan. Dan Rayyan ingin sarapan kalau istrinya yang nyuapin. Benar benar hari yang sangat bahagia bagi keduanya.
***
Pagi sekali Kanita sudah berada dirumah sakit. Karena Dio memberitahukannya selepas subuh. Dengan langkah cepat wanita yang memiliki kisaran umur empatpuluh lebih itu berjalan menghampiri kamar yang dimana anaknya kini dirawat.
__ADS_1
Ia melihat Dio disana masih terlelap dikursi penunggu. Lalu ia pun membangunkannya.
"Tante". Dio langsung bangun melihat Kanita yang sudah berada dihadapannya.
"Bagaimana keadaan Kinan Di?"
"Tadi sih masih belum juga sadar. Maaf tante aku ketiduran. Jadi belum sempat melihat Kinan lagi."
Suster, lalu melintas dihadapan mereka dan hendak membukakan pintu kamar rawat Kinan.
"Sus." Panggil Kanita berjalan kearah suster tersebut. "Boleh saya masuk?" Tanya Kanita yang justru melihat suster itu menoleh tapi hanya diam saja sambil mengerutkan dahinya.
"Saya ibunya Kinan. Pasien yang ada didalam."
"Baik. Silakan." Ucap suster tersebut. Mereka pun memasuki kamar itu lalu terlihat Kinan menatap kearah ibunya. Sedangkan sang suster menyiapkan kembali cairan infus karena sedikit lagi akan habis.
Kanita berhambur memeluk Kinan. "Apa yang terjadi sama kamu Kin? Kenapa bisa ada dirumah sakit?"
"Aku gak apa-apa kok bu. Mungkin cuma sedikit stres saja. Dikira aku sendirian saja disini. Karena sejak tadi aku sadar. Tidak ada siapa-siapa, selain para suster yang berjaga."
"Setres karena apa? Karena lelaki yang masih ada diluar? Tanya Kanita sambil memejamkan matanya. Begitu tergila-gilanya anaknya ini pada lelaki seperti Dio.
"Maksud ibu siapa?"
"Maksud ibu? Dio? Dia disini? Dia juga kan bu yang bawa aku kesini?" Tanya Kinan. Sang ibu hanya diam saja.
Ada rasa senang dalam hati Kinan ketika tau Dio setia menunggunya meskipun diluar. Ia pun tersenyum.
"Sudahlah Kin. Ibu sudah bilang lupakan dia. Jangan ingat ingat lagi tentang dia." Titah sang ibu.
"Gak bisa bu. Gak mungkin."
"Kenapa gak mungkin Kinan. Dia lelaki plin plan gak punya tujuan. Selama ini apa? Dia belum kasih kepastian sama hubungan kalian." Tekan Kanita.
"Ibu gak akan faham."
Baru saja Kanita ingin bicara lagi. Namun Dokter tiba diruangan mereka. Dan mengecek kesehatan Kinan.
"Kondisi pasien sudah cukup membaik. Hanya saja..... Dia mengalami keguguran. Dan harus menjalani kuretasi siang ini juga."
Kanita yang mendengar pemaparan sang dokter itu pun sangat syok. Ia memegangi dadanya yang terasa sesak. Begitu juga Kinan ia terkejut. Karena memang tidak tau kalau dirinya tengah hamil. Apalagi memang ia tidak merasakan gejala ibu hamil pada umumnya. Ia melihat sang ibu meluruh diatas kursi. Rasa bersalah pada ibunya kini menyeruak kedalam relung hatinya. Sehingga ia tak kuasa menahan tetesan air didalam matanya.
Dokter yang melihatnyapun cukup tau dan mengerti apa yang dialami mereka saat ini. Dilihat dari ekspresi mereka. Apalagi data Kinan yang belum memiliki suami. Terlihat dari KTPnya.
__ADS_1
"Ibu yang sabar. Anak ibu hanya sedang khilaf." Ujar sang Dokter sambil memegangi bahu Kanita. "Saya juga ingin bicara sama ibu. Mari ikut keruangan saya."
Dokter itu pun keluar dan diikuti Kanita dibelakangnya. Sementara Kinan hanya menatap wanita yang melahirkannya sampai pintu itu tertutup rapat.
