Berawal Dari Keterpaksaan

Berawal Dari Keterpaksaan
20. Perkelahian dan Romantisnya Pasangan Suami Istri


__ADS_3

"Sebuah permintaan yang percuma." Balas Dio sambil menarik sudut bibirnya kesamping.


"Silakan saja jika kamu ingin merebutnya dariku. Karena aku yakin Fani tak akan bisa jauh dariku karena dia sudah sangat mencintaiku." Rayyan kembali mendekat.


"Hhhh omong kosong." Cebik Dio.


"Tapi itu kenyataannya." Jawab Rayyan tersenyum.


"Aku percaya kalian sampai saat ini belum pernah melakukannya. Jadi siap-siap saja untuk patah hati jika berhasil aku rebut kembali."


"Bagaimana jika sudah melakukannya berulang kali?" Kekeh Rayyan.


"Fani tak akan mungkin mau dengan lelaki sepertimu." Bentak Dio.


"Kami sudah menikah hampir dua bulan. Menurutmu? apa kami tahan untuk tidak melakukannya? Bahkan saat aku pulangpun....." Rayyan menggantungkan kalimatnya. "Dia sangat menggoda sekali." Bisik Rayyan ditelinga Dio.


"Kurang ajar." Bentak Dio. Sebuah pukulan tepat mengenai pipi sebelah kanan Rayyan


Rayyan terjengkang kebelakang. Ia usap pipinya. Lalu bangkit memukul balik Dio tepat mengarah ke hidung, sehingga hidung Dio sedikit mengeluarkan darah.


Lalu Dio melayangkan tinju tepat mengenai perut Rayyan. Rayyan pun terbatuk karena pukulan yang cukup keras. Pengunjung disana berlarian menghindari perkelahian yang mereka lakukan.


Rayyan tak peduli dengan pengunjungnya. Karena emosi telah merasukinya pada lelaki dihadapannya.


Perkelahianpun sudah tidak terelakkan lagi. Keduanya saling adu tinju. Tak peduli dengan rasa sakit disekitar tubuh mereka. Sakti yang sedang ada diruangan Rayyanpun dipanggil oleh karyawan memberitahukan ada keributan didalam caffe. Ia pun segera keluar.


Sakti yang melihat perkelahianpun mendekati keduanya lalu berusaha melerainya. Rayyan berhasil diamankan Sakti. Sedangkan Dio diamankan karyawan laki-laki lainnya.


"Ada apa ini Ray? Kamu kenal dia?" Tanya Sakti lalu menoleh pada Dio yang mengusap ujung hidungnya karena masih mengeluarkan darah.


Sedangkan Rayyan terlihat kebiruan dipipi kanannya. Juga sudut bibirnya sedikit mengeluarkan darah.


"Urusan kita belum selesai." Tekan Dio kemudian berlalu meninggalkan caffe tersebut.


"Ayo kita keruangan." Ajak Rayyan berjalan lebih dulu dan Sakti langsung mengikutinya dari belakang.


"Masalah dengan Melisa saja belum kelar. Kamu sudah buat masalah lagi. Siapa sih dia?" Tanya Sakti menggelengkan kepalanya. Lalu mengambil kotak P3K untuk mengobati Rayyan.


"Biar aku sendiri." Rayyan membuka kotak P3K itu. Kemudian mongobati lukanya.


"Kamu kali ini harus beneran hati-hati pada siapapun. Aku mengira ini ada hubungannya dengan istrimu." Sakti menerka-nerka. Ia masih berdiri disamping Rayyan.


"Kamu benar. Aku harus lebih berhati-hati lagi." Ucap Rayyan sambil menaruh kotak P3K yang sudah selesai ia pakai.


"Apa dia lelaki yang pernah kamu ceritakan padaku?" Tanya Sakti mendekat dan duduk disisi Rayyan.


"Iya, dia Dio lelaki yang sampai saat ini masih menginginkan istriku." Ucap Rayyan getir.


"Lalu apa rencanamu?"


"Aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil istriku juga merusak rumahtanggaku yang susah payah aku bangun." Rayyan menatap kosong.


"Baiklah, dan memang itu yang harus kamu lakukan. Tapi kamu masih ingat kan? Malam- malam kesini mau apa?"


"Iya. Mana berkasnya?"


Sakti mengambil berkas yang dibutuhkan Rayyan dan diberikan langsung padanya. Lalu berkas itu dibaca terlebih dahulu kemudian ditandatangani oleh Rayyan.


"Kamu sekarang jadi asistenku saja. Bukan lagi managerku." Tukas Rayyan sambil menyerahkan berkas yang sudah ia tandatangani.

__ADS_1


"Lalu siapa yang akan menggantikan kursi manager itu?"


"Kamu tolong rekomendasiin siapa saja yang berhak mendudukinya. Dan aku pamit pulang takut istri nungguin." Rayyan beranjak dari duduknya.


"Baik. Tapi nungguin untuk apa?" Tanya Sakti.


"Kamu ini, makanya nikah biar tahu." Kekeh Rayyan sambil menepuk bahu Sakti. Lalu keluar.


"Sialan." Umpat Sakti. Yang sekarang sendiri diruangan itu, kamudian ia juga bergegas untuk pulang.


"Nak Rayyan habis darimana malam-malam begini?" Tanya Wahyu melihat sang menantu masuk kedalam rumahnya.


"Lho itu muka kenapa babak belur begitu?" Tanya Wahyu lagi.


"Ada kerjaan yang tak bisa ditunda pak, jadi aku ke tempat kerjaan.. tapi sekarang sudah selesai. Ini cuma terjatuh pak tapi gak apa-apa kok." Ucapnya sambil memegang luka disudut bibirnya.


"Jatuh gimana? Kok sampai parah begitu?"


"Bukan apa-apa kok pak." Tukas Rayyan yang dibalas anggukkan kepala oleh Wahyu. Ia tahu menantunya ini tidak ingin semua orang tau dan merasa sedih. Jadi iyakan saja.


"Bapak belum tahu nak Rayyan kerja apa memangnya? Maaf jika selama ini bapak terlihat cuek, karena pekerjaan menantu saja tidak tahu." Katanya merasa tak enak hati.


Sengaja mengalihkan pembicaraannya.


"Tidak apa pak. Aku bekerja disebuah resto."


"Sebagai apa? Maaf jika bapak lancang."


"Sebenarnya resto yang aku tempati sekarang resto milikku pak. Ahh bukan. Lebih tepatnya milikku dan juga Fani." Tukas Rayyan tersenyum.


"MasyaaAllah. Bapak baru tahu ini." Raut wajah Wahyu berbinar bahagia.


Lusi kemudian datang. Ia dari tadi didapur. lalu bertanya pada suaminya karena raut wajah suaminya terlihat bahagia. Kemudian Wahyu menceritakan apa yang tadi disampaikan Rayyan. Namun tidak memberitahunya kalau menantunya ini babak belur. Keduanya kini sama-sama merasa sangat bahagia dan tidak salah mereka menjodohkan Fani denganRayyan.


"Sayang." Ucap Rayyan yang menemui istrinya didalam kamar. Tapi Fani yang lagi duduk diatas sofa tidak menoleh dan malah terlihat cemberut.


"Kenapa istriku ini? Kok cemberut?" Rayyan mendekat dan duduk disampingnya.


"Lama." Rengek Fani menunduk.


Rayyan mengulumkan senyum lalu mendekapnya erat. "Kan aku kerja juga demi kamu sayang."


"Iya tapi lama."


"Yaudah. Mas harus apa biar kamu gak ngambek lagi?"


"Gak tahu." Fani masih menunduk.


"Atau..." Ucap Rayyan sambil tangannya menyentuh bagian sensitifnya.


"Ihhh.." Fani mendorong tubuh kekar suaminya.


"Mandi dulu sana lalu sholat." Fani mengangkat wajahnya. Iapun terkejut dengan wajah Rayyan.


"Wajahmu kenapa Mas?" Tanya Fani sambil tangannya memegang luka diwajah Rayyan.


Rayyan tersenyum. "Tidak apa-apa sayang. Ini hanya luka kecil." Tangan Rayyan menggenggam tangan Fani yang ada diatas wajahnya.


"Tapi ini sakit lho Mas, aku ambil obat dulu." Fani beranjak hendak mengambilkan obat. Namun tangannya ditahan oleh tangan Rayyan.

__ADS_1


"Tidak usah. Disini saja." Rayyan menatapnya sendu. Sehingga Fani kembali duduk.


"Tapi ini sakit Mas."


"Lebih sakit lagi kalau kamu ninggalin aku."