Dio masih berdiri disana. Dan menatap sang Dokter dan juga Kanita. Ia menghampiri keduanya menanyakan keadaan Kinan. Dan Dokter itu pun menjelaskan kalau Kinan baik baik saja. Sementara Kanita. Menatap Dio dengan tatapan sinis. Ia sudah menduganya bahwa lalaki yang telah meniduri anaknya yaitu Dio. Tak sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Hingga keduanya tiba diruangan sang dokter.
"Mari ibu silahkan duduk." Lalu keduanya duduk.
"Begini bu. Dari pemeriksaan yang saya lakukan. Kinan memang hamil. Semalam saya melakukan USG untuk mengetahui bagian dalam perutnya karena dia saat datang kesini mengalami pendarahan. Tapi justru ada letak janin, usianya kira-kira duabelas minggu. Tapi nyatanya janin tersebut sudah tidak bisa diselamatkan. Jadi dengan terpaksa anak ibu harus menjalani kuretasi." papar sang Dokter.
"Lalu apa yang membuat anak saya bisa keguguran Dok? Padahal selama ini terlihat baik-baik saja."
"Mungkin dari pikiran. Bisa saja anak ibu stres memikirkan bagaimana kalau memang hamil. Sementara anak ibu pun sepertinya tidak tau kalau dia tengah hamil." Ujar sang Dokter.
Kanita menganggukkan kepalanya. "Baik kalau begitu lakukanlah Dok. Jika memang itu demikian. Yang penting anak saya lekas sembuh. Bagaimanapun dia darah daging saya. Terlepas apa kesalahan yang dia perbuat." Ucap Kanita sambil menyeka sudut matanya. "Saya juga minta pak Dokter untuk merahasiakan semua ini." Mohon Kanita sambil mengatupkan kedua tangan didepan dadanya.
"Baik ibu. Semoga ibu kuat. Dan bisa menjalani semua ini dengan sabar dan ikhlas. Tapi......"
"Tapi apa Dok?"
"Ada sedikit luka dilehernya seperti bekas cengkraman tangan. Maafkan saya, harus kasih tau hal ini. Supaya ibu lebih berhati-hati lagi siapapun yang dekat dengan anak ibu." Ujar sang Dokter.
Lalu Kanita pamit undur diri dari ruangan itu. Dan kembali menuju ruangan yang dimana anaknya itu berada.
Lalu Kanita membuka pintu. Terlihatlah disana dua pasang mata yang saling mengobrol. Kanita menghampiri mereka. Lalu...
Plakk
Sebuah tamparan keras tepat mengenai pipi lelaki yang ada disamping Kinan.
"Kamu kan? Yang membuat Kinan hamil?" Tanya Kanita dengan penuh emosi.
"Ap...apa? Kinan hamil?" Dio terkejut. Dan menoleh pada Kinan.
"Ya. Dan kenapa kamu lakuin itu Dio. Kenapa?" Teriak Kanita sambil memegangi dadanya. Dan hampir saja limbung. Jika Dio tak membantunya untuk berdiri.
"Lepasin." Teriak Kanita sambil tangannya menjauhkan tangan Dio dibadannya.
Kinan hanya bisa menangisi keadaan. Ia terus terisak tak tau harus berbuat apa. Karena memang semua salahnya.
"Maafkan Kinan bu. Ini semua salah Kinan. Dio gak salah. Tapi Kinan bu. Dan Kinan akan jelaskan semuanya." Ujarnya dengan isakan.
"Karena ulahnya. Kamu masih saja membela lelaki ini Kinan. Padahal kamu hampir saja dibuat mati olehnya." Ucap kanita menoleh kearah Kinan. "Dimana hati nurani kamu. Ibu kecewa sama kamu Kinan."
__ADS_1
"Lalu kamu Dio." Tunjuk Kanita. "Seorang lelaki baik-baik tidak akan menyakiti seorang perempuan. Sekaligus wanita itu tidak dicintainya. Dan kamu sudah membuktikannya. Bahwa kamu tidak layak untuk anak saya. Kalau saya punya uang, sudah pasti sayapun melaporkan kamu kepolisi atas tindakan kamu terhadap anak saya. Lihatlah dilehernya masih berbekas tanganmu. Lelaki yang tidak tau diri. Sudah menodai, tapi juga berani mau membunuhnya. Tapi kamu harus bersyukur karena masih aman untuk saat ini. Tapi jika terulang lagi. Kamu akan tau akibatnya." Ujar Kanita.