"Kamu ngomong apa sih Mas?"


"Jangan tinggalin aku."


"Mas ada apa?"


"Janji?" Ucap Rayyan sambil jari kelingkingnya ia arahkan.


"Ia aku janji tidak akan meninggalkan kamu Mas. Aku sangat mencintaimu." Ucap Fani memeluk suaminya. Fani mengurungkan niatnya untuk tidak bertanya lagi dengan suaminya.


"Kalau begitu tunggu Mas ya. Mas mau melaksanakan tugas yang diberikan tuan putri ini. Tunggu kanjeng mas mu disini ya." Kekeh Rayyan sambil mengedipkan matanya.


Fani yang melihatnyapun tersipu. Lalu ia bangkit untuk mempersiapkan apa yang diinginkan suaminya.


***


"Bu. Aku besok mau cari pekerjaan." Ujar Kinan ketika sudah berada didalam kediamannya dan sudah merasa sehat. Ya Kinan sudah pulang dari rumahsakit sekitar tiga hari yang lalu.


"Kerja apa Kin? Tunggu pulih dulu." Ucap ibunya.


"Kerja apa aja lah bu. Yang penting Kinan dapat uang. Kinan sudah sehat kok."


"Ibu sih gak mau melarang kamu. Karena ibu juga dari dulu nyuruh kamu buat cari kerjaan, tapi kamunya tidak mau. Bukan ibu tidak sayang sama kamu Kin, tapi kamu juga harus lihat kondisi kita kayak gimana."


"Iya bu, maaf jika selama ini Kinan bandel gak mau menuruti ibu. Sekarang Kinan janji. Kinan akan menjaga diri Kinan sendiri." Ujar Kinan memeluk sang ibu.


"Masalah kemarin biar jadi pelajaran untukmu Kin, agar berhati-hati jika melakukan sesuatu. Jangan bertindak sesuka hati. Tapi pikirkan kedepannya juga." Ujar Kanita yang dibalas anggukkan kepala oleh Kinan.


Kini keduanya merasa lebih baik. Dan Kinan berjanji tidak akan mengejar lagi lelaki yang sampai saat ini tidak juga membalas cintanya.


Sementara itu didalam kamar. Rayyan dan Fani sudah merebahkan diri diatas kasur.


"Mas. Aku mau..." ucap Fani menoleh pada suaminya.


"Iya mas tahu." Balas Rayyan lalu bibirnya langsung mengecup bibir sang istri. Ia tak peduli dengan rasa sakitnya. Juga yang dimaksud Fani adalah Ia mau menanyakan soal foto itu lagi. Karena hatinya tak bisa berbohong. Mulut berkata tidak akan percaya pada siapapun. Tapi hatinya terus penasaran dengan foto itu.


Namun kini keduanya tengah melakukan aktifitas yang bahkan malam-malam sebelumnya mereka lakukan juga. Tidak ada rasa bosan, yang ada rasa ingin itu selalu membara dihati keduanya apalagi Rayyan seorang lelaki yang notabene cenderung ingin melakukannya tiap malam bila perlu.


Dan kini keduanya sudah selesai dan Rayyan merebahkan dirinya disamping Fani.


"Makasih sayang. Kamulah pelepas dahaga disaat aku lagi haus. Disaat aku lagi capek, dan disaat aku lagi pusing." Ujar Rayyan memeluknya. Ia selalu mengucapkan kata terimakasih jika selesai melakukannya.


"Memangnya ada masalah apa mas? Jujur aku masih penasaran kenapa kamu sampai babak belur begitu." Fani mengubah posisinya. Ia sekarang meringkuk menghadap Rayyan.


"Bukan apa. Hanya masalah pekerjaan."  Rayyan tak mau jujur.


"Masalah pekerjaan sampai babak belur seperti itu? Memangnya apa yang dipermasalahkan? Dan besok aku ikut ke kantor ya Mas?" Fani berpikir tidak akan datang atas permintaan Melisa untuk menemuinya.


"Hanya karena luka ini kamu jadi ingin ikut? Hmm? Makasih sudah perhatian." Rayyan tersenyum.


"Harus. Karena aku istrimu. Aku juga ingin tahu kamu kerja dimana."


"Baiklah kalau itu permintaan tuan putri. Tuan raja bisa apa." Kekeh Rayyan yang kini mereka mendekap dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2